SEBUAH SENJA, DI BUKIT LANGIT
Hari ini kota Purwokerto lagi-lagi diguyur hujan
lebat, entah apa yang tengah terjadi. Mungkin sebuah rencana alam tengah
mnggerakan takdir seorang hamba untuk masuk kedalam sebuah sekenrio
sang pencipta, bahkan seekor lalat yang terlahir pun tak luput dari
rencananya. Huh,...lagi-lagi hujan, padahal bulan ini terhitung memasuki
bulan kemarau dan seharusnya sang burung-burung dapat berkicau merdu.
Namun karena hujan ini, mereka harus berlindung dibalik sarangnya untuk
menghindari hujan yang sangat lebat.
Sebuah gejala alam yang
sudah sepantasnya terjadi dan bagaikan terencana sebagai untaian takdir.
Tak jauh dari tempat yang penuh hilir-mudik ketamakan tersebut atau
seorang selalu menyebut dengan nama kota. Arya tengah menyendiri, ya dia
tengah berada didasar bumi memandang cakrawala lagit disebuah hutan
kecil yang berada dibukit yang bernama bukit Kaki Langit.
“Huh,
lagi-lagi sebuah ketamakan” dia pun merenung, mungkin inilah terakhir
kalinya dia menginjakkan kaki didasar bukit Kaki Langit
“Harus
kemanakah burung-burung bernaung seandainnya semuanya tergerus
pembangunan kota, mungkin aku tak pernah lagi memandang hutan cemara,
Pinus, dan akan tergantikan hotel-hotel dan perumahan mewah, serta
mungkin aku tak akan pernah mendengar nyanyian merdu burung-burung dan
akan tergantikan deru mesin-mesin berat, yang seakan saling berlomba
merubah wajah hutan menjadi kota yang tidakakan pernah tertidur
memanjakan para sosialita menghamburkan uang. Dia pun merenung mengingat
saat dia dan teman-temannya bertemu dalam tautan takdir Lima tahun yang
lalu.
Dia semakin terhanyut..terhanyut..terhanyut..terhanyut dan
pada akhirnya dia telah tenggelam kedalam pusara masa lalu, dan tidak
ingin kembali kemasa depan yang penuh ketamakan ini. Ya..dia semakin
tenggelam kedalam masa Lima tahun yang lalu..terhanyut dan terlelap,
selamat datang massa lalu.
Kegiatan Ospek ya inilah awal
perkenalan mereka.
“Kenalin nama saya Arman” berkata anak yang
duduk disebelah Arya.
“Nama saya Arya” dia pun menjulurkan
tangannya untuk menerima jabatan tangan
”Kamu asli mana
Arman?”Tanya Arya
“Rumah saya di daerah pemalang, disini aku ikut
saudaraku, kalo kamu Arya?”
Sebelum Arya menjawab pertanyaan Arman
datanglah dua orang yang dirasa sama seperti dirinya, para mahasiswa
baru yang sedang mengikuti Ospek.
“Hey boleh gabung?”Tanya kedua
orang tersebut
“Oh iya, siahkan”jawab Arya dan Arman.
Dan
kemudian kami tau nama orang yang datang tersebut adalah Rudi dan
Herman. Tepat seperti tebakan Arya, mereka berdua adalah mahasiswa baru
yang sedang menjalani ospek, hal tersebut tampak pada pakaian dan
atribut-atribut yang digunakan.
”huh senior-senior kita memang
tidak punya perasaan, masa aku dikerjainya habis-habisan, sudah dijemur
ditengah matahari, disuruh menyanyi pula lah aku, padahal aku tak bakat
menyanyi” berkata Herman.
Dia dapat menangkap bahwa Herman adalah
anak dari luar puau jawa, selain dapat dilihat dari fisik Herman yang
berkulit sedikit kecokatan, badan yang tegap serta rambut yang sedikit
ikal.
”Sama dengan kamu Her, aku juga dikerjai habis-habisan
apalagi senior kita yang bernama kak Seno, bahkan aku didampratnya
habis-habisan” berkata Arman yang dari tadi serius mendengarkan
perkataan Herman.
”Tapi, sebenarnya ospek kegiatan yang cukup baik
untuk melatih mental kita. Selain itu, kegiatan ini juga dapat
meningkatkan rasa persaudaraan diantara satu sama lain, dengan kegiatan
ini juga dapat membuat kita mengenal satu sama lainnya” berkata Rudi
dengan sok kritis.
