Sahabat yang baik,adalah sahabat yang sering sejalan
dengan ku,
Dan menjaga nama baikku,ketika aku hidup,maupun setelah
aku mati nanti,
Waktu seakan terasa cepat berlau
meninggalkan sejuta kenangan yang terlalu berharga untuk dilupakannya, tak terasa ujian skripsi yang
melelahkan dan menguras pikirannya akhirnya datang juga, seandainya ujian ini
telah berhasil dilalui, berarti tinggal satu tahap lagi menuju gelar sarjana,
ujian penentuan komprehensif. Tak terasa telah banyak beribu-ribu kisah yang telah ia lalui di kampus ini, baik suka maupun duka. Dia merasa tidak rela meninggalkan kampusnya tersebut, kampus yang telah banyak memberikan pengalaman-pengalaman baru yang amat berharga bagi dirinya. Ia tak rela meninggalkan semua ini, namun ia teringat
perkataan seseorang sahabatnya yang pernah mengatakan:
“Inilah hidup, kita tidak akan pernah tau apa yang
akan terjadi kemudian hari. Namun hidup terus berjalan, dan kita tidak bisa diam dalam satu titik. Bukankah kehidupan adalah sebuah perjalanan panjang yang sangat melelahkan” itulah
kata-kata sahabatnya yang masih diingat atau mungkin akan selalu diingat dalam
hatinya yang terdalam.
Dimas pun meilhat arloji yang
melingkar di tangannya “Huh, sudah jam sebalas siang“ keluh Dimas seraya memandang-mandang kampusnya yang walau pun bangunannya tidak megah serta dapat dikatakan sederhana,
namun di sini penuh dengan kehangatan dan keakraban, serta di sinilah tempat ia
dan teman-temannya merajut mimpi. Hari ini Dimas akan menjalani ujian skripsi,
atau satu tahap lagi sebelum menyandang gelar sarjana. “Ahhhh,...andai saja dia
masih di sini, tentunya hari ini aku akan merasa ada semangat lebih untuk
menjalani ujian skripsi ini....Ya, si cerewet. Bagaimanakah kabarnya kini?......Lala,
temenku itu bernama Lala dan kami sudah tak bertemu selama satu tahun ini”
batin Dimas sembari mengingat-ingat masalalu mereka. Ya, masalalu.
.Dia pun teringat beberapa tahun yang lalu ketika ia pertama kali mengenal
Lala saat perkuliahan mata kuliah Fonologi, mata kuliah yang dosennya dikenal sangat disiplin. Setiap
mahasiswa yang terlambat datang walau hanya 5 menit dilarang untuk memasuki
kelas tanpa ampun, dan ketika itu mereka berdua
terambat datang
hingga merekapun
tidak boleh mengikuti proses
perkuliahan Fonologi hari itu. Dimas adalah senior yang baru mengambil mata
kuliah tersebut. Dari hal tersebutlah mereka saling mengenal.
“Maaf kakak semester berapa yah?
sepertinya buakan angkatan gue yah?” ujar Lala yang merupakan mahasiswa
semester 2.
“Hahahaha,...saya senior kamu. Saya
mahasiswa semester 4, kebetulan saya baru mengambil mata kuliah ini,...hehe”
ujarnya dengan cengar-cengir.
“Ohhh iya,....kenalin
kak, nama gue Irsa Kumala, tapi lo bias panggil gue Lala aja” ujar Lala memperkenalkan diri pada Dimas.
“Wahhh,....anak Menado kayaknya nih
dari logatnya...hehe” ujar Dimas sembari bercanda.
“Hahahahaha,....si kakak bisa aja
bercandanya, asli Betawi dong,..” jawab Lala sambil senyum kecut.
“Ohhh iya nama saya Dimas Prasetyo, panggi aja aku Dimas” ujar dimas sembari mengulurkan tangannya
“Kamu asli mana kak Dimas?” tanya Lala
“Aku asli Indonesia,....hahaha”
berkata Dimas sambil tertawa.
