Puisi dan Kata-kata Bijak

Minggu, 05 Agustus 2012

Sahabat Terindah

-->


Sahabat Terindah


Sahabat yang baik, adalah sahabat yang sering sejalan denganku,
Dan menjaga nama baikku,ketika aku hidup,maupun setelah aku mati nanti,


Desau angin merambat diantara jalan setapak, dedaunan berguguran satu-demi satu ke tanah menyiratkan sebuah makna yang teramat dalam bagi mereka yang mampu membaca alam, satu demi satu daun yang telah gugur akan tergantikan tunas-tunas baru yang akan menggantikannya, bukankah di dunia ini tidak ada yang abadi. Hari ini hujan kembali membasahi bumi ini entah sudah berapa kalikah tetes air telah menusuk jantung bumi, bagai sebuah mata pedang yang melayang turun dari langit
Diantara rinai hujan tersebut, Ani sedang mempersiapkan bahan-bahan yang akan ia bawa nanti saat Ospek, ya.Ani adalah seorang mahasiswi baru, yang harus mengikuti aturan-aturan yang ada di fakultasnya bila ia ingin mendapat teman disana, walau sebenarnya ia kurang suka dengan cara perpeloncoan seperti itu, mengapa tidak diadakan acara bakti sosial saja atau semacamnya yang lebih bermanfaat, menurutnya kegiatan Ospek tersebut hanyalah ajang balas dendam kakak kelas dan juga tempat nampang kakak-kakak kelas untuk menunjukan betapa berkuasanya mereka, walau sebenarnya mereka hanya mahasiswa biasa yang kebetulan mengikuti UKM.
”huh bikin orang repot saja”gumam Ani dalam hati sembari memasukan bahan-bahan yang akan digunakan saat Ospek besok kedalam tasnya.
******
Pagi hari yang melelahkan bagi mahasiswa baru. Satu demi satu mahasiswa baru telah berdatangan di depan aula, dan siap menerima interuksi dari para senior, untuk meminta tandatangan dan untuk mengisi lembar agenda yang sudah disediakan, dengan dandanan yang mencolok, para senior terlihat tengah sibuk memeriksa perlengkapan para mahasiswa baru satu-persatu, mereka tidak segan menghukum ketika didapatinya perlengkapan yang dibawa mahasiswa baru tersebut kurang lengkap.
Namun pagi itu Ani bangun kesiangan, karna semalam ia menyiapkan bahan-bahan tersebut hingga larut malam dan pada akhirnya ia terlambat datang, dia berjalan menuju aula dengan cueknya yang tanpa dia sadari ada mahasiswa senior yang sejak dari tadi berdiri di belakangnya dan mencegatnya.
”hey,,,kenapa kamu terlambat,?”tanya seorang senior yang berbadan tegap dan berambut pendek ala militer tersebut dengan lantang, dengan suara yang di buat-buat supaya orang yang mendengar takut padanya, ketika Ani mulai memasuki pintu aula tersebut.
Lagi-lagi senior yang itu. Sudah dari kemarin dia selalu memarahi dan mengerjainya. Terlebih dia selalu mencari-cari alasan untuk menghukumnya, huh dasar polisi gadungan fikirnya.
Bangun kesiangan kak, tadi malam tidur kemalaman” jawab Ani sembari mengucek-ngucek matanya karna menahan kantuk.
“Apa kamu tidak tau, bukan kamu saja yang kemarin malam tidur kemalaman, semua temen-temen kamu juga pastinya kemarin tidur kemalaman, tapi mereka bisa datang tepat waktu”.
“Lalu harus gimana lagi, memang kenyataannya saya datang terlambat, sudah mending saya mau mengikuti acara Ospek  yang konyol ini”
”wah,..hebat adik kita yang satu ini, berani melawan senior ya,!!,siapa nama kamu?” tanyanya dengan masih suara lantang.
Dwi Yani”jawabnya dengan tenang, “Panggil saja saya Ani”. Senior tersebut pun menarik dia ke tengah kerumunan mahasiswa-mahasiswa lain yang juga sedang mengikuti ospek.
“Hai teman-teman, lihat ada mahasiswa baru yang berani melawan kita dan datang terlambat”berkatalah dia dengan tatapan sinis. “Bagaimana kalau dia kita hukum, setuju tidak?” tanyanya kepada kerumunan mahasiswa yang sedang mengikuti ospek, semua mahasiswa baru hanya dapat menundukan kepalanya dan tidak berani nenatap mata sang senior tersebut yang tatapan matanya setajam Rajawali.
 ”Bagus, sebagai hukumannya. karena kamu terlambat, kamu harus menyanyi untuk kita semua, setuju temen-temen??” berkata senior tersebut sembari tersenyum padanya, sungguh senyum yang sangat menyakitkan. Bagi mereka mentertawakan orang lain memang suatu hal yang sangat menyenangkan, tapi apakah mereka tidak tahu bahwa orang yang ditertawakannya itu menangis, walau hanya didalam hatinya.
”setuju,,,” berkatalah semua yang ada di dalam Aula  baik senior atau pun junior secara  serempak. Bagus, ya inilah ciri khas sebuah peradaban manusia, dimana akan selalu ada orang yang mentertawakan dan yang ditertawakan.

Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu Ani pun datang. Ospek yang melelahkan itu pun berakhir. Huh,..tidak disangka dia telah melewati tiga hari dalam masa-masa yang berat dan melelahkan, yang benar-benar telah menguji mentalnya secara tidak langsung.
Berakhirnya Ospek menandakan kemenangan bagi dirinya karena telah berhasil mengalahkan rasa takut dan sifat pemalunya, kini tiba saatnya malam ke akraban atau sering disebut Makrab. Di malam ini tidak ada lagi dendam antara junior terhadap seniornya, semuanya melebur menjadi satu, tertawa-tawa, bernyanyi-nyanyi bersama, ditengah kesejukan malam hari di daerah pegunungan yang diterangi beribu bintang tersebut.
Dia pun seketika teringat masa kecilnya yang sangat ingin menggenggam cahaya bintang dan selalu meminta Orang tuanya untuk mengambilkan satu bintang diatas langit. Saat itu dia menangis ketika kedua orang tuanya tidak pernah menanggapi dan mengabulkan permintaanya dan baru dia sadari saat Ayahnya telah tiada saat dirinya memasuki Sekolah Dasar. Dia menyadari bahwa hal tersebut tidak mungkin terjadi dan kita hanya bisa menyalakan pijar sang bintang hanya dalam hati saja, itu kata-kata yang pernah dikatakan Almarhum ayahnya. Dan ia percaya ayahnya kini telah menjadi salah satu bintang diatas langit yang kerap dipandanginya setiap malam.
Dibawah sinaran remang-remang rembulan, semuanya tampak bergembira karna lusa tepat pada hari senin mereka sudah mulai masuk kuliah untuk pertama kali.
Hay Ani” sapa sang senior tersebut, sang senior yang berbadan tegap dan berambut pendek, yang selama ospek selalu memarahinya. Dia pun mendekati Ani yang sedang duduk menyendiri menikmati udara malam itu, sembari memberikan sebuah Jagung bakar yang disediakan oleh panitia.
Dia pun menerimanya dengan malu-malu, ditengah hangatnya suasana malam yang remang, terlihat sang rembulan bagaikan sebuah mata raksasa diatas langit yang berwarna jingga mengintai, mereka saling bercengkrama dibawahnya.
Maaf ya Ani, selama ospek aku memarahi kamu terus, sebenarnya aku tidak bermaksud memarahi kamu, jujur mungkin dengan cara beginilah para senior berusaha untuk mendekatkan diri kepada mahasiswa baru” berkata sang senior tersebut dengan suara yang terdengar sangat ramah dan lembut, sungguh sangat berbeda sekali dengan suaranya yang lantang saat ospek dulu.
“Mungkin seandainya tidak ada Ospek dan aku tidak memarahi kamu, sampai saat ini aku belum mengenal seorang Ani yang tomboi ini, iya kan??,..hahaha”mereka pun tertawa bersama
Gak papa mas, nyantai aja,.. jawab Ani dengan gaya tomboynya
Oh iya,,kenalin namaku Dika” ia pun mengulurkan tangannya. Ternyata dia adalah kakak dua tingkatan diatasnya. Selain ramah ternyata dia adalah orang yang sangat humoris, dia selalu dapat membuatnya tertawa dimalam itu, tidak seperti apa yang difikirkannya dulu ketika ospek. Mereka mengobrol hingga larut malam tidak pernah habis cerita yang diceritakan seorang Dika yang selalu membuat Ani tertawa hingga lupa akan rasa kantuknya, padahal besok dia harus kuliah untuk pertama kalinya.