”Eh..,ngomong-ngmong kalian semua anak-anak
fakultas Sosiologi kan?, kelas kalian kelas ganjil atau kelas
genap?”tanya Rudi.
”Kalau aku dapat kelas ganjil, iya aku anak
fakultas Sosiologi”jawab Arya.
”Samalah dengan kau aku juga anak
Sosiologi, aku juga kelas ganjil, kalau kamu sendiri Rud?” tanya Herman.
”Sama
aku juga kelas ganjil” berkata Rudi dengan senyumannya yang khas.
”Wah-wah
ternyata kita memang ditakdirkan, untuk menjadi seorang sahabat ya,
karena kelasku juga kelas ganji” berkata Arman.
”Ternyata kita
semua satu kelas ya!!”jawab Arya ”Mohon kerjasamanya ya”.
”Kerjasama
gimana nih?”tanya Arman,menimpali
”Ya, kerjasama dalam saling
titp-menitip absensilah, hehe..” jawab Herman dengan senyumannya yang
sangat khas, senyuman seorang anak Nusa Tenggara.
”Huh,
eh.....untuk merayakan persahabatan kita, gimana kalau kita makan di
kantin. Aku yang teraktir deh, kalian bisa makan sepuas-puasnya” berkata
Rudi.
Sebuah perkenalan yang sangat sederhana namun cukup
meninggalkan kesan diantara mereka, karena sebuah perkenalan sederhana
inilah yang membuat persahabatan diantra mereka seakan tak terbatas
status sosial, agama dan suku bangsa, sungguh semua ini bagaikan sebuah
rencana yang menggerakkan mereka untuk menjalani skenario takdir yang
sangat sempurna.
”Gimana, mau apa ngak nih?”tanya Rudi kepada
ketiga kawan-kawan barunya.
”Ya mau dong” jawab mereka hampir
bersamaan.
”Cihuy, Rudi memang kawan kita yang baik hati, hehe..”
jawab Herman dengan logat Nusa Tenggara.
Mereka pun pergi
bersama-sama bercanda tawa dan lama-lama persahabatan mereka pun semakin
erat, satu hal yang membuat hubungan mereka semakin erat, yaitu mereka
sama-sama mempunyai hobi yang sama. Yaitu mereka sangat senang
menjelajahi pegunungan dan menaklukanya. Mereka pernah mendaki hingga
puncak Mahameru yang merupakan puncak tertinggi dari gunung tertinggi di
pulau Jawa yaitu Gunung Semeru.
Mereka berempat sama-sama
mengambil ekstra kulikuler MAPALA, kalau Rudi dan Arya mengikuti ekstra
kulikuler ini karena dari dulu mereka sangat senang mendaki gunung. Saat
mereka SMA mereka berdua ternyata pernah mengikuti kegiatan Pecinta
Alam di SMA masing-masing, jadi sudah mengetahui dasar-dasarnya.
Sedangkan Arman padamulanya mengikuti Mapala, karena dia sedang
mendekati wanita incarannya, anak fak Biologi yang kebetulan mengikuti
ekstra kulikuler itu. sedangkan Herman ikut-ikutan mengambi ekstra
kuikuler ini, karena di daerah asalnya di Nusa Tenggara dia juga senang
menjelajah alam.
Ya, jadinya mereka memutuskan untuk mengikuti
kedua temannya. Walau pada dasarnya mereka berempat sangat senang
mendaki gunung dan menaklukan puncak tertinggi, karena disitulah ketika
mereka berada di puncak gunung tersebut mereka merasa kecil dihadapan
Sang Pencipta dan merasa seperti debu di jagad raya yang maha luas ini.
Namun,
yang paling berkesan diantara bukit, tebing dan gunung yang pernah
didakinya, adalah saat mereka menemukan sebuah bukit kecil lebih
tepatnya gundukkan tanah yang menjulang, warga sekitar menyebutnya bukit
Kaki Langit, karena terletak di kaki Gunung Slamet dan disana mereka
dapat melihat langit dengan jelas, disana terdapat sebuah bangunan tua
peninggalan penjajah belanda yang berlantai dua yang dahulu tempat
tersebut digunakan tentara Belanda untuk bersembunyi dari para pejuang.