“Ohhh asli Indonesia, gue kira asli
Afrika kak,...hehe” cibir Lala sambil ikut tertawa.
“Iya deh gue asli Pemalang, tapi di sini ikut tante gue, kebetuan rumah tante gue di deket kampus ini” jawabnya menirukan logot elo-gue Lala.
“Huhhh,...kok kak Dimas ikut-ikutan
pake elo-gue nih, sinih bayar Royalti sama orang Betawi asli, melanggar Hak cipta itu,..haha” tertawa Lala yang merasa aneh mendengar
Dimas yang orang Jawa asli menirukan logatnya.
Sebuah perkenalan yang sangat
sederhana dan tak di sangka
hubungan mereka pun menjadi semakin akrab, apalagi setelah ia tau
bahwa Lala kos di dekat rumah tantenya tersebut, hampir setiap hari Lala bermain ke rumah tantenya yang hanya berjarak beberapa meter
saja, untuk sekedar ngobrol, membantu tantenya memasak, ataupun untuk meminjam koleksi-koleksi komik Dimas yang kebetulan kolektor
Komik Jepang tersebu. Kebetulan
Lala pun juga seorang penggila komik sama sepertinya.
Mengenai kos Lala yang terletak di
dekat rumah tantenya, Dimas pernah berfikir apakah itu sebuah kebetulankah,
takdirkah atau sebuah jodohkah? Eits,..jangan salah mengartikan tentang jodoh dulu,
bukankah jodoh tidak hanya soal pernikahan. Sebuah persahabatan, dan perjumpaan
juga adalah sebuah jodoh yang diatur oleh Tuhan. Kalau mau dipikirkan, bukankah
tempat kos begitu banyak di daerah sini, dan mengapa dia bisa kos di dekat
rumah tantenya? Dimas sempat bertanya-tanya.
Hubungan mereka sangat akrab tidak seperti seorang senior dan juniornya, tapi lebih dari
sekedar itu. Bahkan bisa dikatakan seperti ikatan persaudaraan. Dimas pun pernah mengunjungi rumah Lala beberapa kali saat libur
semester di Jakarta Selatan,
hinga keluarga Lala pun sudah menganal Dimas dengan baik. Dan Lala pun pernah
mengunjungi rumahnya di Pemalang. Satu hal yang dia kagumi dari Lala dan
keluarganya adalah bahwa Lala seorang anak pejabat tinggi, tetapi dia tak
pernah memamerkan kekayaannya dan sombong dengan orang lain, begitu juga dengan
keluarganya yang sangat hangat dan ramah dengan orang lain.
Bagi yang melihat keakraban dan
kemesraan mereka pasti semua akan mengira mereka berpacaran, tapi hingga kini
tak pernah ada di antara mereka yang mengatakan Cinta satu-samalainnya. Ya,
cinta yang terpendam, mungkin inilah kata yang paling tepat utuk menggambarkan
hubungan mereka.
Setelah seribu malam telah berlalu
Seribu mimpi pun musnah terkikis hampa
Mengapa seribu langkah mu menjauhi
mimpi-mimpi
Mengapa engkau telah menjauhi dirimu sendiri ,
wahai harapan
bukankah hidup adalah berharap,dan
mengharap
“Hay...bangun sudah siang tau, huh
dasar kebo, katanya janji mau
nemenin aku beli komik di Gramedia?” Gugah Lala sembari membuka horden dan menyipratkan air minum ke mata Dimas yang masih tertutup karna masih tertidur.
Lala memang selalu masuk
kamar Dimas tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Ya, seperti tadi yang dikatakan di awal cerita
bahwa mereka berdua sudah
seperti saudara. Tante Dimas pun tidak mempermasalahkan, karna tante Dimas yang tidak memiliki anak sudah menganggap Lala sebagai anaknya sendiri.
“Ah elo La, buset
pagi-pagi gini lo udah masuk ke kamarku aja. Gue baru bisa tidur nih, soalnya tadi aku nonton sepak bola di tivi “ berkata Dimas.
