Puisi dan Kata-kata Bijak

Rabu, 23 Mei 2012

Tuhan, Aku Ingin Mencintainya Dengan Sederhana



Tuhan, Aku Ingin Mencintainya Dengan Sederhana.

Sahabat yang baik,adalah sahabat yang sering sejalan dengan ku,
Dan menjaga nama baikku,ketika aku hidup,maupun setelah aku mati nanti,

Waktu seakan terasa cepat berlau meninggalkan sejuta kenangan yang terlalu berharga untuk dilupakannya, tak terasa ujian skripsi yang melelahkan dan menguras pikirannya akhirnya datang juga, seandainya ujian ini telah berhasil dilalui, berarti tinggal satu tahap lagi menuju gelar sarjana, ujian penentuan komprehensif. Tak terasa telah banyak beribu-ribu kisah yang telah ia lalui di kampus ini, baik suka maupun duka. Dia merasa tidak rela meninggalkan kampusnya tersebut, kampus yang telah banyak memberikan pengalaman-pengalaman baru yang amat berharga bagi dirinya. Ia tak rela meninggalkan semua ini, namun ia teringat perkataan seseorang sahabatnya yang pernah mengatakan:
 Inilah hidup, kita tidak akan pernah tau apa yang akan terjadi kemudian hari. Namun hidup terus berjalan, dan kita tidak bisa diam dalam satu titik. Bukankah kehidupan adalah sebuah perjalanan panjang yang sangat melelahkan” itulah kata-kata sahabatnya yang masih diingat atau mungkin akan selalu diingat dalam hatinya yang terdalam.
Dimas pun meilhat arloji yang melingkar di tangannya “Huh, sudah jam sebalas siang keluh Dimas seraya memandang-mandang kampusnya yang walau pun bangunannya tidak megah serta dapat dikatakan sederhana, namun di sini penuh dengan kehangatan dan keakraban, serta di sinilah tempat ia dan teman-temannya merajut mimpi. Hari ini Dimas akan menjalani ujian skripsi, atau satu tahap lagi sebelum menyandang gelar sarjana. “Ahhhh,...andai saja dia masih di sini, tentunya hari ini aku akan merasa ada semangat lebih untuk menjalani ujian skripsi ini....Ya, si cerewet. Bagaimanakah kabarnya kini?......Lala, temenku itu bernama Lala dan kami sudah tak bertemu selama satu tahun ini” batin Dimas sembari mengingat-ingat masalalu mereka. Ya, masalalu.
.Dia pun teringat beberapa tahun yang lalu ketika ia pertama kali mengenal Lala saat perkuliahan mata kuliah Fonologi, mata kuliah yang dosennya dikenal sangat disiplin. Setiap mahasiswa yang terlambat datang walau hanya 5 menit dilarang untuk memasuki kelas tanpa ampun, dan ketika itu mereka berdua terambat datang hingga merekapun tidak boleh mengikuti proses perkuliahan Fonologi hari itu. Dimas adalah senior yang baru mengambil mata kuliah tersebut. Dari hal tersebutlah mereka saling mengenal.
“Maaf kakak semester berapa yah? sepertinya buakan angkatan gue yah?” ujar Lala yang merupakan mahasiswa semester 2.
“Hahahaha,...saya senior kamu. Saya mahasiswa semester 4, kebetulan saya baru mengambil mata kuliah ini,...hehe” ujarnya dengan cengar-cengir.
Ohhh iya,....kenalin kak, nama gue Irsa Kumala, tapi lo bias panggil gue Lala aja” ujar Lala memperkenalkan diri pada Dimas.
“Wahhh,....anak Menado kayaknya nih dari logatnya...hehe” ujar Dimas sembari bercanda.
“Hahahahaha,....si kakak bisa aja bercandanya, asli Betawi dong,..” jawab Lala sambil senyum kecut.
Ohhh iya nama saya Dimas Prasetyo, panggi aja aku Dimas” ujar dimas sembari mengulurkan tangannya
Kamu asli mana kak Dimas?” tanya Lala
Aku asli Indonesia,....hahaha” berkata Dimas sambil tertawa.
“Ohhh asli Indonesia, gue kira asli Afrika kak,...hehe” cibir Lala sambil ikut tertawa.
“Iya deh gue asli Pemalang, tapi di sini ikut tante gue, kebetuan rumah tante gue di deket kampus ini jawabnya menirukan logot elo-gue Lala.
“Huhhh,...kok kak Dimas ikut-ikutan pake elo-gue nih, sinih bayar Royalti sama orang Betawi asli, melanggar Hak cipta itu,..haha” tertawa Lala yang merasa aneh mendengar Dimas yang orang Jawa asli menirukan logatnya.
Sebuah perkenalan yang sangat sederhana dan tak di sangka hubungan mereka pun menjadi semakin akrab, apalagi setelah ia tau bahwa Lala kos di dekat rumah tantenya tersebut, hampir setiap hari Lala bermain ke rumah tantenya yang hanya berjarak beberapa meter saja, untuk sekedar ngobrol, membantu tantenya memasak, ataupun untuk meminjam koleksi-koleksi komik Dimas yang kebetulan kolektor Komik Jepang tersebu. Kebetulan Lala pun juga seorang penggila komik sama sepertinya.
Mengenai kos Lala yang terletak di dekat rumah tantenya, Dimas pernah berfikir apakah itu sebuah kebetulankah, takdirkah atau sebuah jodohkah? Eits,..jangan salah mengartikan tentang jodoh dulu, bukankah jodoh tidak hanya soal pernikahan. Sebuah persahabatan, dan perjumpaan juga adalah sebuah jodoh yang diatur oleh Tuhan. Kalau mau dipikirkan, bukankah tempat kos begitu banyak di daerah sini, dan mengapa dia bisa kos di dekat rumah tantenya? Dimas sempat bertanya-tanya.
Hubungan mereka sangat akrab tidak seperti seorang senior dan juniornya, tapi lebih dari sekedar itu. Bahkan bisa dikatakan seperti ikatan persaudaraan. Dimas pun pernah mengunjungi rumah Lala beberapa kali saat libur semester di Jakarta Selatan, hinga keluarga Lala pun sudah menganal Dimas dengan baik. Dan Lala pun pernah mengunjungi rumahnya di Pemalang. Satu hal yang dia kagumi dari Lala dan keluarganya adalah bahwa Lala seorang anak pejabat tinggi, tetapi dia tak pernah memamerkan kekayaannya dan sombong dengan orang lain, begitu juga dengan keluarganya yang sangat hangat dan ramah dengan orang lain.
Bagi yang melihat keakraban dan kemesraan mereka pasti semua akan mengira mereka berpacaran, tapi hingga kini tak pernah ada di antara mereka yang mengatakan Cinta satu-samalainnya. Ya, cinta yang terpendam, mungkin inilah kata yang paling tepat utuk menggambarkan hubungan mereka.
Setelah seribu malam telah berlalu
Seribu mimpi pun musnah terkikis hampa
Mengapa seribu langkah mu menjauhi mimpi-mimpi
Mengapa  engkau telah menjauhi dirimu sendiri ,
wahai harapan
bukankah hidup adalah berharap,dan mengharap