Disini
mereka selalu mendapatkan kedamaian dan melupakan semua masalah yang
dihadapinya, di bangunan tua tersebut mereka dapat melihat burung-burung
yang hinggap dan bernyanyi dengan merdunya, kumbang-kumbang yang
menari-nari, mungkin disinilah satu-satunya tempat yang belum terjamah
keserakahan manusia. Dilantai dua bangunan tersebut yang tanpa atap
inilah mereka dapat memandang kota Purwokerto walau pun terlihat samar
karena jarak yang jauh tersebut, namun yang paling berkesan di bukit
kecil tersebut mereka dapat melihat senja. Ya,...senja di bukit itu
selalu terlihat sangat indah. Oleh karena itu mereka selalu kembali dan
kembali ketempat tersebut seandainya ada waktu luang.
* * * * *
Saat
ini hati Arya sedang berbunga-bunga, dia selalu memikirkan Rasty,
seorang wanita yang dicintainya secara diam-diam, awal mulanya Arya
terkesan saat melihat Rasty membantu menyeberangkan seorang anak kecil
yang dilihatnya kesulitan untuk menyeberang di jalan, namun yang paling
dikaguminya adalah senyuman Rasty yang terlihat sangat tulus dan sorot
matanya yang walaupun tajam tetapi menggambarkan sebuah kelembutan. Saat
itulah Arya sangat mengagumi sosok Rasty, karena selain cantik, seorang
aktifis dia juga ternyata seorang yang baik hati. Namun sayangnya Rasty
tidak pernah mengenal siapa itu Arya.
Hampir setiap hari setelah
itu, Arya selalu menyempatkan diri mengunjungi Fak.Hukum yang terletak
cukup jauh dari Fak.Fisip tempat kampus Arya, untuk sekedar melihat
Rasty dari jauh. Ya, hanya sebatas itu. karena Arya tidak punya sedikit
pun keberanian untuk sekedar mengajaknya berkenalan. Karena baginya
memandang Rasty dari jauh menurutnya sudah lebih dari cukup, dan dia
menganggap dirinya tak pantas untuk mendapatkannya. Arya adalah orang
yang tidak memiliki sikap percaya diri dibandingkan teman-temannya.
Arya
tak punya sedikit pun keberanian untuk mengungkapkan perasaannya kepada
Rasty, bahkan untuk menceritakan kepada teman-temannya pun Arya enggan,
hanya Hermanlah yang tau, namun dia memintanya untuk tidak menceritakan
kepada orang lain, termasuk kepada Arman dan Rudi.
Hari ini hari
lagi-lagi hujan membasahi langit kota purwokerto, awan terlihat sangat
pekat dan halilintar menggelegar seakan berlomba-lomba menunjukkan
betapa besar kuasa Tuhan. Saat itu Arya dan Herman memutuskan untuk
berteduh di caffe yang terletak dibelakang kampus mereka. Saat itu
dilihatnya Rasty tengah duduk sendiri menikmati Coklat Susu ditangannya
untuk mengusir rasa dingin yang memang saat itu dirasa sangat menyengat.
”Arya,
lihat itu Rasty” berkata Herman memecah keheningan hari itu
”iya,aku
sudah tau” jawab Arya.
”Tumben, seorang Rasty Anggraeni sang
ketua BEM mengunjungi kampus kita” tanya Herman
”Iya, tidak
biasanya dia berkunjung ke Fisip” hati Arya tidak menentu dia merasakan
hal yang buruk akan terjadi tetapi dia tidak tau apa.
”Arya..”
berkata Herman sejenak ”Hari ini kamu harus berani berkenalan dengan
wanita pujaanmu itu, ini kesempatan buatmu, aku tau kamu sudah lama
memendam perasaanmu, apa kau mau aku temani?” tanya Herman yang
sebenarnya kasihan terhadap Arya yang hanya bisa memendam perasaannya
itu.
”Tidak usah repot-repot Her, omonganmu ada benarnya, bila
tidak hari ini harus kapankah lagi aku bisa dekat dengan Rasty”. Arya
pun bangkit dari tempat duduknya lalu menuju tempat dimana pujaan
hatinya tengah menyendiri, perkataan Herman sahabatnya telah
membangkitkan semangat dan rasa percaya dirinya.
Sejenak dia pun
berhenti dan memikirkan kata-kata yang pas untuk perkenalan tersebut,
diapun terus berfikir didalam hati dan terus melangkah mendekat hingga
akhirnya dia berdiri tepat didepan mata Rasty.
”Hay, kenalin nama
saya Arya, anak Sosiologi” dia pun mengulurkan tangannya dan dengan
suaranya yang tergagap-gagap, Herman mengawasinya dari jauh sahabatnya
itu. namun, perkenalan Arya tersebut tidak ada tanggapan dari lawan
bicaranya, “Maaf,..bolehkah saya berkenalan dengan anda?” tanya Arya
mengulangi perkataannya.