“Hahh pagi? ini udah siang loh kak
Dimas !!”
“Udah siang? bukannya ini masih pagi
La?” sambil mengucek-ngucek mata. “Ya ampun, iya udah jam sebelas, mana gue ada
janji sama Desi lagi buat lari-lari pagi, hilang deh kesempatan gue buat
pendekatan sama Desi anak Pertanian” berkata Dimas sambil mukanya yang masih
lecek karna belum mandi, bertambah lebih lecek lagi karena mengingat akan
hilangnya kesempatan mendekati cewek incarannya tersebut. Namun tanpa ia
sadari, saat Dimas menyebut nama Desi, sejenak Lala pun terdiam.
“Ohhh Desi yang kemarin dikenalkan itu
to..??” tanya Lala sambil manyun.
“Iya, kenapa kamu La? kok waktu gue
ngomong Desi mukamu ditekuk kaya uang kertas
lecek aja,..haha” sindir Dimas.
“Tidak ada apa-apa kok” jawab Lala
dengan gugup.
“Hayoo, jangan-jangan elo cemburu lagi
nih,..haha”
“Enggak dong, aku kan udah nganggap
kak Dimas sebagai pamanku,...haha” berkata Lala sambil nyengir kuda.
“Hahaha,....sialan gue dikira Paman lo,
sinih kepalamu gue jitak” Dimas pun menarik tangan Lala dan siap menjitaknya.
“Bentar-bentar kak, ngomong-nomong kok
logat bahasa kita ketukar yah, aku pake logat mbedog Jawa, dan kak Dimas pake
logat elo-gue yah?” tanya Lala yang baru menyadarinya.
“Ohhh iya yah,...hahahahahaha” mereka
pun menertawakan keanehan tersebut
Sembari tertawa Dimas pun tak sengaja
mengarahkan pandangan ke sebuah poster tim Real Madrid yang terpampang begitu
besarnya di kamar. Dan seketika
itu Dimas ingat hal
yang memilukan tentang kekalahan tim kesayangannya Real Madrid tadi pagi. Dia
juga ingat kalo dia kemarin siang bertaruh dengan Lala, kalo Real Madrid tim kesayangannya kalah dari Barcelona, ia janji akan mentraktir Lala makan sepuas-puasnya di caffe
“Niki Mawon” caffe tempat mereka tongkrong, begitu juga sebaliknya kalo
Barcelona yang kalah Lala lah yang harus mentraktir.
“Ahhh jangan sampe Lala inget, mana
dompet lagi tipis lagi,..hihihi” batin Dimas.
Walau pun mereka sama-sama mempunyai hobi baca
komik, tapi untuk urusan sepak bola mereka mengidolakan tim yang berbeda. Dimas lebih menyukai tim Real Madrid, sedangkan Lala lebih menyukai tim Barcelona.
Saking fanatiknya dengan tim masing-masing mereka pun sempat marahan
berminggu-minggu karena bola.
“Oh iya, gimana tadi pagi menang mana? solanya aku tadi ketiduran” Tanya Lala tak sabar.
“Ahhhh sial, akhirnya kamu inget juga dengan
taruhan kita,...huhh menang Barcelona 2:0” jawab Dimas dengan lesu.
“Oho,..berarti kamu nanti teraktir aku dong, masih ingat kan dengan taruhan kita” sambil
menyikut lengan Dimas yang baru selesai mandi.
”Huh,...nyesel aku tadi bilang baru bisa tidur, gara-gara nonton
bola di tivi sampe pagi, kamu jadi inget kita taruhan kemarin” jawab Dimas, seraya merapikan tempat tidurnya yang sudah seperti kapal pecah.
******
Sore ini sebelum ke caffe mereka berdua menuju toko buku tempat Favorit mereka terlebih dahulu, namun harapan Lala untuk di traktir oleh Dimas pun sirna, karna uang Dimas yang sudah tinggal pas-pasan buat ongkos pulang
pun habis untuk membeli komik
kesayangannya, dan pada akhirnya Lala lah yang malah mentraktir Dimas.