Hay...bangun sudah siang tau, huh dasar kebo, katanya janji mau nemenin aku beli komik di Gramedia?” Gugah Lala sembari membuka horden dan menyipratkan air minum ke mata Dimas yang masih tertutup karna masih tertidur. Lala memang selalu masuk kamar Dimas tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Ya, seperti tadi yang dikatakan di awal cerita bahwa mereka berdua sudah seperti saudara. Tante Dimas pun tidak mempermasalahkan, karna tante Dimas yang tidak memiliki anak sudah menganggap Lala sebagai anaknya sendiri.
Ah elo La, buset pagi-pagi gini lo udah masuk ke kamarku aja. Gue baru bisa tidur nih, soalnya tadi aku nonton sepak bola di tivi “ berkata Dimas.
“Hahh pagi? ini udah siang loh kak Dimas !!”
“Udah siang? bukannya ini masih pagi La?” sambil mengucek-ngucek mata. “Ya ampun, iya udah jam sebelas, mana gue ada janji sama Desi lagi buat lari-lari pagi, hilang deh kesempatan gue buat pendekatan sama Desi anak Pertanian” berkata Dimas sambil mukanya yang masih lecek karna belum mandi, bertambah lebih lecek lagi karena mengingat akan hilangnya kesempatan mendekati cewek incarannya tersebut. Namun tanpa ia sadari, saat Dimas menyebut nama Desi, sejenak Lala pun terdiam.
“Ohhh Desi yang kemarin dikenalkan itu to..??” tanya Lala sambil manyun.
“Iya, kenapa kamu La? kok waktu gue ngomong Desi mukamu ditekuk kaya uang kertas  lecek aja,..haha” sindir Dimas.
“Tidak ada apa-apa kok” jawab Lala dengan gugup.
“Hayoo, jangan-jangan elo cemburu lagi nih,..haha”
“Enggak dong, aku kan udah nganggap kak Dimas sebagai pamanku,...haha” berkata Lala sambil nyengir kuda.
“Hahaha,....sialan gue dikira Paman lo, sinih kepalamu gue jitak” Dimas pun menarik tangan Lala dan siap menjitaknya.
“Bentar-bentar kak, ngomong-nomong kok logat bahasa kita ketukar yah, aku pake logat mbedog Jawa, dan kak Dimas pake logat elo-gue yah?” tanya Lala yang baru menyadarinya.
“Ohhh iya yah,...hahahahahaha” mereka pun menertawakan keanehan tersebut
Sembari tertawa Dimas pun tak sengaja mengarahkan pandangan ke sebuah poster tim Real Madrid yang terpampang begitu besarnya di kamar. Dan seketika itu Dimas ingat hal yang memilukan tentang kekalahan tim kesayangannya Real Madrid tadi pagi. Dia juga ingat kalo dia kemarin siang bertaruh dengan Lala, kalo Real Madrid tim kesayangannya kalah dari Barcelona, ia janji akan mentraktir Lala makan sepuas-puasnya di caffe “Niki Mawon” caffe tempat mereka tongkrong, begitu juga sebaliknya kalo Barcelona yang kalah Lala lah yang harus mentraktir.
“Ahhh jangan sampe Lala inget, mana dompet lagi tipis lagi,..hihihi” batin Dimas.
Walau pun mereka sama-sama mempunyai hobi baca komik, tapi untuk urusan sepak bola mereka mengidolakan tim yang berbeda. Dimas lebih menyukai tim Real Madrid, sedangkan Lala lebih menyukai tim Barcelona. Saking fanatiknya dengan tim masing-masing mereka pun sempat marahan berminggu-minggu karena bola.
Oh iya, gimana tadi pagi menang mana? solanya aku tadi ketiduran” Tanya Lala tak sabar.
Ahhhh sial, akhirnya kamu inget juga dengan taruhan kita,...huhh menang Barcelona 2:0” jawab Dimas dengan lesu.
Oho,..berarti kamu nanti teraktir aku dong, masih ingat kan dengan taruhan kita”  sambil menyikut lengan Dimas yang baru selesai mandi.
 Huh,...nyesel aku tadi bilang baru bisa tidur, gara-gara nonton bola di tivi sampe pagi, kamu jadi inget kita taruhan kemarin” jawab Dimas, seraya merapikan tempat tidurnya yang sudah seperti kapal pecah.
******
Sore ini sebelum ke caffe mereka berdua menuju toko buku tempat Favorit mereka terlebih dahulu, namun harapan Lala untuk di traktir oleh Dimas pun sirna, karna uang Dimas yang sudah tinggal pas-pasan buat ongkos pulang pun habis untuk membeli komik kesayangannya, dan pada akhirnya Lala lah yang malah mentraktir Dimas.
“Sering-sering aja yah La neraktir gue,...hahaha” tawa Dimas sambil senyum melihat Lala yang dari tadi manyun. Dan mereka berdua pun harus pulang jalan kaki setelah uang pas-pasan mereka habis buat beli komik dan makan-makan. Ya, Dimas tahu sebenarnya Lala masih punya banyak uang di ATMnya, kecil baginya untuk mengambil Jutaan rupiah, tapi itulah sifat Lala walaupun anak seorang pejabat tinggi namun dia adalah seorang yang sangat sederhana dan tidak sombong.
“Kak Dimas jalannya jangan cepet-cepet dong, capek nih..” teriak Lala yang lari-lari kecil karena tertinggal Dimas.
“Lari ahhhhh,...dasar Lele lamban” Dimas pun berlari bak pelari maraton.
“Huhhh dasar kak Dimas jahat namaku Lala bukan Lele, emangnya aku ikan apa, udah ditraktir malah ditinggal kabur, ngata-ngatain pula,...awas yah, tunggu pembalasanku” sambil mengajar Dimas yang sudah hampir sampai rumah.
Waktu pun terasa cepat berlalu tak terasa sudah satu tahun lebih mereka saling mengenal, namun entah kenapa akhir-akhir ini Dimas sudah sangat jarang berjumpa dengan Lala. Ya, Lala akhir-akhir ini menghilang bagaikan ditelan bumi. Pada suatu hari Dimas pernah berjumpa dengannya di sebuah jalan sekitar Rumah Sakit dan waktu itu Lala terlihat sangat lelah. Namun ketika ditanya mengapa dia terlihat lelah dan akhir-akhir ini dia jarang melihatnya, Lala dengan bangga mengatakan kalau kini dia sedang menjalankan bisnis pemasaran boneka dan bekerja paruh waktu di salah satu warnet. Lala juga mengatakan karna kesibukannya sekarang, dia meminta maaf kalau belum ada waktu untuk sekedar mampir ke rumah tante Dimas lagi dan dia pun sempat menitipkan salam untuk tante Dimas yang sudah menganggap Lala sebagai anaknya sendiri.
Banyak kesibukan-kesibukan yang telah memisahkan persahabatan mereka, Dimas bertekad akan fokus pada kuliahnya, sedangkan Lala yang memiliki sifat mandiri fokus pada bisnis dan pekerjaannya. Seandainya mereka bertemu di kampus pun mereka hanya sekedar tegur sapa, walaupun entah mengapa Dimas sudah sangat jarang melihat Lala di kampus lagi.
Dimas pernah bertanya pada teman satu angkatan Lala, namun sesuai dengan dugaannya, katanya Lala memang sudah sangat jarang masuk kuliah, apa yang sebenarnya terjadi? walau pun jarak rumah mereka berdekatan namun Dimas merasa segan untuk bermain ke kos Lala, apalagi kini Dimas tak lagi sendiri, kini ia telah berpacaran dengan Desi. Dan tentu hubungannya dengan Lala pun tak bisa seperti dulu lagi. Kini ada sebuah sekat yang memisahkan mereka, dan keakraban dengan Lala ditakutkan akan membuat Desi pacarnya menjadi terluka dan salah mengartikan.
Seseorang tidak akan tau apa yang dimilikinya,
Hingga,saat ia merasa sangat kehilangan nya