**********
Waktu  pun berlalu hubungan mereka pun semakin akrab, terlebih Dika sering mengikuti kelas Ani, karna ada beberapa mata kuliah yang harus ia ulang kembali. Nilai-niai beberapa mata kuliah sebelumnya memang ada yang kurang memuaskan, namun dia sebenarnya adalah mahasiswa yang cerdas. Dia seorang yang sangat kritis, baginya lebih baik mendapat nilai jelek daripada harus menyerah terhadap idealismenya. Dari sekedar saling bercanda bersama, sampai mengerjakan tugas bersama. Apalagi mereka berasal dari satu kota dan mereka biasa pulang mudik bersama setiap bulannya.
Dika sering bermain ketempat kos Ani dan karna sifat Dika yang mudah bergaul, teman-teman satu kosnya pun akrab dengannya. bahkan, Ibu kos Ani pun sangat menyukai karna sifatnya yang sopan tersebut.
Apalagi di tempat kost Ani ada anak umur 5 tahun yang sangat lucu, badanya gemuk anak ibu kost namanya Tito. Dika sangat sayang kepada Tito dan menganggapnya seperti adiknya sendiri. Pada dasarnya Dika sangat ingin memiliki seorang adik, karna dia adalah anak tunggal dikeluarganya. Dia senang bermain-main dengannya, mengajak jalan-jalan, memberikan Es krim kesukaan Tito ataupun mencubiti pipi Tito yang bulat, merka selalu pergi bertiga Dika, Ani dan Tito.
Saat-saat itulah saat terindah yang pernah dirasakan Ani. Pergi bertiga ke taman kota hingga sore hari, melihat dan menemani Tito bermain sepak bola dengan Dika, pergi ke Mal dan hal-hal lain yang sangat menyenangkan yang mereka lakukan bertiga. Bahkan tak jarang dia sering membantu Ani merapikan kamarnya yang seperti kapal pecah sambil bermain-main dengan Tito.
Dika adalah tipe laki-laki yang sangat mencintai kebersihan. Berbeda dengan Ani, walau pun ia perempuan namun ia paling malas untuk merapikan kamarnya sendiri. Karena keakraban diantara keduanya, teman-teman dan Ibu kostnya pun menganggap mereka berpacaran.
Pada intinya Ani mulai menyukai sikap dewasa dan perhatian Dika yang selama ini dia berikan.
Pernah suatu ketika Ani sangat terpukul saat Paman tercintanya meninggal dunia, Dika selama satu minggu terus-menerus menghiburnya, namun saat dia merasa tidak dapat membuatnya bangkit dari kesedihan, Dika membawa Ani jalan-jalan berdua. Namun bukan taman atau pun tempat hiburan yang mereka kunjungi tetapi tempat pemakaman.
“Kamu lihat betapa tenangnya tempat ini” Dika memecahkan keheningan yang terjadi
“Apa maksud kamu membawaku ke tempat ini?” tanya Ani masih memendam kesedihan
“Aku membawa kamu kesini biar kamu sadar, kalau Paman kamu pasti tidak akan senang melihat keponakan tercintanya terus menerus bersedih atas kepergiannya” dia berhenti sejenak untuk menarik nafas panjang.
”Apa kamu tidak mengerti kalau paman kamu dan semua yang telah meninggal dunia itu tidaklah pergi untuk selama-lamanya, mereka hanya tertidur dan suatu saat mereka akan bangun dari tidur panjangnya dan berjumpa dengan orang-orang yang dikasihinya” berkatalah Dika dengan lantang seperti beberapa tahun yang lalu saat ospek dulu.
 “Seandainya kamu tetap bersedih, berarti kamu adalah seorang yang pengecut, seorang yang takut menghadapi dunia ini dan aku tidak akan pernah mau mengenal seorang pengecut. Seandainya kamu masih menangisi kepergian pamanmu jangan pernah menganggap aku sebagai teman kamu” Ani tidak pernah mendengarnya marah seperti ini, tapi apa yang dikatakannya adalah benar dan itu adalah cerminan dari sikap kedewasaan Dika yang selalu memberikan motifasi untuk menjadi seorang yang lebih baik
Ani terus menunggu dan terus memendam perasaannya kepada Dika, tidak baik seorang perempuan mengatakan cinta terlebih dahulu kepada seorang laki-laki itulah pemahaman kuno yang masih diterapkan Ani, namun mau sampai kapan dia menunggu??.
Hingga saat itu, Dika tidak juga mengungkapkan, atau mungkin perasaan yang dia rasakan selama ini bertepuk sebelah tangan dan Dia hanya menganggapnya sebagai seorang adik, tidak lebih dari itu...seandainya benar akan terasa sakit memang. Namun dia mulai terbiasa dengan semua ini, ya mungkin benar kalau rasa cinta dan sayang memang tidak selamanya harus memiliki. Hidup terus berjalan dan dia harus menerima kenyataan kalau dia harus berhenti mengharapkan Dika.
Hmmm,....ternyata Ani merasa sikapnya kini sudah sedikit dewasa dalam bersikap, tidak seperti saat dia masih SMU yang selalu meledak-ledak. Ya, ini pasti karena peranan Dika yang secara tidak sadar telah merubah pandangannya tentang hidup ini, karena pada dasarnya sikap Dika benar-benar dewasa. Itulah yang membuat dia mencintainya.
Dia ingin menjauh dari Dika, agar dia tidak merusak persahabatan yang terjalin selama ini dengan perasaan cinta kepadanya. Apalagi sejak Ani terpilih menjadi Asisten Dosen dia mulai sering pulang malam hari, karena disibukkan dengan pekerjaannya. Dika tidak mau mengganggunya dan lebih memilih bermain-main bersama Tito anak ibu kost dan secara sembunyi-sembunyi Ani selalu memandangi Dika yang sedang bermain dengan Tito dari balik jendela kamarnya. Ya, Senyum Dika memang masih sama seperti yang dulu, senyum yang lembut dan tulus.
 Ani mulai bisa melupakan Dika terlebih sejak kehadiran Raka teman satu kelas yang mulai menggantikan peranan seorang Dika dalam hidupnya. Dan sejak kabar bahwa Ani kini tengah berpacaran dengan Raka merebak, sejak saat itu Dika tidak pernah  mengunjungi tempat kostnya lagi, entah apa yang terjadi.
* * * *
Waktu pun terus dan terus berlalu, takterasa sudah empat tahun dia kuliah, banyak kenangan-kenangan indah, sedih, pengharapan dan perjuanggan telah terukir ditempat ini, sepertinya baru saja kemarin ia masuk Universitas, masih segar diingatanya saat ia pertama kali mengikuti ospek. Saat, ia dimarahi oleh Dika dan kawan-kawannya.
Tak terasa seminggu lagi Ani akan di wisuda, pikirannya melayang kepada Dika. Ya, akhir-akhir ini Dia memang tidak pernah berkunjung ke tempat kosnya lagi. Yang dia tau dari teman-teman angkatan Dika, kalau Dia tengah sibuk mengurus skripsinya yang tak kunjung kelar-kelar, sebenarnya Dika adalah seorang yang pintar, bahkan sebelum Ani menjadi Asdos, Dika pun adalah seorang asisten dosen, namun sekali lagi banyak orang pintar yang kalah dengan orang yang beruntung dan ia pun berbangga hati ternyata ia bisa lulus terlebih dahulu dari pada Dika seniornya.
Terlebih kehadiran Raka yang telah mengisi kekosongan hatinya, ia perlahan-ahan mulai dapat melupakan Dika, walau didalam hatinya dia tau bahwa sosok Dika tidak akan pernah tergantikan.
Setelah seribu malam telah berlalu
Seribu mimpi pun musnah terkikis hampa
Mengapa seribu langkahmu menjauhi mimpi-mimpi
Mengapa  engkau telah menjauhi dirimu sendiri ,
wahai harapan
bukankah hidup adalah berharap,dan mengharap