“Sering-sering aja yah La neraktir
gue,...hahaha” tawa Dimas sambil senyum melihat Lala yang dari tadi manyun. Dan
mereka berdua pun harus pulang jalan kaki setelah uang pas-pasan mereka habis
buat beli komik dan makan-makan. Ya, Dimas tahu sebenarnya Lala masih punya banyak
uang di ATMnya, kecil baginya untuk mengambil Jutaan rupiah, tapi itulah sifat
Lala walaupun anak seorang pejabat tinggi namun dia adalah seorang yang sangat
sederhana dan tidak sombong.
“Kak Dimas jalannya jangan cepet-cepet
dong, capek nih..” teriak Lala yang lari-lari kecil karena tertinggal Dimas.
“Lari ahhhhh,...dasar Lele lamban”
Dimas pun berlari bak pelari maraton.
“Huhhh dasar kak Dimas jahat namaku
Lala bukan Lele, emangnya aku ikan apa, udah ditraktir malah ditinggal kabur,
ngata-ngatain pula,...awas yah, tunggu pembalasanku” sambil mengajar Dimas yang
sudah hampir sampai rumah.
Waktu pun terasa cepat berlalu
tak terasa sudah satu tahun lebih mereka saling mengenal, namun
entah kenapa akhir-akhir ini Dimas sudah sangat jarang berjumpa dengan Lala.
Ya, Lala akhir-akhir ini menghilang bagaikan ditelan bumi. Pada suatu hari
Dimas pernah berjumpa dengannya di sebuah jalan sekitar Rumah Sakit dan waktu
itu Lala terlihat sangat lelah. Namun ketika ditanya mengapa dia terlihat lelah
dan akhir-akhir ini dia jarang melihatnya, Lala dengan bangga mengatakan kalau
kini dia sedang menjalankan bisnis pemasaran boneka dan bekerja paruh waktu di
salah satu warnet. Lala juga mengatakan karna kesibukannya sekarang, dia
meminta maaf kalau belum ada waktu untuk sekedar mampir ke rumah tante Dimas
lagi dan dia pun sempat menitipkan salam untuk tante Dimas yang sudah
menganggap Lala sebagai anaknya sendiri.
Banyak kesibukan-kesibukan yang telah memisahkan
persahabatan mereka, Dimas bertekad akan fokus pada kuliahnya, sedangkan Lala yang memiliki sifat mandiri fokus pada bisnis dan
pekerjaannya. Seandainya mereka bertemu
di kampus pun mereka hanya sekedar tegur sapa, walaupun entah mengapa Dimas sudah sangat jarang melihat Lala di kampus lagi.
Dimas pernah bertanya pada teman satu
angkatan Lala, namun sesuai dengan dugaannya, katanya Lala memang sudah sangat
jarang masuk kuliah, apa yang sebenarnya terjadi? walau pun jarak rumah mereka
berdekatan namun Dimas merasa
segan untuk bermain ke kos Lala, apalagi kini Dimas tak lagi sendiri, kini ia telah berpacaran dengan Desi. Dan tentu hubungannya dengan Lala pun tak bisa seperti dulu lagi. Kini ada
sebuah sekat yang memisahkan mereka, dan keakraban dengan Lala ditakutkan akan
membuat Desi pacarnya menjadi terluka dan salah mengartikan.
Seseorang tidak akan tau apa yang
dimilikinya,
Hingga,saat ia merasa sangat kehilangan
nya
Di hati kecinya, Dimas sedang merasakan kebimbangan.
Dia tak bisa membohongi hatinya. Dia memang tengah berpacaran dengan Desi, namun tak bisa dipungkiri ia sangat merindukan Lala. Ia merindukan canda-tawa, merindukan senyumnya, meridukan saat ia membaca komik bersama, dan segala hal tentang Lala memang selalu bisa
membuatnya merasa senang dan bahagia. Dan tak beberapa
lama melamun, ia di kejutkan oleh seseorang yang mengetuk pintu kamarnya hingga menyadarkan dari lamunan atas
kebimbangannya.