Di hati kecinya, Dimas sedang merasakan kebimbangan. Dia tak bisa membohongi hatinya. Dia memang tengah berpacaran dengan Desi, namun tak bisa dipungkiri ia sangat merindukan Lala. Ia merindukan canda-tawa, merindukan senyumnya, meridukan saat ia membaca komik bersama, dan segala hal tentang Lala memang selalu bisa membuatnya merasa senang dan bahagia. Dan tak beberapa lama melamun, ia di kejutkan oleh seseorang yang mengetuk pintu kamarnya hingga menyadarkan dari lamunan atas kebimbangannya.
Tok-tok-tok” suara pintu kamarnya terketuk dengan cukup keras dan ia pun menerka kira-kira siapakah yang mengetuk pintunya tersebut?, andaikan tantenya mengapa tidak langsung masuk saja, apakah Lala? Ahhh pasti tidak mungkin,...pikirnya
Iya sebentar yah jawab Dimas, dan ia pun membuka pintu kamar dengan perlahan-lahan. Dia tak tau harus terkejut, senang, atau terharu melihat seorang yang ada di hadapannya itu. Ia pun tidak dapat menggambarkan bagaimanakah perasaannya sekarang, ternyata Lala seorang yang selama ini di rindukan.
Hay,,,bolehkah saya masuk?” tanya Lala berlaga sopan.
“Ohhh,..silahkan masuk nona cantik pengusaha muda kita” jawab Dimas sembari tersenyum.
Oh,,,terima kasih tuan” mereka berdua pun tertawa bersama,
Hmmm yang sibuk bisnis sambil kerja dan yang sibuk fokus kuliah nih, jadi lupa sama sejarah,..haha” sindir tante Dimas yang muncul dari balik pintu.
“Ehhh tante, iya nih ponakan tante sombong banget kalo di kampus,..hehe” berkata Lala.
“Sembarangan, kamu juga,...huuuhhh dasar Lele” jawab Dimas.
“Namaku Lala, awas yah kalo ngomong Lele lagi,...hahaha”  dia pun melanjutkan kata-katanya “Ngak terasa sudah lama yah kita ngak tertawa berdua gini?” berkata Lala dengan mata sebam. Ya, memang sudah lama mereka tidak merasakan sebuah kebahagiaan seperti ini. Kebahagiaan yang dulu selalu diasakannya dan akhir-akhir ini hilang. Lala pun melihat sekelilng kamar Dimas yang penuh berserakan buku pelajaran, dan ia pun dapat menerka bahwa si pemilik kamar sedang belajar.
Kita keluar yuk Dimas, masa malam yang indah kaya gini dilewatkan dengan Cuma belajar terus di kamar sih, hitung-hitung refresing” ajak Lala.
“Kemana La?”
“Ada deh, yang pasti malam ini kita harus keluar dan menikmati malam yang indah ini dengan suka-cita, dan inget jangan ada duka yah?,...hehe”
“Kamu ngomong apa sih la?” jawab Dimas yang ngak paham dengan arah pembicaraan ini.
*****
Sesuai rencana awal Lala, malam ini Dimas pun bersedia meninggalkan kamarnya yang hangat untuk berinteraksi dengan dinginnya malam hari itu, mereka pergi bersama mencari hiburan, menonton bioskop, ke taman kota, dan makan di caffe favorit mereka. Namun kali ini Lala lah yang mendapat bagian mentraktir Dimas. Bercanda tawa bersama Lala memang membuat waktu berputar lebih cepat dari biasanya dan tak terasa saat ini sudah larut malam.
Sangat menyenangkan saling bercerita pengalaman-pengalaman unik mereka selama mereka tak bertemu, selama Dimas aktif di organisasi dan selama Lala menjalankan bisnis dan kerja di sebuah Warnet. Selalu ada hal lucu yang mereka ceritakan dari pengalaman mereka. Satu yang pasti ada dalam pikiran mereka, mereka sangat bahagia, dan ingin rasanya malam itu tidak pernah berakhir.
“Wahhh gak kerasa sudah sampai rumah, aku masuk dulu yah La..slamat malam Lala.” berkata Dimas ketika akan membuka pintu. Namun sebelum ia masuk pintu, suara Lala yang bercampur isakan air mata menghentikan langkahnya.
“Tunggu kak Dimas” berkata Lala lalu keheningan pun melanda malam itu.
“Ada apa La?” tanya Dimas.
“Mungkin ini terakhir kalinya aku berada di kota ini kak, karna besok pagi aku akan pulang ke Jakarta buat transit dan langsung terbang Singapura kak....aku ragu apakah suatu saat nanti kita bisa bertemu lagi”
“Singapura? berapa hari disana? terus kapan pulang kesini lagi La?” tanya Dimas yang terlihat mulai gusar.
Lala pun sejenak terdiam, ia terpaku menatap Dimas,....semilir angin yang melambai lembut malam itu pun serasa menusuk pori-pori malam itu, Ya, malam itu sangat hening....malam yang tidak ingin dijumpai mereka.
“Sudah lama aku menyimpan rahasia ini” berkata Lala yang di sambut oleh keheningan malam dan suara alunan jangkrik. “Aku mengidap kelainan jantung dan harus menjalani cangkok jantung di Sana, karna kemampuan medis di sini belum mampu” lanjut Lala berkata dengan mata yang berkaca-kaca.
“Kelainan Jantung? sejak kapan La” tanya Dimas dengan air mata yang mulai menetes di antara sela kedua pipinya.
“Sejak beberapa bulan ini” sejenak ia pun terdiam dan melanjutkan kata-katanya. “Sebenarnya aku berbohong waktu berkata bekerja paruh waktu dan bisnis boneka, yang sebenarnya terjadi, selama beberapa bulan ini aku terus-terusan berobat dan berkali-kali diopname di Rumah Sakit. Maaf bila selama ini aku telah membohongi banyak orang termasuk kamu dan tantemu”.berkata Lala sambil mengusap air matanya “Dan menurut dokter yang menanganiku, kesempatanku untuk hidup sudah sangat tipis kak, walau kemungkinan itu masih ada”.
“Kenapa selama ini kamu merahasiakan dariku? walaupun aku tak bisa membantumu, tapi setidaknya aku bisa membuatmu merasa tak sendiri, menemanimu dan menangis bersamamu” berkata Dika dengan nada tinggi.
“Jawabannya sederhana,...aku ngak mau membuat kak Dika sedih” jawab Lala, dan sejak kata-kata itu, mereka terdiam cukup lama sebelum Dika memecahkan keheningan
“Lalu bagaimana dengan kuliahmu?” tanya Dimas tak percaya.
“Entahlah kak,....saat ini aku sudah tidak memiliki impian lagi, seandainya ini pertemuan terakhir kita....”
“Tolong jangan katakan itu lagi, aku tak mau mendengarnya La, terima kasih untuk malam ini,....selamat malam Lala” Dika pun memotong perkataan Lala “Aku masuk rumah dulu” imbuh Dimas berkata dengan lesu dan tapapan kosong.
“Tunggu kak” ujarnya menghentikan langkah Dimas yang tinggal selangkah lagi memasuki rumah, “Aku ingin mengucapkan kata-kata yang mungkin ini merupakan kata-kata terakhir untukmu, semoga dengan kata-kataku ini bisa membuat kak Dimas tak sedih dan bisa melupakanku” berkata Lala dengan sebuah senyuman yang menggambarkan akan ketegarannya. Lanjutnya Semua ini adalah bagian dari kehidupan. Aku, kamu, kita dan mereka. Kita tidak akan pernah tau apa yang akan terjadi kemudian hari. Namun hidup terus berjalan, dan kita tidak bisa diam dalam satu titik. Bukankah kehidupan adalah sebuah perjalanan panjang yang sangat melelahkan”
Malam yang dipikirnya beberapa menit yang lalu sebagai malam terindah, kini menjadi malam paling suram dalam hidupnya. Ia pun menutup pintu dengan sisa tenaga dan memandang Lala yang berlalu melalui kaca jendela dengan setumpuk kesedihan.
“Semoga ini hanya mimpi,....semoga ini hanya mimpi,.....semoga ini hanya mimpi,.....semoga ini hanya mimpi” berkata Dimas berulang-ulang hingga terlelap. Namun saat dia terbangun hanyalah kenyataan pahit yang ada bahwa Lala memang telah pergi dari kota ini dan ini bukanlah mimpi, tapi kenyataan.
*****
Satu tahun berlalu,
Dimas pun tersadar dari lamunannya, tentang kenangannya beberapa tahun yang lalu. Ya, pagi ini ia telah menjalankan ujian skripsi, satu tahap untuk mendapatkan gelar sarjana. Jabatan tangan teman-teman Dimas hadir yang menyaksikan dari luar ruangan menyudahi ujian tersebut. Ujian skripsi addalah ujian yang tertutup dan hanya Dosen pembimbing dan Dosen penguji yang berada dalam ruangan dan Dimas pun dapat tersenyum lebar karena dia mendapatkan nilai A.
       “Dimas Prasetyo Adi, selamat yah” berkata Desi yang hadir di ujian skripsinya dan dari tadi menyaksikan dari luar.
         “Makasih Des... jawabnya sembari tersenyum. 
        “Oh iya ini ada titipan buat kamu dari seseorang” berkata Desi sambil mengulurkan tangannya yang membawa sobekan kertas yang terlipat.
        “Dari siapa ini?” tanya dimas yang terheran-heran.
        “Buka saja kamu pasti tau,..” jawab Desi sembari tersenyum-senyum.
Dan dia pun membuka sobekan kertas tersebut dan mambacanya:
        Buat kak Dimas.
       Selamat yah atas ujian skripsinya, satu rintangan telah terlewati, dan satu tahap lagi menuju gelar sarjana, Semangat !
        Dan lebih kaget lagi saat tau siapa pengirimnya. Dari sobekan kertas itu tertulis bahwa pengirimnya adalah Lala, seorang yang sangat dirindukannya, pandangan matanya pun sekilas tertuju pada jendela di ruangan itu dan melihat samar-samar Lala berdiri di depan tempat itu dengan senyum penuh kerahaman khasnya, namun ketika ia lari-lari kecil menuju tempat Lala tadi berada, ia sudah tidak ada di sana, apakah apa yang dilihatnya tadi hanyalah sebuah ilusi. Apakah sobekan kertas itu hanyalah kebohongan Desi?, dan Desi berniat mengerjai dirinya, karena dendam setelah diputuskan cintanya setahun yang lalu? entahlah.
Ia pun berjalan lesu meninggalkan ruangan tempat ujian skripsinya, dan tanpa ia sadari kini ia berjalan menuju kelas tempat pertama kali ia menganal Lala. Tiba-tiba ia pun berhenti dan perlahan-lahan memuka pintu kelas itu.
        “Ahhh,....sebuah kenangan lama. Ya, pasti apa yang dilihatnya tadi hanyalah ilusi, bukankah Lala sendiri yang mengatakan bahwa harapannya untuk hidup sudah tipis” Dika pun meninggalkan kampusnya dengan senyum karna mengingat kenangan indahnya bersama Lala.
*****
         "Aku ingin mencintaimu dengan sederhana...
Seperti kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu...
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana...
Seperti isyarat yang tak sempat dikirimkan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada..."
Itu adalah kata-kata cinta seorang Sapardi Djoko Damono dan aku tak ingin seperti Kahlil Gibran yang sampai akhir hidupnya ia tak mempunyai keberanian untuk mengutarakan perasaan kepada wanita yang sangat dicintainya, dan meninggal dengan rasa kecewa,..
“Dan aku pun seperti itu. Ya, namaku adalah Dimas, seorang yang tidak mempunyai keberanian untuk mengungkapkan perasaan dan kini menyesalinya”. pikir Dimas.
Hari ini Dimas tengah duduk menyendiri membaca dan memilih-milih buku di sebuah toko buku tempat dia dan Lala biasa membeli ataupun untuk melihat-lihat komik Jepang favoritnya. Namun akhir-akhir ini dia lebih senang membeli buku-buku novel dan motivasi. Baginya komik-komik Jepang hanya akan mengingatkan ia dengan Lala, bukankah dia harus berusaha melupakannya, walau kenangan-kenangan indah bersamanya tidak akan pernah terlupakan.
Entah kenapa menurutnya toko buku selalu bisa membuatnya melupakan sedikit kesedihan, masalah dan kepenatan. Menurutnya mengunjungi toko buku lebih menyenangkan dari pada menonton filem di gedung bioskop. Baginya toko buku selalu menghadirkan ketenangan walaupun banyak orang-orang yang berlalu-lalang di sini.
         “Maaf mau tanya, kalau mau nyari komik Zengki edisi terbaru di mana yah?” ujar seseorang yang berdiri di depannya dan membangunkan dari lamunannya.
         “Kalo Komik cari saja di belakang tempat ini...” jawab Dimas dengan pandangan mata yang masih tertuju pada buku yang sedang dibacanya. Namun dia merasa tak asing dengan suara itu dan perlahan-lahan menengadahkan kepala untuk melihat siapa lawan bicaranya tersebut, dan dia pun tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
         “Lala kamu sudah sembuh? kapan datang? dan bagaimana kabarmu? ahhh tidak ini pasti mimpi dan lagi-lagi aku pasti berhalusinasi” berkata Dimas dengan nada memburu.
         “Iya kak, ini aku, dan aku nyata bukan ilusi. Dokter telah berhasil melakukan pencakokan jantung, dan saya sudah dinyatakan sembuh oleh dokter...” berkata Lala dengan mata yang berkaca-kaca dan senyumnya yang khas.
         “Jadi apa yang aku lihat di ujian skripsiku..??” tanya Dimas tak kuasa menahan kegembiraannya.
         “Iya itu aku. Aku sudah  di kota ini sejak seminggu yang lalu” sejenak terdiam “Mulai semester depan aku akan kembali mulai kuliah dan kos di tempat yang dulu, rencananya aku pengim membuat kejutan buat kak Dimas” ujarnya dengan senyum yang mengembang.
         “Ahhh,..kamu La, ada-ada saja..” jawab Dimas yang sangat senang dapat melihat Lala kembali.
         “Kak Dimas, apa kamu pernah membaca sebuah syair dari sebuah buku Kumpulan Kata-Kata Bijak literatur penulis besar Indonesia??..Di situ ada sebuah syair yang sangat aku sukai”. Lala pun berkata dan kata-kata tersebut telah memecah rasa canggung yang hadir, karena mereka sudah lama tak saling bertemu.
         “Cintai aku dengan sederhana, maka aku akan mencintaimu penuh semesta” jawab Dimas dan Lala pun melanjutkan kata-kata tersebut.
         “Dan aku berharap orang yang mencintai aku dengan sederhana adalah kamu Dimas Presetyo Adi” berkata Lala dengan rasa malu-malu.
         “Jadi selama ini kita saling mencintai dan memendam perasaan kita?” tanya Dimas dengan langsung memeluk erat Lala.
         “Kak Dimas,...lepasin ahh, kan malu dilihatin orang-orang” berkata Lala.
         “Aku gak peduli, aku ngak mau kehilangan kamu lagi” setelah beberapa lama memeluk, perlahan-lahan Dimas melepaskan pelukannya dan berkata dengan berteriak
         “Lala aku sangat mencintaimu...!!!” sontak orang-orang yang berada di dalam toko buku itu pun terdiam dan mengarahkan pandangan ke arah mereka, dan mereka berdua pun tersenyum dan tertawa kecil setelah meninggalkan toko buku itu dengan bergandengan tangan.
-TAMAT-
Janganah sudah merasa berpuas diri terhadap sebuah keberhasilan,
Karna ujian yang sebenar nya akan hadir setelah itu  