Sambil tak lepas dari senyumnya, dia pun membuka pintu kamar kost dengan hati berbunga-bunga, dia pun kaget dengan keadaan kamar kostnya yang sudah rapi. Dia pun segera tau bahwa yang merapikannya pasti Dika, sekilas dilihatnya Tito tengah asyik dengan Es Krim favoritnya. Ia mencari-cari kehadiran temannya yang satu itu, teman yang cukuplama diharapkan kedatangannya, namun yang ditemukan hanya sepucuk surat yang ditaruh di bawah pintu
To: Ani
Aku tunggu di Aula kampus jam 10, ada yang ingin aku bicarakan
From: Dika
 Dia pun segera melihat kearah jam tangannya,
Astaga, jam sebelas” dia pun bergegas menuju Aula kampus. Namun, setelah sampai disana dia tidak menemukan Dika, mungkin Dika sudah pergi, fikirnya setelah dia melihat jam tangannya yang menunjukan jam sebelas tiga puluh siang, kecewa dan sedih rasa itu bercampur menjadi satu, padahal inilah kesempatan untuk bertemu kawan lamanya yang sudah cukup lama tidak bertemu dan dia pun berencana meninggalkan aula tersebut dengan rasa kecewa. Namun baru beberapa kali melangkah dia dikejutkan oleh suara yang memanggil dari arah belakang
”hey,tomboy”
Ternyata Dika yang muncul tiba-tiba,
 ”Selamat ya, kamu bisa lulus lebih dulu dari aku ” Dika pun merangkul sahabatnya tersebut.
”Makasih Mas Dika, tapi masih seminggu lagi wisudanya, kok kasih selamatnya sekarang?” Ani pun berhenti sejenak memandang sahabat yang dirindukannya tersebut.
Ngomong-ngomong, mas Dika mau kemana?, kok bawa koper segala” tanyanya ketika melihat ia membawa banyak barang-barang seperti orang yang akan pergi jauh, ya. jauh sekali.
”Gak tau tuh, aku hari ini pengin banget ketemu kamu,..Eh maaf tadi kamu tanya apa? Dika pun sejenak menghentikan langkahnya. Ani Menurut firasatku, aku harus kasih selamat ke kamu sekarang” berkata Dika sembari berjalan bersama menyusuri koridor yang ada di Aula....Aula tempat mereka pertama kali bertemu saat kegiatan ospek dulu.
”Oh iya Ani, aku mau mudik, tiba-tiba aku kangen sama rumah, aku mau nengok orang tuaku,” sejenak Dika menghentikan kata-katanya. Hening, ya ada rasa keheningan yang tiba-tiba hadir.
Tapi aku janji. Nanti, tepat hari kamu di wisuda aku pasti datang, pasti” berkatalah dia sembari tersenyum. Senyum yang sangat berbeda dengan senyum-senyum seperti biasanya, namun entah mengapa Ani merasa inilah saat terakhir kalinya ia melihat Dika, namun ia cepat cepat menepis pikiran tersebut, hari ini Dika terlihat sangat berbeda...ya dia terlihat lebih gagah dari biasanya.
”Oh iya, jangan lupa satu minggu lagi kamu harus siap-siap untuk  mentraktir sahabatmu yang satu ini ya?” berkata Dika sembari tersenyum ”kamu harus bawa uang yang banyak, aku mau makan di cafe depan sepuas-puasnya” imbuhnya
Tenang aja Mas Dika, paling kalo uangnya kurang kita disuruh nyuci piring,..hehe” mereka pun tertawa bersama,..ya perasaan ini kembali hadir, perasaan senang yang tidak bisa dihadirkan oleh seorang Raka pacarnya sekalipun, perasaan hangat dan damai seperti beberapa tahun yang lalu saat mereka selalu bersama, mereka pun larut dalam massa lalu
”Ani, aku mengundang kamu kesini, mungkin Cuma mau mengucapkan selamat untuk kamu..aku takut aku tidak bisa mengucapkannya saat kamu wisuda, maklum orang sibuk..hehe” tanyanya
Oh, ngak bisa pkoknya mas Dika harus bisa datang,” jawab Ani dengan gusar, entah kenapa dia selalu merasa gusar bila Dika berkata pisah, ia melihat seorang yang dihadapinya bukan seorang Dika yang biasanya, seorang Dika yang dulu selalu berfikiran optimis.
”Oh iya, aku juga mau ngasih surat ini untuk kamu, tapi kamu harus janji untuk membuka surat ini saat kamu selesai di Wisuda, aku harap kamu jangan marah terhadap isi surat ini” dia pun kembali tersenyum ” Ani semoga kamu sukses di dunia kerja nanti, sekali lagi selamat, aku pergi dulu ya” mereka pun berpisah, lagi-lagi timbul perasaan haru berkecambuk dihatinya.
Dia pun terpaku melihat Dika berlalu diantara kerumunan mahasiswa-mahasiswi yang berlalu-lalang, tepat di depan Aula tempat pertama kali ia bertemu Dika saat ospek empat tahun yang lalu. Dia pun terus memandangi Dika yang berlalu hingga ia hilang dari pandanganya...ya hilang selama-lamanya dari pandangannya