”Tok-tok-tok” suara pintu kamarnya
terketuk dengan cukup keras dan ia pun menerka kira-kira siapakah yang mengetuk pintunya
tersebut?, andaikan tantenya mengapa tidak langsung masuk saja, apakah Lala? Ahhh pasti tidak mungkin,...pikirnya
”Iya sebentar yah” jawab Dimas, dan ia pun membuka pintu kamar dengan
perlahan-lahan. Dia tak tau harus terkejut, senang, atau terharu melihat seorang yang ada di hadapannya itu. Ia pun tidak dapat menggambarkan bagaimanakah
perasaannya sekarang, ternyata Lala seorang yang selama ini di rindukan.
”Hay,,,bolehkah saya masuk?” tanya Lala berlaga sopan.
“Ohhh,..silahkan masuk nona cantik
pengusaha muda kita” jawab Dimas sembari tersenyum.
”Oh,,,terima kasih tuan” mereka berdua pun tertawa bersama,
”Hmmm yang sibuk bisnis sambil kerja dan yang sibuk
fokus kuliah nih, jadi lupa sama sejarah,..haha” sindir tante Dimas yang muncul
dari balik pintu.
“Ehhh tante, iya nih ponakan tante
sombong banget kalo di kampus,..hehe” berkata Lala.
“Sembarangan, kamu juga,...huuuhhh
dasar Lele” jawab Dimas.
“Namaku Lala, awas yah kalo ngomong
Lele lagi,...hahaha” dia pun melanjutkan
kata-katanya “Ngak terasa sudah
lama yah kita ngak tertawa berdua
gini?” berkata
Lala dengan mata sebam. Ya, memang sudah lama mereka tidak merasakan sebuah kebahagiaan seperti ini. Kebahagiaan yang dulu selalu
diasakannya dan akhir-akhir ini hilang. Lala pun melihat sekelilng kamar Dimas yang penuh
berserakan buku pelajaran, dan ia pun dapat menerka bahwa si pemilik kamar sedang belajar.
”Kita keluar yuk Dimas, masa malam yang indah kaya gini dilewatkan dengan Cuma belajar terus di kamar sih, hitung-hitung refresing” ajak Lala.
“Kemana La?”
“Ada deh, yang pasti malam ini kita
harus keluar dan menikmati malam yang indah ini dengan suka-cita, dan inget
jangan ada duka yah?,...hehe”
“Kamu ngomong apa sih la?” jawab Dimas
yang ngak paham dengan arah pembicaraan ini.
*****
Sesuai rencana awal Lala, malam ini
Dimas pun bersedia meninggalkan kamarnya yang hangat untuk berinteraksi dengan
dinginnya malam hari itu, mereka
pergi bersama mencari hiburan, menonton bioskop, ke taman kota, dan makan di caffe favorit mereka. Namun kali ini Lala lah yang mendapat bagian
mentraktir Dimas. Bercanda tawa bersama Lala memang membuat
waktu berputar lebih cepat dari biasanya dan tak terasa saat ini sudah larut
malam.
Sangat menyenangkan saling bercerita pengalaman-pengalaman
unik mereka selama mereka tak bertemu, selama Dimas aktif di organisasi dan selama Lala
menjalankan bisnis dan kerja di sebuah Warnet. Selalu
ada hal lucu yang mereka ceritakan dari pengalaman mereka. Satu
yang pasti ada dalam pikiran mereka, mereka sangat bahagia, dan ingin rasanya malam itu tidak pernah
berakhir.
“Wahhh gak kerasa sudah sampai rumah,
aku masuk dulu yah La..slamat malam Lala.” berkata Dimas ketika akan membuka
pintu. Namun sebelum ia masuk pintu, suara Lala yang bercampur isakan air mata
menghentikan langkahnya.
“Tunggu kak Dimas” berkata Lala lalu
keheningan pun melanda malam itu.
“Ada apa La?” tanya Dimas.