Porwokerto,23 Mei 2012

Selasa, 15 Mei 2012

Puisiku




LANGKAH

2008
Langkahnya terasa berat
Ketika ia menggantungkan seribu mimpi,
Di atas angkasa
Semesta hari ini pun muram
Meratapi janjinya kepada pagi
Mengapa esok tak jua datang?

Ia duduk menyendiri diatas horizon semesta
Dalam dunianya yang hampa, dan tidak berbentuk
Semuanya tampak sama
Bahkan bumi pun dapat mendengar kepiluannya,
Mengapa ia menyendiri?

Bukankah ia adalah ratu pagi?
Bukankah ia adalah sang matahari?
Bukankah ia adalah seribu bintang?
Mengapa ia menyendiri?
Hanya ia yang dapat menjawab semuanya ini.



KERIDUAN

2007
Kutulis rangkaian kata
Kala hujan membasahi kotaku ini
Kota di mana engkau pernah menacapkan kisahmu,
Bersama langkahmu,
Yang pernah menapaki Setiap ruas jalan ini.
Kini jalan ini telah kau tinggalkan,
Untuk menggapai segenap mimpi-mimpimu

Bagaimanakah kabarmu pujaan?
Apakah di kotamu, hujan membasahi cakrawala malam ini?
Apakah kau tau, setiap sudut kota ini merindukan bayangmu?
Apakah kau tau malam ini aku terjaga, menanti pagi,
dan memandang cakrawala langit
Agar dapat memegang bayangmu?

Mengapa hari ini pagi tak kunjung datang dan mentari terbit kembali?
Karna, pagilah tempat harapan baru itu muncul dan kembali

Tetaplah engkau terhanyut dalam Duniamu,
Dan aku pun akan tetap dengan duniaku.



SEBUAH HARAPAN

2009
Dia adalah sebuah nama.
Dia terasing di dalam riuh dunia ini
Hanya dedaunan dan kicau burungah sahabatnya
Dan hanya kerikil tajam,
dan hamparan bumilah yang setia menemani langkahnya.
Namun,  jejaknya tak akan pernah terhenti
Meski bumi memberatkan langkahnya

Dia terus melangkah, dan terus melangkah
lalu bersenandung tentang sebuah harapan yang indah,
bermimpi akan sebuah cita-cita,
dan bertasbih akan Surga.



PENCERAHAN

2009
Hujan mengguyur pagi ini
Rintik hujan bagai kilauan mata pedang,
yang menghujam jantung bumi.
Adakah sebuah harapan?

Di dalam langit yang tanpa tiang ini
Warna pelangi membingkai angkasa,
dan pepohonan pun menjadi pena sang pencipta,
untuk melukis cakrawala.
Hingga kota tua ini pun seakan berwarna kembali,
bersama epos tentang kejayaan masalalu Negri ini.




SENJA
2007
Hari ini aku sendiri berkawan dengan waktu
Memandang pelita yang memisahkan kita
Saat ini hujan turun membasahi kotaku,
Apakah hujan pun membasahi kota mu?

Hanya senja inilah yang dapat kuberikan kepadamu
Sesungguhnya aku ingin menyeberangi samudra,
Melintasi cakrawala dan mendaki gunung tertinggi.
untuk berjumpa dengan dirimu,
namun aku tak mampu

Hanya senja inilah yang berhasil kudapatkan dari pencarianku.
Ketika kulihat di ufuk barat, langit mulai mengelabu
Dan mentari kulihat menghilang ditelan waktu
Dan bersembunyi di balik bumi
semoga dengan senja ini, engkau tak akan melupakan aku


SEBUAH NEGRI YANG KACAU
2009
Di sudut bumi yang kacau ini,
suara langit memudar tergantikan pekat malam
bangunan-bangunan pencakar langit pun runtuh tak tersisa
Seorang mencoba menggenggam rembulan,
memanah mentari dan membelah angkasa.
Namun yang didapatnya adalah bara,
yang menghanguskan sanubari

Di sudut bumi yang hampa ini,
setiap kenyataan adalah ilusi,
yang memudar, memudar....dan terus memudar,
hingga hilang terkikis oleh cengkraman jagad raya

Di sudut bumi yang tidak beradab ini,
seekor rajawali melintasi angkasa dan mencabik cakrawala
memecahkan harapan berjuta orang yang bermimpi

Waktulah yang menjadikan seekor rajawali haus akan kematian,
rindu akan kekuasaan
dan suara rintih ketakutan,
bagaikan sebuah nyanyian yang merdu baginya
Dan waktulah yang menjadikan sang cakrawala terbelenggu,
dan terinjak oleh angkuhnya cengkraman sang rajawali (Penguasa).

SEBUAH KENANGAN
2009
Telah lama kuhitung detik, menanti hari,
dan menunggu waktu berlalu, tanpa berjumpa dengan mu

Engkau menghilang bagaikan ditelan bumi
Membawa kembali cerita indah yang pernah kau berikan kepadaku

Sungguh aku ingin memandang dirimu kembali
Apakah embun pagi masih memuji kecantikanmu,
Apakah mentari masih selalu rindu untuk menyentuhmu

Sungguh aku ingin mendengar ceritamu,
cerita tentang hari-hari yang kau lalui selama ini
Dan menghirup udara pagi bersamamu,seperti saat itu

Namun aku takut,ketika penantianku telah berakhir
Dan aku menemukanmu di ujung waktu,
Kudapati engkau telah melupakan aku


TUHAN
2009
Waktu telah berlalu tanpa sesuatu yang pasti
Namun cahaya sinar Nya,
Merajam dinding ruang hatiku yang tak berarti ini
Telah banyak khilaf yang tak terkira
Ketika aku bersembunyi di balik cadar keangkuhan

Bersama semilir angin, Dia menyampaikan
ayat-ayat-Nya,
Bersama hamparan bumi, Dia ajarkan
semua yang hidup bertasbih memuji-Nya

Bukankah berjuta bintang
Dia ciptakan bagi langkah-langkah yang tersesat,
dalam belantara malam
Bukankah dia menciptakan halilintar,
untuk mengingatkan kita akan maut

Kapankan maut menjemput kita?
Dan maut hari ini menjemput siapa?
Kita tidak akan pernah tau.