Namun apa yang terjadi diluar dugaan
Arya, Rasty menampik uluran tangannya, pupus sudah penantiannya selama
ini, baginya Rasty yang dilihatnya kini bukanlah Rasty Anggraeni yang
dilihatnya dulu yang dengan tulus membantu orang lain dan senyuman yang
penuh keramahan dan kelembutan yang selalu dipandangnya dari jauh,
hingga dia sangat mengagumi sosok Rasty. Namun kini yang dilihatnya
sungguh berbeda seratus delapan puluh derajat dari apa yang selalu
dibayangkannya. Ya, kita memang tidak selalu bisa mendapatkan apa yang
selalu kita inginkan.
Rasty memang hanya diam seribu bahasa dan
menampik uluran tangan Arya, namun hal tersebut sudah menandakan bahwa
dia telah menolak perkenalannya. Rasty dengan membuang muka mengalihkan
pandangannya, dia tidak peduli bahwa sosok yang ada dihadapannya telah
menunggu cukup lama untuk hari ini, namun dia telah mematahkan harapan
dan membuat penantiannya selama ini sirna...ya sirna,..dunia memang
kadang tidak brsahabat dengan seorang pemalu semacam Arya.
Dia pun
berjalan menjauhi tempat Rasty yang sedang menyendiri dengan lesu,
pandangan matanya menunduk, Herman sudah mengetahui apa yang terjadi
dari perubahan raut wajah sahabatnya tersebut, yang sangat berbeda
dengan yang dilihatnya beberapa menit yang lalu. Dia pun terus mengikuti
sahabatnya tersebut yang meninggalkan caffe dan terus melawan rinai
hujan yang sangat lebat sore itu, matanya basah, air matanya bercampur
tetesan hujan yang mengguyur lebat kota ini, hingga dia tidak peduli
lagi dengan hujan dan kilat yang menyambar-nyambar diatas langit
purwokerto. Seakan-akan merasakan kepedihan yang sedang dialami Arya,
Herman tak henti-hentinya memberikan semangat sahabatnya
tersebut...walau pun dorongan semangat itu tidak bisa mengubah segalanya
”apa,kamu
tidak apa-apa Ar” tanya Herman dengan penuh rasa bersalah, karena
dialah yang mengusulkan untuk berkenaan dengan Rasty di caffe tersebut.
”ya,
aku tidak apa-apa kok tenang saja” jawabnya, namun hari itu Herman
dapat mengerti bahwa sebenarnya hari ini Arya sangat terpukul dan apa
yang dikatakannya kalau dia tidak apa-apa adalah suatu kebohongan.
”Her,
apa kamu mau menemani aku kembali ke caffe, soalnya bukuku tertinggal
dimeja caffe tadi” berkata Arya.
”Ya” jawab Herman dengan gusar.
Namun
apa yang dilihatnya setelah itu diluar dugaan, saat dia kembali ke
caffe tersebut dilihatnya sesekali kearah meja Rasty, ternyata dimejanya
tersebut Rasty tidak lagi sendiri. Ada laki-laki yang duduk dengannya
dan laki-laki yang bersamanya itu ternyata adalah seorang yang tidak
asing lagi bagi mereka, dia adalah Rudi. Mereka berdua bercanda tawa
dengan sangat mesra dan tidak peduli kalau jarak berapa meter dari
tempat mereka tertawa ada seseorang yang sedang terluka dan hancur
hatinya.
“Bangsat Rudi, bukankah dia sudah punya pacar, mengapa
dia masih merebut pujaan hati sahabatnya sendiri” berkata Herman dengan
nada penuh emosi
“Sudahlah Her, semua ini bukan salah Rudi tapi
salahku sendiri”
“apa kamu mau aku menghajar Rudi?”
Arya pun
segera menarik Herman yang terlihat sangat emosi dan Mereka pun segera
pergi karena tak ingin Rudi melihat kearahnya, Herman hanya dapat
menepuk bahu Arya untuk menegarkan sahabatnya tersebut dan dia pun
meminta Herman untuk tidak menceritakan apa yang diketahuinya kepada
Rudi dan Arman.
*********
Hari ini Arya sudah dapat menerima
semuanya dan mulai dapat melupakan Rasty. Hari ini mereka berempat
mengunjungi kembali Bukit Kaki Langit, entah telah berapa kali mereka
telah pergi ketempat itu. Ditempat iniah jika mereka memiliki masalah,
mereka dapat berteriak sekencang-kencangnya karena tidak ada orang yang
mendengarkannya, karena tempat ini sangat jauh dari pemukiman penduduk.