“Mungkin ini terakhir kalinya aku
berada di kota ini kak, karna besok pagi aku akan pulang ke Jakarta buat
transit dan langsung terbang Singapura kak....aku ragu apakah suatu saat nanti
kita bisa bertemu lagi”
“Singapura? berapa hari disana? terus
kapan pulang kesini lagi La?” tanya Dimas yang terlihat mulai gusar.
Lala pun sejenak terdiam, ia terpaku
menatap Dimas,....semilir angin yang melambai lembut malam itu pun serasa
menusuk pori-pori malam itu, Ya, malam itu sangat hening....malam yang tidak
ingin dijumpai mereka.
“Sudah lama aku menyimpan rahasia ini”
berkata Lala yang di sambut oleh keheningan malam dan suara alunan jangkrik.
“Aku mengidap kelainan jantung dan harus menjalani cangkok jantung di Sana,
karna kemampuan medis di sini belum mampu” lanjut Lala berkata dengan mata yang
berkaca-kaca.
“Kelainan Jantung? sejak kapan La”
tanya Dimas dengan air mata yang mulai menetes di antara sela kedua pipinya.
“Sejak beberapa bulan ini” sejenak ia
pun terdiam dan melanjutkan kata-katanya. “Sebenarnya aku berbohong waktu
berkata bekerja paruh waktu dan bisnis boneka, yang sebenarnya terjadi, selama beberapa
bulan ini aku terus-terusan berobat dan berkali-kali diopname di Rumah Sakit.
Maaf bila selama ini aku telah membohongi banyak orang termasuk kamu dan
tantemu”.berkata Lala sambil mengusap air matanya “Dan menurut dokter yang
menanganiku, kesempatanku untuk hidup sudah sangat tipis kak, walau kemungkinan
itu masih ada”.
“Kenapa selama ini kamu merahasiakan
dariku? walaupun aku tak bisa membantumu, tapi setidaknya aku bisa membuatmu
merasa tak sendiri, menemanimu dan menangis bersamamu” berkata Dika dengan nada
tinggi.
“Jawabannya sederhana,...aku ngak mau
membuat kak Dika sedih” jawab Lala, dan sejak kata-kata itu, mereka terdiam
cukup lama sebelum Dika memecahkan keheningan
“Lalu bagaimana dengan kuliahmu?”
tanya Dimas tak percaya.
“Entahlah kak,....saat ini aku sudah
tidak memiliki impian lagi, seandainya ini pertemuan terakhir kita....”
“Tolong jangan katakan itu lagi, aku
tak mau mendengarnya La, terima kasih untuk malam ini,....selamat malam Lala”
Dika pun memotong perkataan Lala “Aku masuk rumah dulu” imbuh Dimas berkata
dengan lesu dan tapapan kosong.
“Tunggu kak” ujarnya menghentikan
langkah Dimas yang tinggal selangkah lagi memasuki rumah, “Aku ingin
mengucapkan kata-kata yang mungkin ini merupakan kata-kata terakhir untukmu,
semoga dengan kata-kataku ini bisa membuat kak Dimas tak sedih dan bisa
melupakanku” berkata Lala dengan sebuah senyuman yang menggambarkan akan
ketegarannya. Lanjutnya “Semua ini adalah bagian dari kehidupan. Aku, kamu,
kita dan mereka. Kita tidak akan pernah tau apa yang akan terjadi kemudian hari. Namun hidup terus berjalan, dan kita tidak bisa diam dalam satu
titik. Bukankah kehidupan adalah sebuah perjalanan
panjang yang sangat melelahkan”
Malam yang dipikirnya beberapa menit
yang lalu sebagai malam terindah, kini menjadi malam paling suram dalam
hidupnya. Ia pun menutup pintu dengan sisa tenaga dan memandang Lala yang
berlalu melalui kaca jendela dengan setumpuk kesedihan.