MALAM (untuk yang telah pergi)

2008
Dia adalah malam,
Dia adalah sepenggal cerita dari jalan hidupku
Wahai manusia di ujung dunia,
apakah kau telah menemukan dasar dari perjalanan ini?
bukankah kau telah menjelajahi dunia?
apakah yang kini kau dapatkan wahai penjelajah waktu?

Dia adalah malam,
yang terus berjalan diantara jalan hidupku
Kapankah engkau berhenti dari jalanmu yang berliku,
Wahai penjelajah waktu,
mengapa engkau terus lari dari semua ini,
bukankah engkau adalah malam.

Kini engkau telah pergi bersama pekat malam,
meninggalkan sejuta kerinduan,
bersama mimpi-mimpimu yang belum kau gapai.
Kini engkau telah pergi membawa berjuta kisah
Kini tak ada lagi canda tawamu,
kini tak ku lihat lagi senyummu

Kau telah mengakhiri perjalanan panjangmu,
menyelesaikan sebuah sekenario sempurna dari sang pencipta
Ragamu memang telah pergi,
namun pemikiran-pemikiranmu akan selalu abadi

Dan aku akan selalu memandang langit saat matahari telah terbenam
karna dia adalah…..malam



SURAT CINTA UNTUK PALESTINA

2008
Desir-desir peulru memekakkan teinga, membahana di angkasa
Debu-debu menyatu bersama udara siang itu
Mayat-mayat tak berbosa bergelimpangan
Yang tersisa hanyaah luka,
Ketakutan, kesedian, dan airmata

Tidakkah cukup ribuan nyawa melayang?
Tidakkah kau lihat bumi pun menangis
Menyaksikan ras manusia melawan ras manusia?
Bukankah kita berpijak di bumi yang sama?

Semuanya hancur,
sehancur hati mereka yang ditinggakan
Apakah ini sebuah mimpi panjang?
Apakah kita sudah terjaga dari mimpi kita?
Apakah ini hanyalah sebuah cerita?
Apakah Palestina hanyalah sebuah legenda?

Janganlah menangis Palestina
Bukankah yang telah pergi tak bisa kembali
Tidakkah kaulihat masih ada secercah harapan,
yang menunggu di depanmu
Kini saat nya untuk bangkit
Dan membangun kembali puing-puing harapanmu,
yang masih tersisa

Kamis, 10 Mei 2012

Senja di Bukit Langit

SEBUAH SENJA, DI BUKIT LANGIT 


Purwokerto, tahun 1990.
     Hari ini kota Purwokerto lagi-lagi diguyur hujan lebat, entah apa yang tengah terjadi. Mungkin sebuah rencana alam tengah mnggerakan takdir seorang hamba untuk masuk kedalam sebuah sekenrio sang pencipta, bahkan seekor lalat yang terlahir pun tak luput dari rencananya. Huh,...lagi-lagi hujan, padahal bulan ini terhitung memasuki bulan kemarau dan seharusnya sang burung-burung dapat berkicau merdu. Namun karena hujan ini, mereka harus berlindung dibalik sarangnya untuk menghindari hujan yang sangat lebat.
     Sebuah gejala alam yang sudah sepantasnya terjadi dan bagaikan terencana sebagai untaian takdir. Tak jauh dari tempat yang penuh hilir-mudik ketamakan tersebut atau seorang selalu menyebut dengan nama kota. Arya tengah menyendiri, ya dia tengah berada didasar bumi memandang cakrawala lagit disebuah hutan kecil yang berada dibukit yang bernama bukit Kaki Langit.
“Huh, lagi-lagi sebuah ketamakan” dia pun merenung, mungkin inilah terakhir kalinya dia menginjakkan kaki didasar bukit Kaki Langit
“Harus kemanakah burung-burung bernaung seandainnya semuanya tergerus pembangunan kota, mungkin aku tak pernah lagi memandang hutan cemara, Pinus, dan akan tergantikan hotel-hotel dan perumahan mewah, serta mungkin aku tak akan pernah mendengar nyanyian merdu burung-burung dan akan tergantikan deru mesin-mesin berat,  yang seakan saling berlomba merubah wajah hutan menjadi kota yang tidakakan pernah  tertidur memanjakan para sosialita menghamburkan uang. Dia pun merenung mengingat saat dia dan teman-temannya bertemu dalam tautan takdir Lima tahun yang lalu.
     Dia semakin terhanyut..terhanyut..terhanyut..terhanyut dan pada akhirnya dia telah tenggelam kedalam pusara masa lalu, dan tidak ingin kembali kemasa depan yang penuh ketamakan ini. Ya..dia semakin tenggelam kedalam masa Lima tahun yang lalu..terhanyut dan terlelap, selamat datang massa lalu.
Kegiatan Ospek ya inilah awal perkenalan mereka.
“Kenalin nama saya Arman” berkata anak yang duduk disebelah Arya.
“Nama saya Arya” dia pun menjulurkan tangannya untuk menerima jabatan tangan
”Kamu asli mana Arman?”Tanya Arya
“Rumah saya di daerah pemalang, disini aku ikut saudaraku, kalo kamu Arya?”
Sebelum Arya menjawab pertanyaan Arman datanglah dua orang yang dirasa sama seperti dirinya, para mahasiswa baru yang sedang mengikuti Ospek.
“Hey boleh gabung?”Tanya kedua orang tersebut
“Oh iya, siahkan”jawab Arya dan Arman.
     Dan kemudian kami tau nama orang yang datang tersebut adalah Rudi dan Herman. Tepat seperti tebakan Arya, mereka berdua adalah mahasiswa baru yang sedang menjalani ospek, hal tersebut tampak pada pakaian dan atribut-atribut yang digunakan.
”huh senior-senior kita memang tidak punya perasaan, masa aku dikerjainya habis-habisan, sudah dijemur ditengah matahari, disuruh menyanyi pula lah aku, padahal aku tak bakat menyanyi” berkata Herman.
     Dia dapat menangkap bahwa Herman adalah anak dari luar puau jawa, selain dapat dilihat dari fisik Herman yang berkulit sedikit kecokatan, badan yang tegap serta rambut yang sedikit ikal.
”Sama dengan kamu Her, aku juga dikerjai habis-habisan apalagi senior kita yang bernama kak Seno, bahkan aku didampratnya habis-habisan” berkata Arman yang dari tadi serius mendengarkan perkataan Herman.
”Tapi, sebenarnya ospek kegiatan yang cukup baik untuk melatih mental kita. Selain itu, kegiatan ini juga dapat meningkatkan rasa persaudaraan diantara satu sama lain, dengan kegiatan ini juga dapat membuat kita mengenal satu sama lainnya” berkata Rudi dengan sok kritis.
”Eh..,ngomong-ngmong kalian semua anak-anak fakultas Sosiologi kan?, kelas kalian kelas ganjil atau kelas genap?”tanya Rudi.
”Kalau aku dapat kelas ganjil, iya aku anak fakultas Sosiologi”jawab Arya.
”Samalah dengan kau aku juga anak Sosiologi, aku juga kelas ganjil, kalau kamu sendiri Rud?” tanya Herman.
”Sama aku juga kelas ganjil” berkata Rudi dengan senyumannya yang khas.
”Wah-wah ternyata kita memang ditakdirkan, untuk menjadi seorang sahabat ya, karena kelasku juga kelas ganji” berkata Arman.
”Ternyata kita semua satu kelas ya!!”jawab Arya ”Mohon kerjasamanya ya”.
”Kerjasama gimana nih?”tanya Arman,menimpali
”Ya, kerjasama dalam saling titp-menitip absensilah, hehe..” jawab Herman dengan senyumannya yang sangat khas, senyuman seorang anak Nusa Tenggara.
”Huh, eh.....untuk merayakan persahabatan kita, gimana kalau kita makan di kantin. Aku yang teraktir deh, kalian bisa makan sepuas-puasnya” berkata Rudi.
     Sebuah perkenalan yang sangat sederhana namun cukup meninggalkan kesan diantara mereka, karena sebuah perkenalan sederhana inilah yang membuat persahabatan diantra mereka seakan tak terbatas status sosial, agama dan suku bangsa, sungguh semua ini bagaikan sebuah rencana yang menggerakkan mereka untuk menjalani skenario takdir yang sangat sempurna.
”Gimana, mau apa ngak nih?”tanya Rudi kepada ketiga kawan-kawan barunya.
”Ya mau dong” jawab mereka hampir bersamaan.
”Cihuy, Rudi memang kawan kita yang baik hati, hehe..” jawab Herman dengan logat Nusa Tenggara.
     Mereka pun pergi bersama-sama bercanda tawa dan lama-lama persahabatan mereka pun semakin erat, satu hal yang membuat hubungan mereka semakin erat, yaitu mereka sama-sama mempunyai hobi yang sama. Yaitu mereka sangat senang menjelajahi pegunungan dan menaklukanya. Mereka pernah mendaki hingga puncak Mahameru yang merupakan puncak tertinggi dari gunung tertinggi di pulau Jawa yaitu Gunung Semeru.
     Mereka berempat sama-sama mengambil ekstra kulikuler MAPALA, kalau Rudi dan Arya mengikuti ekstra kulikuler ini karena dari dulu mereka sangat senang mendaki gunung. Saat mereka SMA mereka berdua ternyata pernah mengikuti kegiatan Pecinta Alam di SMA masing-masing, jadi sudah mengetahui dasar-dasarnya. Sedangkan Arman padamulanya  mengikuti Mapala, karena dia sedang mendekati wanita incarannya, anak fak Biologi yang kebetulan mengikuti ekstra kulikuler itu. sedangkan Herman ikut-ikutan mengambi ekstra kuikuler ini, karena di daerah asalnya di Nusa Tenggara dia juga senang menjelajah alam.
Ya, jadinya mereka memutuskan untuk mengikuti kedua temannya. Walau pada dasarnya mereka berempat sangat senang mendaki gunung dan menaklukan puncak tertinggi, karena disitulah ketika mereka berada di puncak gunung tersebut mereka merasa kecil dihadapan Sang Pencipta dan merasa seperti debu di jagad raya yang maha luas ini.
     Namun, yang paling berkesan diantara bukit, tebing dan gunung yang pernah didakinya, adalah saat mereka menemukan sebuah bukit kecil lebih tepatnya gundukkan tanah yang menjulang, warga sekitar menyebutnya bukit Kaki Langit, karena terletak di kaki Gunung Slamet dan disana mereka dapat melihat langit dengan jelas, disana terdapat sebuah bangunan tua peninggalan penjajah belanda yang berlantai dua yang dahulu tempat tersebut digunakan tentara Belanda untuk bersembunyi dari para pejuang.
     Disini mereka selalu mendapatkan kedamaian dan melupakan semua masalah yang dihadapinya, di bangunan tua tersebut mereka dapat melihat burung-burung yang hinggap dan bernyanyi dengan merdunya, kumbang-kumbang yang menari-nari, mungkin disinilah satu-satunya tempat yang belum terjamah keserakahan manusia. Dilantai dua bangunan tersebut yang tanpa atap inilah mereka dapat memandang kota Purwokerto walau pun terlihat samar karena jarak yang jauh tersebut, namun yang paling berkesan di bukit kecil tersebut mereka dapat melihat senja. Ya,...senja di bukit itu selalu terlihat sangat indah. Oleh karena itu mereka selalu kembali dan kembali ketempat tersebut seandainya ada waktu luang.