* * * *
Hari ini kedua orangtua Ani dan saudara-saudaranya datang untuk menghadiri wisudanya, ia pun telah mempersiapkan semuanya, pergi ke salon dan lain sebagainya, maklum perempuan selalu menghabiskan seperempat harinya untuk berdandan untuk sebuah penampilan yang maksimal.
Suasana di Jalan Ir.Sutami 36 A Surakarta tempat Auditorium Kampus UNS, terlihat sangat ramai tidak seperti biasanya, baik kendaraan pribadi maupun kendaraan carteran tumpah-ruah di jalanan. Bahkan tidak mau ketinggalan tukang foto dadakan menambah meriahnya suasana, banyak para wisudawan datang bersama keluarganya dan sanak saudaranya yang ingin menyaksikan keluarga atau pun kerabat yang akan di wisuda, karna mungkin, ini adalah hari yang tidak akan pernah dilupakan para wisudawan.
Hari penentuan. Hari yang cukup mengundang rasa haru untuk Ani, setelah kurang lebih empat tahun dia menuntut ilmu di kota ini, dia harus berpisah dengan suasanya hangat dan bersahabat kota ini. Namun, seperti yang selalu Dika katakan bahwa hidup terus berjalan, kita tidak bisa selalu larut dalam keharuan. Hidup ini kenyataan hari ini bukan masa lalu, mungkin sama juga perasaan yang dirasakan para wisudawan yang lainnya,.
Ya. Rasa berat meninggalkan kota ini selalu hadir dihati mereka. Karena mungkin mereka akan meninggalkan kota ini, entah berapa tahun lagi baru bisa kembali ke kota ini. Entah akan bekerja di kota mana dan pastinya akan disibukkan dengan rutinitas kerja yang membuat mereka tidak punya banyak waktu luang.
Suasana di gedung Auditorium kampus UNS sangat meriah, semuanya tumpah-ruah disini dan Ani pun telah duduk di kursi depan tempat mahasiswa yang lulus secara Cumlaude dengan peredikat lulus secara terpuji. Namun dia selalu mengarahkan pandangan ke arah kerumunan warga, mencari-cari dan menerawang kerumunan dan mulai gusar saat tidak dilihatnya Dika dan bertanya-tanya di dalam hatinya, mengapa Dika belum juga datang, bukankah ia sudah janji ia akan menghadiri wisudanya.
”Dwi Yani” tibalah saat Ani untuk maju kedepan untuk menerima pelakat dan ucapan selemat dari sang Rektor, terdengar suara gemuruh tepuk tangan dari sahabat-sahabatnya dan keluarganya. dia pun terharu. Ya,..inilah hasil kerja kerasnya selama bertahun-tahun, namun pandangannya tidak pernah lepas dari kerumunan. namun, hasinya tetap sama.....ia tidak melihat Dika, ia pun merasa sangat kecewa.