“Semoga ini hanya mimpi,....semoga ini
hanya mimpi,.....semoga ini hanya mimpi,.....semoga ini hanya mimpi” berkata
Dimas berulang-ulang hingga terlelap. Namun saat dia terbangun hanyalah
kenyataan pahit yang ada bahwa Lala memang telah pergi dari kota ini dan ini
bukanlah mimpi, tapi kenyataan.
*****
Satu tahun berlalu,
Dimas pun tersadar dari lamunannya, tentang kenangannya beberapa tahun yang lalu. Ya, pagi ini ia telah
menjalankan ujian skripsi, satu tahap untuk mendapatkan gelar sarjana. Jabatan tangan teman-teman Dimas hadir yang menyaksikan dari luar ruangan
menyudahi ujian tersebut. Ujian skripsi addalah ujian yang tertutup dan hanya
Dosen pembimbing dan Dosen penguji yang berada dalam ruangan dan Dimas pun
dapat tersenyum lebar karena dia mendapatkan nilai A.
“Dimas Prasetyo Adi, selamat yah” berkata Desi
yang hadir di ujian skripsinya dan dari tadi menyaksikan dari luar.
“Makasih Des...”
jawabnya sembari tersenyum.
“Oh iya ini ada titipan buat kamu dari seseorang”
berkata Desi sambil mengulurkan tangannya yang membawa sobekan kertas yang
terlipat.
“Dari siapa ini?” tanya dimas yang terheran-heran.
“Buka saja kamu pasti tau,..” jawab Desi sembari
tersenyum-senyum.
Dan dia pun membuka sobekan kertas tersebut dan
mambacanya:
Buat kak Dimas.
Selamat yah atas ujian skripsinya, satu rintangan
telah terlewati, dan satu tahap lagi menuju gelar sarjana, Semangat !
Dan lebih kaget lagi saat tau siapa pengirimnya.
Dari sobekan kertas itu tertulis bahwa pengirimnya adalah Lala, seorang yang
sangat dirindukannya, pandangan matanya pun sekilas tertuju pada jendela di
ruangan itu dan melihat samar-samar Lala berdiri di depan tempat itu dengan senyum
penuh kerahaman khasnya, namun ketika ia lari-lari kecil menuju tempat Lala tadi
berada, ia sudah tidak ada di sana, apakah apa yang dilihatnya tadi hanyalah
sebuah ilusi. Apakah sobekan kertas itu hanyalah kebohongan Desi?, dan Desi
berniat mengerjai dirinya, karena dendam setelah diputuskan cintanya setahun
yang lalu? entahlah.
Ia pun berjalan lesu meninggalkan ruangan tempat
ujian skripsinya, dan tanpa ia sadari kini ia berjalan menuju kelas tempat
pertama kali ia menganal Lala. Tiba-tiba ia pun berhenti dan perlahan-lahan
memuka pintu kelas itu.
“Ahhh,....sebuah kenangan lama. Ya, pasti apa yang
dilihatnya tadi hanyalah ilusi, bukankah Lala sendiri yang mengatakan bahwa
harapannya untuk hidup sudah tipis” Dika pun meninggalkan kampusnya dengan
senyum karna mengingat kenangan indahnya bersama Lala.
*****
"Aku ingin mencintaimu dengan sederhana...
Seperti kata yang tak
sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu...
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana...
Seperti isyarat yang tak
sempat dikirimkan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada..."
Itu adalah kata-kata cinta seorang Sapardi Djoko Damono dan aku tak ingin seperti Kahlil
Gibran yang sampai akhir hidupnya ia tak mempunyai keberanian untuk
mengutarakan perasaan kepada wanita yang sangat dicintainya, dan meninggal
dengan rasa kecewa,..
“Dan aku pun seperti itu. Ya, namaku
adalah Dimas, seorang yang tidak mempunyai keberanian untuk mengungkapkan
perasaan dan kini menyesalinya”. pikir Dimas.