* * * * *
     Saat ini hati Arya sedang berbunga-bunga, dia selalu memikirkan Rasty, seorang wanita yang dicintainya secara diam-diam, awal mulanya Arya terkesan saat melihat Rasty membantu menyeberangkan seorang anak kecil yang dilihatnya kesulitan untuk menyeberang di jalan, namun yang paling dikaguminya adalah senyuman Rasty yang terlihat sangat tulus dan sorot matanya yang walaupun tajam tetapi menggambarkan sebuah kelembutan. Saat itulah Arya sangat mengagumi sosok Rasty, karena selain cantik, seorang aktifis dia juga ternyata seorang yang baik hati. Namun sayangnya Rasty tidak pernah mengenal siapa itu Arya.
Hampir setiap hari setelah itu, Arya selalu menyempatkan diri mengunjungi Fak.Hukum yang terletak cukup jauh dari Fak.Fisip tempat kampus Arya, untuk sekedar melihat Rasty dari jauh. Ya, hanya sebatas itu. karena Arya tidak punya sedikit pun keberanian untuk sekedar mengajaknya berkenalan. Karena baginya memandang Rasty dari jauh menurutnya sudah lebih dari cukup, dan dia menganggap dirinya tak pantas untuk mendapatkannya. Arya adalah orang yang tidak memiliki sikap percaya diri dibandingkan teman-temannya.

     Arya tak punya sedikit pun keberanian untuk mengungkapkan perasaannya kepada Rasty, bahkan untuk menceritakan kepada teman-temannya pun Arya enggan, hanya Hermanlah yang tau, namun dia memintanya untuk tidak menceritakan kepada orang lain, termasuk kepada Arman dan Rudi.
     Hari ini hari lagi-lagi hujan membasahi langit kota purwokerto, awan terlihat sangat pekat dan halilintar menggelegar seakan berlomba-lomba menunjukkan betapa besar kuasa Tuhan. Saat itu Arya dan Herman memutuskan untuk berteduh di caffe yang terletak dibelakang kampus mereka. Saat itu dilihatnya Rasty tengah duduk sendiri menikmati Coklat Susu ditangannya untuk mengusir rasa dingin yang memang saat itu dirasa sangat menyengat.
”Arya, lihat itu Rasty” berkata Herman memecah keheningan hari itu
”iya,aku sudah tau” jawab Arya.
”Tumben, seorang Rasty Anggraeni sang ketua BEM mengunjungi kampus kita” tanya Herman
”Iya, tidak biasanya dia berkunjung ke Fisip” hati Arya tidak menentu dia merasakan hal yang buruk akan terjadi tetapi dia tidak tau apa.
”Arya..” berkata Herman sejenak ”Hari ini kamu harus berani berkenalan dengan wanita pujaanmu itu, ini kesempatan buatmu, aku tau kamu sudah lama memendam perasaanmu, apa kau mau aku temani?” tanya Herman yang sebenarnya kasihan terhadap Arya yang hanya bisa memendam perasaannya itu.
”Tidak usah repot-repot Her, omonganmu ada benarnya, bila tidak hari ini harus kapankah lagi aku bisa dekat dengan Rasty”. Arya pun bangkit dari tempat duduknya lalu menuju tempat dimana pujaan hatinya tengah menyendiri, perkataan Herman sahabatnya telah membangkitkan semangat dan rasa percaya dirinya.
     Sejenak dia pun berhenti dan memikirkan kata-kata yang pas untuk perkenalan tersebut, diapun terus berfikir didalam hati dan terus melangkah mendekat hingga akhirnya dia berdiri tepat didepan mata Rasty.
”Hay, kenalin nama saya Arya, anak Sosiologi” dia pun mengulurkan tangannya dan dengan suaranya yang tergagap-gagap, Herman mengawasinya dari jauh sahabatnya itu. namun, perkenalan Arya tersebut tidak ada tanggapan dari lawan bicaranya, “Maaf,..bolehkah saya berkenalan dengan anda?” tanya Arya mengulangi perkataannya.
     Namun apa yang terjadi diluar dugaan Arya, Rasty menampik uluran tangannya, pupus sudah penantiannya selama ini,  baginya Rasty yang dilihatnya kini bukanlah Rasty Anggraeni yang dilihatnya dulu yang dengan tulus membantu orang lain dan senyuman yang penuh keramahan dan kelembutan yang selalu dipandangnya dari jauh, hingga dia sangat mengagumi sosok Rasty. Namun kini yang dilihatnya sungguh berbeda seratus delapan puluh derajat dari apa yang selalu dibayangkannya. Ya, kita memang tidak selalu bisa mendapatkan apa yang selalu kita inginkan.
     Rasty memang hanya diam seribu bahasa dan menampik uluran tangan Arya, namun hal tersebut sudah menandakan bahwa dia telah menolak perkenalannya. Rasty dengan membuang muka mengalihkan pandangannya, dia tidak peduli bahwa sosok yang ada dihadapannya telah menunggu cukup lama untuk hari ini, namun dia telah mematahkan harapan dan membuat penantiannya selama ini sirna...ya sirna,..dunia memang kadang tidak brsahabat dengan seorang pemalu semacam Arya.
     Dia pun berjalan menjauhi tempat Rasty yang sedang menyendiri dengan lesu, pandangan matanya menunduk, Herman sudah mengetahui apa yang terjadi dari perubahan raut wajah sahabatnya tersebut, yang sangat berbeda dengan yang dilihatnya beberapa menit yang lalu. Dia pun terus mengikuti sahabatnya tersebut yang meninggalkan caffe dan terus melawan rinai hujan yang sangat lebat sore itu, matanya basah, air matanya bercampur tetesan hujan yang mengguyur lebat kota ini, hingga dia tidak peduli lagi dengan hujan dan kilat yang menyambar-nyambar diatas langit purwokerto. Seakan-akan merasakan kepedihan yang sedang dialami Arya, Herman tak henti-hentinya memberikan semangat sahabatnya tersebut...walau pun dorongan semangat itu tidak bisa mengubah segalanya
”apa,kamu tidak apa-apa Ar” tanya Herman dengan penuh rasa bersalah, karena dialah yang mengusulkan untuk berkenaan dengan Rasty di caffe tersebut.
”ya, aku tidak apa-apa kok tenang saja” jawabnya, namun hari itu Herman dapat mengerti bahwa sebenarnya hari ini Arya sangat terpukul dan apa yang dikatakannya kalau dia tidak apa-apa adalah suatu kebohongan.
”Her, apa kamu mau menemani aku kembali ke caffe, soalnya bukuku tertinggal dimeja caffe tadi” berkata Arya.
”Ya” jawab Herman dengan gusar.
     Namun apa yang dilihatnya setelah itu diluar dugaan, saat dia kembali ke caffe tersebut dilihatnya sesekali kearah meja Rasty, ternyata dimejanya tersebut Rasty tidak lagi sendiri. Ada laki-laki yang duduk dengannya dan laki-laki yang bersamanya itu ternyata adalah seorang yang tidak asing lagi bagi mereka, dia adalah Rudi. Mereka berdua bercanda tawa dengan sangat mesra dan tidak peduli kalau jarak berapa meter dari tempat mereka tertawa ada seseorang yang sedang terluka dan hancur hatinya.
“Bangsat Rudi, bukankah dia sudah punya pacar, mengapa dia masih merebut pujaan hati sahabatnya sendiri” berkata Herman dengan nada penuh emosi
“Sudahlah Her, semua ini bukan salah Rudi tapi salahku sendiri”
“apa kamu mau aku menghajar Rudi?”
     Arya pun segera menarik Herman yang terlihat sangat emosi dan Mereka pun segera pergi karena tak ingin Rudi melihat kearahnya, Herman hanya dapat menepuk bahu Arya untuk menegarkan sahabatnya tersebut dan dia pun meminta Herman untuk tidak menceritakan apa yang diketahuinya kepada Rudi dan Arman.