Acara prosesi wisuda pun telah berlalu beberapa jam yang lalu, satu demi satu telah kembali ke tempat masing-masing dengan membawa kebahagiaan dihati mereka akan sebuah harapan dan cita-cita yang tinggal selangkah lagi mereka raih. Gedung Auditorium yang megah pun telah kembali sepi, namun Ani tetap berdiri dengan cemas menanti Dika dengan masih menggenakan pakaian toga, pakaian kebanggaan yang ingin dia tunjukkan kepada Dika.
Keluarga Ani telah berada di tempat kostnya setelah diantar teman satu kost beberapa jam yang lalu. Karena, Ani tidak mau orang tuanya menemaninya menunggu Dika, ia ingin menunggu Dika seorang diri,..ya hanya seorang diri.
Detik demi detik telah berlalu, menit pun telah berganti menjadi jam, dan dia hanya mendapati kenyataan Dika belum hadir di sana, namun setelah lama ia menunggu dan tidak ada hasil, ia memutuskan untuk pulang ke tempat kost dengan perasaan kecewa. Namun hujan mengguyur secara tiba-tiba dengan derasnya, dia pun mengurungkan niatnya untuk pulang dan memilih berteduh di bawah atap gedung Auditorium.
”Ani,..Ani......Ani
Tiba-tiba dia dikejutkan oleh suara seseorang yang memaggil namanya, suara yang berbaur menjadi satu dengan suara hujan yang semakin lebat sehingga terdengar samar-samar. Dika pikirnya, Namun ternyata tebakannya kali ini salah, ternyata Rinto teman seangkatan Dika, sambil mengusap air matanya yang berlinang, nafas yang tersenggal-senggal seakan seperti orang yang terburu-buru dan suara yang terbata-bata, ia pun menyampaikan sebuah kabar duka cita yang menyayat hatinya.
Kabar tentang kepergian Dika untuk selama-lamanya, karena sebuah kecelakaan lalu lintas yang menimpa, saat dalam perjalanan pulang menuju rumahnya seminggu yang lalu. Ketika sepeda motor yang dikemudikan Dika seminggu yang lalu tertabrak oleh truk yang melaju kencang.
Seketika itu hancur hatinya, lemas, haru, sedih, marah bercampur-baur menjadi satu, dia telah kehilangan seseorang yang sangat berarti dalam hidupnya. Kakinya gemetar bahkan dia tidak cukup kuat untuk berdiri dan menyandarkan tubuhnya di dinding Gedung, seketika itu dia pun segera teringat akan surat yang diberikan Dika kepadanya seminggu yang lalu yang dia letakan didalam saku baju dan segera membacanya dengan tangan gemetar.
To: Ani
Pertama-tama aku mau mengucapkan selamat atas gelar S.Si yang kini telah disandang
Ani maaf bila selama ini aku menghindar darimu. apa kau tau, sesungguhnya aku adalah orang yang paling pengecut di dunia ini, karena aku lari dari masalah dan membohongi diriku sendiri. Aku mau jujur kepadamu kalau sebenarnya selama ini aku mencintai dirimu, namun aku hanya dapat memendam perasaanku selama ini, aku takut kalau aku katakan itu kamu akan marah kepadaku.
Dan saat aku mempunyai sedikit keberanian untuk mengungkapkan kepadamu, kudengar engkau telah berpacaran dengan Raka dan aku pun mencoba menghindar, karena aku tidak mau merusak hubungan kalian. Namun menghindar adalah sebuah kesalahan terbesarku, karena selama apa pun aku menghindar, aku tetap tidak bisa membohongi perasaanku padamu,..aku mau menanyakan satu hal kepada kamu, apakah kamu juga merasakan apa yang aku rasakan?, apakah kamu mau menjadi pa...............................................................