Hari ini Dimas tengah duduk menyendiri
membaca dan memilih-milih buku di sebuah toko buku tempat dia dan Lala biasa
membeli ataupun untuk melihat-lihat komik Jepang favoritnya. Namun akhir-akhir
ini dia lebih senang membeli buku-buku novel dan motivasi. Baginya komik-komik
Jepang hanya akan mengingatkan ia dengan Lala, bukankah dia harus berusaha
melupakannya, walau kenangan-kenangan indah bersamanya tidak akan pernah
terlupakan.
Entah kenapa menurutnya toko buku
selalu bisa membuatnya melupakan sedikit kesedihan, masalah dan kepenatan.
Menurutnya mengunjungi toko buku lebih menyenangkan dari pada menonton filem di
gedung bioskop. Baginya toko buku selalu menghadirkan ketenangan walaupun
banyak orang-orang yang berlalu-lalang di sini.
“Maaf mau tanya, kalau mau nyari komik Zengki
edisi terbaru di mana yah?” ujar seseorang yang berdiri di depannya dan
membangunkan dari lamunannya.
“Kalo Komik cari saja di belakang tempat ini...”
jawab Dimas dengan pandangan mata yang masih tertuju pada buku yang sedang
dibacanya. Namun dia merasa tak asing dengan suara itu dan perlahan-lahan
menengadahkan kepala untuk melihat siapa lawan bicaranya tersebut, dan dia pun
tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
“Lala kamu sudah sembuh? kapan datang? dan
bagaimana kabarmu? ahhh tidak ini pasti mimpi dan lagi-lagi aku pasti
berhalusinasi” berkata Dimas dengan nada memburu.
“Iya kak, ini aku, dan aku nyata bukan ilusi.
Dokter telah berhasil melakukan pencakokan jantung, dan saya sudah dinyatakan
sembuh oleh dokter...” berkata Lala dengan mata yang berkaca-kaca dan senyumnya
yang khas.
“Jadi apa yang aku lihat di ujian skripsiku..??”
tanya Dimas tak kuasa menahan kegembiraannya.
“Iya itu aku. Aku sudah di kota ini sejak seminggu yang lalu” sejenak
terdiam “Mulai semester depan aku akan kembali mulai kuliah dan kos di tempat
yang dulu, rencananya aku pengim membuat kejutan buat kak Dimas” ujarnya dengan
senyum yang mengembang.
“Ahhh,..kamu La, ada-ada saja..” jawab Dimas yang
sangat senang dapat melihat Lala kembali.
“Kak Dimas, apa kamu pernah membaca sebuah syair
dari sebuah buku Kumpulan Kata-Kata Bijak
literatur penulis besar Indonesia??..Di situ ada sebuah syair yang sangat aku
sukai”. Lala pun berkata dan kata-kata tersebut telah memecah rasa canggung
yang hadir, karena mereka sudah lama tak saling bertemu.
“Cintai aku dengan sederhana, maka aku akan
mencintaimu penuh semesta” jawab Dimas dan Lala pun melanjutkan kata-kata tersebut.
“Dan aku berharap orang yang mencintai aku dengan
sederhana adalah kamu Dimas Presetyo Adi” berkata Lala dengan rasa malu-malu.
“Jadi selama ini kita saling mencintai dan
memendam perasaan kita?” tanya Dimas dengan langsung memeluk erat Lala.
“Kak Dimas,...lepasin ahh, kan malu dilihatin
orang-orang” berkata Lala.
“Aku gak peduli, aku ngak mau kehilangan kamu
lagi” setelah beberapa lama memeluk, perlahan-lahan Dimas melepaskan pelukannya
dan berkata dengan berteriak
“Lala aku sangat mencintaimu...!!!” sontak
orang-orang yang berada di dalam toko buku itu pun terdiam dan mengarahkan
pandangan ke arah mereka, dan mereka berdua pun tersenyum dan tertawa kecil
setelah meninggalkan toko buku itu dengan bergandengan tangan.
-TAMAT-
Janganah sudah merasa berpuas diri
terhadap sebuah keberhasilan,
Karna ujian yang sebenar nya akan
hadir setelah itu
Porwokerto,23 Mei 2012