*********
     Hari ini Arya sudah dapat menerima semuanya dan mulai dapat melupakan Rasty. Hari ini mereka berempat mengunjungi kembali Bukit Kaki Langit, entah telah berapa kali mereka telah pergi ketempat itu. Ditempat iniah jika mereka memiliki masalah, mereka dapat berteriak sekencang-kencangnya karena tidak ada orang yang mendengarkannya, karena tempat ini sangat jauh dari pemukiman penduduk. Selain itu juga pemandangan yang asri dapat menenangkan fikiran mereka yang telah jenuh menghadapi segala rutinitas selama ini.
     Sore itu senja kembali hadir di bukit kecil tersebut, mereka berempat berdiri di lantai dua bangunan tua yang memang tidak memiliki atap tersebut. Semuanya terpesona menatap senja, sungguh sangat indah langit hari itu berwarna merah keemasan, merekapun terus menatap langit hingga saat matahari hari itu telah terbenam dan senja telah digerogoti pekat malam.
”Teman-teman apa kalian mau berjanji !” diapun menghentikan kata-katanya sejenak. ”Apa pun yang akan terjadi nanti, kita harus selalu bersama-sama bila ada waktu luang untuk mengunjungi bukit ini, hingga kita tua nanti dan hingga kita mati” tanya Rudi kepada teman-temannya...semuanya terkejut dengan kata-kata tersebut.
”Ya, kami berjanji” jawab Arya diikuti Arman dan Herman secara serempak, entah kenapa ada sedikit keharuan dihati keempat sahabat tersebut.