Surat itu pun terputus hanya sampai disitu, karena tetesan air hujan yang deras itu telah menetesi surat Dika dan membuat surat tersebut tidak bisa dibaca kelanjutannya. Tinta surat tesebut telah bercampur air hujan dan mengaburkan kelanjutan tulisannya.
Surat itu pun jatuh ketanah, mungkin inilah pernyataan yang dinantikan Ani selama ini, namun semuanya sudah terlambat.
Ia pun takkuasa menahan air mata, ia pun menangis. Namun, ia tak tau, ia menangis karna apa?.apakah ia menangis karna terharu bahwa cintanya selama ini tidak bertepuk sebelah tangan dan karna hari ini ia telah resmi menyandang gelar sebagai seorang Sarjana. apakah ia menangis karna sedih, karna ia baru saja kehilangan sahabat terindahnya untuk selama-lamanya.....selamat jalan sahabat.


********
Dua tahun setelah kepergian Dika, Ani pun menyempatkan diri mengunjungi kampus UNS, tempat dia menuntut ilmu dan tempat kenangan terindah pernah terukir disini. Kini dia dapat berbangga hati, karena telah bekerja di Mabes Polri Jakarta, sebagai tim Forensik. Pekerjaan yang telah lama di impi-impikan Dika sahabatnya.
Namun seperti yang selalu Dika katakan, bahwa hidup terus berjalan, kita tidak bisa selalu larut dalam keharuan, hidup ini kenyataan hari ini bukan kenyataan massa lalu.... Sahabat..semoga engkau diterima disisi,-Nya, aku tau engkau dapat melihat dan bangga kepadaku,.....Selamat tinggal kampus UNS, selamat tinggal kenangan dan selamat jalan Mas Dika.

.