* * * *
      Lima tahun telah berlalu,    
     Angin tetap mendesah diantara pelita angkasa, disanalah tempat seribu burung-burung mengepakkan sayap-sayapnya, mereka terus terbang untuk mencari rizki apa yang bisa dia dapatkan untuk hari ini dan berpacu melawan waktu. Mereka terus terbang dan terus terbang, meskipun mereka tidak akan pernah tau kapankah semua ini berakhir dan terhenti. Ataukah besok, hari ini, ataukah nanti, ketika desir peluru seorang pemburu menembus tubuh kecilnya dan mengakhiri sebuah sekenario panjang dari sang pencipta.
     Arya masih terjaga dari lamunannya, dia memandang senja di bukit ini, mungkin untuk terakhir kalinya, diatas bukit kecil ini terdapat sebuah bangunan tua yang mungkin telah termakan zaman dan terabaikan, namun tetap berdiri kokoh bagai sebuah pusara disudut bumi. Diatas lantai dua bangunan ini, dia dapat melihat burung-burung yang berterbangan, lepas tanpa beban dan dari atas bangunan ini dia pun dapat melihat sudut kota yang bising dan penuh ketamakkan, semua tampak kecil dan tenang. Namun, di sini lah dia dapat merasakan tak berarti dihadapan tuhan Yang Maha Esa.
    Dulu dia selalu menyempatkan dirinya untuk mengunjungi tempat ini bersama teman-temannya di tengah rutinitas kehidupan, namun kini aku harus sendiri. Ya, harus sendiri mungkin inilah jalan terbaik yang harus aku jalani, fikirnya. Dia pun kembali teringat tentang kisahnya dengan tiga sahabatnya yang mukin tak akan termakan zaman dan ketamakan, fikir Arya.
* * * *
     Sudah lebih beberapa hari ini Arya tidak melihatnya, ya akhir-akhir ini Rudi menghilang bagai kan ditelan bumi
“Asalammu alaikum” berkata Arya, namun tetap saja tidak ada jawaban dari Rudi. Diapun memberanikan diri untuk membuka pintu kamar kos sahabatnya tersebut yang kebetulan tidak terkunci.
ohh…eeh”
     Jawab Rudi tergagap ketika didapati Arya ada di depannya, diapun merasa kedatangannya tidak di harapkan oleh Rudi, namun sekilas Arya dapat menangkap kesedihan tergambar di sudut matanya. Ya, aku dapat memastikan dari matanya yang basah karena air mata.
“Rud, mengapa akhir-akhir ini kamu tidak pernah lagi berangkat ke kampus” tanya Arya memberanikan diri memulai percakapan. Sejenak Arya pun berhenti dan akhirnya melanjutkan percakapannya ”Dan sekarang aku dapati kamu sedang menangis, sebenarnya apa yang sedang terjadi ”Tanyanya, ketika didapatinya Rudi yang biasanya selalu ceria, tengah bersedih hati dan dia sangat kecewa karena Rudi lebih memilih menyendiri seorang diri daripada menceritakan apa yang terjadi kepadanya.
“oh kamu Ar, mengapa kamu tidak mengetuk pintu dulu” Tanya Rudi sembari mengusap matanya dan menjawab dengan terbata-bata, masih tersisa setiap detik isakan kesedihan didalam hidupnya walaupun ia mencoba menyembunyikan dengan mencoba untuk tegar dan seolah tidak terjadi apa-apa, namun aku lebih tau dari orang lain tentang Rudi.
     Tak kulihat lagi sosok Rudi yang ceria dan kritis seperti dulu, dengan segala pemikiran-pemikiran idialismenya, yang membuat aku sering merasa kagum kepadanya. fikif Arya.
“maaf  bila kedatanganku, mengganggu kamu Rud”
“Ya…” jawabnya dengan dingin dan dia pun duduk disamping sahabatnya, kulihat tidak ada lagi semangat hidup diraut wajah seorang Rudi, seorang mahasiswa, cerdas yang dikenal sangat kritis dan banyak disenangi oleh para dosen tersebut
”apa kamu ada masalah?” Tanyanya sejenak untuk meringankan kesedihan Rudi
”Aku tidak punya masalah” jawabnya masih dengan dingin.
”kamu pasti bohong, aku sudah mengenal kamu cukup lama, apa aku bisa membantu memecahkan masalahmu, itulah gunanya sahabat”
“Aku sudah bilang, aku tidak punya masalah, harus berapakaliku bilang” Jawab Rudi.
Suasana pun sejenak hening dan merekapun saling menatap. Ya, aku terlalu mencampuri urusan Rudi.fikir Arya.
     Hingga pada akhirnya Arya pun meninggalkan Rudi seorang diri dan dia pun merasa sangat kecewa, ternyata Rudi lebih memilih memendam masalahnya seorang diri daripada harus menceritakan kepadanya. Ditengah kekecewaan itu diapun berjanji untuk tidak mau ikut campur terhadap masalah Rudi, biarlah dia yakin Rudi bisa memilih apa yang terbaik untuk hidupnya.
“oh....iya, sudah lama aku mau mengatakan hal ini pada kamu. Asal kamu tahu, kalo selama ini aku mencintai Rasty, namun aku hanya seorang pengecut Rud, dan aku minta kamu untuk tidak menjadi seorang pengecut dalam menghadapi masalahmu itu, seperti aku yang seorang pengecut ini Rud” berkata Arya sebelum pergi meninggalkan Rudi seorang diri.
     Namun, fikiran Arya untuk meninggalkan Rudi seorang diri tersebut adalah sebuah hal yang keliru, hingga suatu ketika Dia melihat Rudi tengah bersama-sama dengan beberapa orang yang sangat asing baginya, dia tau orang-orang yang bersama Rudi bukanlah seorang mahasiswa di Universitasnya dan dia dapat mengetahui bahwa mereka bukanlah orang baik-baik, terlihat dari cara berpakaian mereka.
Hingga disuatu hari, dia mendapati Rudi tengah menghisap lintinggan daun ganja didalam kamar kostnya. Ternyata firasatnya terbukti, ketika dia merasa khawatir bahwa akan ada hal yang buruk akan terjadi
“Apa ini Rud?” tanya Arya tak percaya dengan apa yang barusaja dilihatnya
“GANJA” jawabnya masih dengan dingin.
Mengapa kamu menghisap ganja?, apakah kamu tidak tau ganja adalah benda terlarang dan hidup kamu bisa hancur karena itu Rud”
     Arya pun berkata dengan suara keras sembari merebut lintingan ganja yang sedang di hisapnya dan melemparkan kelantai dan menginjaknya
“Mengapa kamu sudah berubah? mana Rudi yang dulu”
 “Pedui apa kamu, persetan dengan semuanya, apa kamu tidak tau sudah tidak ada arti nya hidupku lagi, hidupku sudah hancur, apa kau ingin tau?”
Rudi pun menghentikan kata-katanya sejenak dan tanpa di sadari ia pun meneteskan air mata dan pada akhirnya kami pun saling duduk berhadap-hadapan, suasana menjadi hening, tidak bahkan sangat hening, bahkan seekor burung yang biasanya berkicau didahan pun kini membisu, seperti merasakan sebuah keadaan disudut kamar itu, hingga seketika Rudi memecah keheningan dan menceritakan semuanya.
perusahaan ayahku telah bangkrut, ayahku telah ditipu oleh seseorang yang sang dipercayai keluarga kami dan hampir semua harta keluarga disita pemerintah,”
     Ia pun berhenti sejenak untuk menguasai keadaannya.
”Dan ibuku tidak bisa menerima semua keadaan ini, dia lebih memilih untuk gantung diri daripada harus hidup susah. Ibuku seorang pengecut Ar, yang meninggalkan anaknya seorang diri. Ibu meninggal dunia Ar, sedangkan ayahku yang tidak kuat mental kini menjadi gila dan harus dimasukan kerumah sakit jiwa, kini aku sendiri, aku tak mempunyai  siapa-siapa lagi dan aku tidak punya apa-apa lagi”
     Dia pun tak kuasa menahan isakkan kesedihhannya. Ya, aku bisa merasakan kepiluan dihatinya.
”mengapa semua ini terjadi pada hidupku, masih ingat diingatanku saat kami bertiga, ayah, ibu dan aku pergi berlibur bersama-sama saling tertawa dan bercanda sungguh telah berlalu hari-hari yang sangat indah untukku, sungguh seandainya aku dapat memutar waktu aku tidak ingin melihat massa depan, biarlah aku terus hidup di dalam masalalu, biarlah waktu terus terhenti” dia pun memandang Kenat dan melanjutkan ceritanya.
”Pada saat itu aku merasa kamilah keluarga yang paling bahagia di dunia ini, tapi kebahagiaan itu kini sirna, mengapa semua terjadi padaku Ar?,..cepat jawab??”
Arya pun merangkul sahabatnya. Maafkan aku Rud, sahabat macam apa aku ini yang tidak mengetahui kepiluan dari sahabatnya sendiri, fikirnya. Ya, hanya inilah yang bisa aku lakukan untuk meringankan kesedihannya dan pada waktu itu merekapun menangis bersama entah kapankah terahirkalinya mereka menangis, tetapi kini dia pun menangis untuk sahabat baiknya. Itulah saat terakhir kalinya Arya berjumpa dengan Rudi.
     Hingga datang sebuah berita pada suatu pagi yang mengejutkan dirinya. Sebuah berita tentang kepergian Rudi untuk selama-lamanya untuk menghadap kepada Ilahi, beberapa hari yang lalu sejak terakhir kalinya dia berjumpa dengannya. Rudi ditemukan oleh teman satu kosnya tengah melawan maut, saat dia overdosis karena menenggak puluhan obat penenang dan pada akhirnya nyawanya pun tidak dapat terselamatkan lagi.
Kembali. Aku pun memandang kembali langit-langit tempat burung-burung itu bernaung. Ya, sebentar lagi senja akan datang di atas bukit ini, oh sudah banyak cerita yang terjadi disini. Aku pun teringat dulu kami selalu bersama-sama memandang cakrawala langit disini. Aku, Arman, Herman dan Rudi ketika masih bersama. Kami selalu memandang senja di bukit ini, bahkan dulu kami selalu bermimpi untuk dapat terbang seperti seekor burung dan melayang menembus angkasa tanpa beban.
     Namun Arman harus terlebih dulu meninggalkan kami ketika sebuah kecelakaan lalu lintas merenggut nyawanya dan Herman sejak kepergian orang tuanya dialah yang harus menghidupi adik-adiknya dan kuliahnya pun harus berhenti ditengah jalan. Herman pernah suatu saat menyurati Arya. Dia mengatakan bahwa kini ia telah menjadi seorang yang sukses dan tidak bisa mengunjungi bukit itu lagi karena kesibukannya. Namun ada seseorang yang mengatakan bertemu Herman di dalam penjara saat menjemput kerabat yang bekerja didalam Lapas. Menurut kerabatnya tersebut, Herman telah difitnah membunuh Bosnya, yang selalu berbuat sewenang-wenang terhadap anak buahnya dan harus dihukum seumur hidup atas dakwaan pembunuhan berencana.
     Ya aku mengenal Herman, dia adalah seorang yang sangat membenci orang yang selalu berbuat sewenang-wenang, namun aku sangat yakin kalau Herman bukanlah seorang pembunuh, mana yang harus aku percaya. Kini Rudi satu-satunya sahabatnya pun telah meninggalkannya, kini dia sendiri. Ya, dia harus menatap senja ini sendiri.
”Kehidupan Arman, Herman dan Rudi, sama seperti burung-burung tersebut, mereka tetap melayang dan terus melayang menembus cakrawala dunia dengan sayap-sayapnya, walaupun sayap itu patah dan terluka Walau pun sang burung itu tidak akan pernah tau apa yang ada di depannya, apakah ada sebuah harapan ataukah seorang pemburu yang dengan garangnya, datang untuk mencabut nyawanya. Ya, hidup ini adalah sebuah drama” Arya pun terus memandang senja yang akan segera berakhir. Sebentar lagi matahari akan terbenam dan malam pun akan datang menggerogoti langit yang hampir kelabu ini.
”Kematian bukanlah sebuah akhir, tapi awal kebebasan jiwa. Kematian hanyalah akhir dari sebuah perjalanan panjang yang melelahkan. Apa kau fikir orang yang telah meninggal itu pergi untuk selamanya? Tidak...mereka hanya tertidur dan suatu saat mereka akan terbangun dari tidur panjangnya dan bertemu kembali dengan orang-orang yang disayanginya” itulah kata-kata yang dikatakan Rudi, saat diketahuinya Arya menangis saat kepergian Arman untuk selama-lamanya berapa tahun yang lalu. Namun kini dia harus menangis. Ya, untuk menangisi orang yang mengatakan kata-kata tersebut.
     Sedetik kemudian mungkin aku tertawa melihat drama ini. namun, sebenarnya aku menangis, mungkin inilah terakhir kalinya aku menatap senja di bukit ini. Ya, karna besok bangunan tua ini akan segera dipugar dan pepohonan tempat burung bernaung pun akan segera diratakan dan tanah di bukit kecil ini akan dikeruk yang nantinya tempat ini akan di dirikan Hotel-hotel mewah untuk menunjang tempat pariwisata dan kawasan ini juga akan dijadikan sebuah kawasan Vila-vila elit.
     Ya, aku tertawa karena bertanya, kemanakah burung-burung ini bernaung?, mungkin inilah terakhirkalinya burung-burung itu mengunjungi sarangnya, mungkin besok tak terlihat lagi burung-burung tersebut melayang, mungkin besok tak terdengar lagi burung-burung bernyanyi dan mungkin besok tak akan ada lagi senja disini dan hanya akan terdengar suara derum traktor dan mesin-mesin berat lainnya yang akan memekakkan telinga dan menghancurkan bangunan tua yang masih kokoh berdiri diatas bukit kecil ini. Bersama dengan kisah-kisah yang telah terukir bersama sahabat-sahabatnya, kisah-kisah yang tak akan terlupakan karena sebuah kenangan adalah Abadi. Ahh,..lagi-lagi ketamakan, gumamnya.
     Dan ketika senja telah hadir di kota tua ini, dia dapat melihat Rudi dengan nyata...Ya, dia dapat melihat Rudi, ayah dan ibunya tertawa riang dan mereka pun memandangnya dengan tatapan bahagia. Tatapan dari sebuah keluarga yang sangat berbahagia,..Herman yang tiba-tiba hadir lalu tersenyum didalam angannya dan juga Arman yang melambaikan tangan padanya.

Selamat jalan semua, hanya sepotong senja inilah yang bisa aku berikan,..........sebuah senja di Bukit Kaki Langit
     Sejak saat itu Arya pun menghilang bagaikan ditelan bumi, dia tidak pernah kembali lagi kesana hingga kini. Ada yang mengatakan dia kini telah bekerja diluar pulau jawa, namun ada yang mengatakan kalau dia telah menghilang bersama pelangi dihari yang basah oleh hujan pada waktu itu.
     Ada seorang pencari kayu bakar mengatakan, melihat seorang yang berjalan diatas langit diatas bukit itu. berjalan, berjalan dan naik keangkasa hingga menghilang bersama pelangi yang mulai memudar.
Namun ada yang berkata lain,

23-07-1990, Telah ditemukan mayat seorang pendaki gunung yang disinyalir sebagai seorang mahasiswa, yang diduga terpeleset karena hujan yang sangat deras hari itu. Mayat korban diketahui terperosok dan terbentur batu besar di dasar bukit yang oleh masyarakat sekitar sering disebut BUKIT KAKI LANGIT.