Selain itu juga pemandangan yang asri dapat menenangkan fikiran mereka
yang telah jenuh menghadapi segala rutinitas selama ini.
Sore itu
senja kembali hadir di bukit kecil tersebut, mereka berempat berdiri di
lantai dua bangunan tua yang memang tidak memiliki atap tersebut.
Semuanya terpesona menatap senja, sungguh sangat indah langit hari itu
berwarna merah keemasan, merekapun terus menatap langit hingga saat
matahari hari itu telah terbenam dan senja telah digerogoti pekat malam.
”Teman-teman
apa kalian mau berjanji !” diapun menghentikan kata-katanya sejenak.
”Apa pun yang akan terjadi nanti, kita harus selalu bersama-sama bila
ada waktu luang untuk mengunjungi bukit ini, hingga kita tua nanti dan
hingga kita mati” tanya Rudi kepada teman-temannya...semuanya terkejut
dengan kata-kata tersebut.
”Ya, kami berjanji” jawab Arya diikuti
Arman dan Herman secara serempak, entah kenapa ada sedikit keharuan
dihati keempat sahabat tersebut.
* * * *
Lima tahun telah
berlalu,
Angin tetap mendesah diantara pelita angkasa,
disanalah tempat seribu burung-burung mengepakkan sayap-sayapnya, mereka
terus terbang untuk mencari rizki apa yang bisa dia dapatkan untuk hari
ini dan berpacu melawan waktu. Mereka terus terbang dan terus terbang,
meskipun mereka tidak akan pernah tau kapankah semua ini berakhir dan
terhenti. Ataukah besok, hari ini, ataukah nanti, ketika desir peluru
seorang pemburu menembus tubuh kecilnya dan mengakhiri sebuah sekenario
panjang dari sang pencipta.
Arya masih terjaga dari lamunannya,
dia memandang senja di bukit ini, mungkin untuk terakhir kalinya, diatas
bukit kecil ini terdapat sebuah bangunan tua yang mungkin telah
termakan zaman dan terabaikan, namun tetap berdiri kokoh bagai sebuah
pusara disudut bumi. Diatas lantai dua bangunan ini, dia dapat melihat
burung-burung yang berterbangan, lepas tanpa beban dan dari atas
bangunan ini dia pun dapat melihat sudut kota yang bising dan penuh
ketamakkan, semua tampak kecil dan tenang. Namun, di sini lah dia dapat
merasakan tak berarti dihadapan tuhan Yang Maha Esa.
Dulu dia
selalu menyempatkan dirinya untuk mengunjungi tempat ini bersama
teman-temannya di tengah rutinitas kehidupan, namun kini aku harus
sendiri. Ya, harus sendiri mungkin inilah jalan terbaik yang harus aku
jalani, fikirnya. Dia pun kembali teringat tentang kisahnya dengan tiga
sahabatnya yang mukin tak akan termakan zaman dan ketamakan, fikir Arya.
*
* * *
Sudah lebih beberapa hari ini Arya tidak melihatnya, ya
akhir-akhir ini Rudi menghilang bagai kan ditelan bumi
“Asalammu
alaikum” berkata Arya, namun tetap saja tidak ada jawaban dari Rudi.
Diapun memberanikan diri untuk membuka pintu kamar kos sahabatnya
tersebut yang kebetulan tidak terkunci.
“ohh…eeh”
Jawab
Rudi tergagap ketika didapati Arya ada di depannya, diapun merasa
kedatangannya tidak di harapkan oleh Rudi, namun sekilas Arya dapat
menangkap kesedihan tergambar di sudut matanya. Ya, aku dapat memastikan
dari matanya yang basah karena air mata.
“Rud,
mengapa akhir-akhir ini kamu tidak pernah lagi berangkat ke
kampus” tanya Arya memberanikan diri memulai percakapan. Sejenak Arya
pun berhenti dan akhirnya melanjutkan percakapannya ”Dan sekarang aku
dapati kamu sedang menangis, sebenarnya apa yang sedang terjadi
”Tanyanya, ketika didapatinya Rudi yang biasanya selalu ceria, tengah
bersedih hati dan dia sangat kecewa karena Rudi lebih memilih menyendiri
seorang diri daripada menceritakan apa yang terjadi kepadanya.
“oh
kamu Ar, mengapa kamu tidak mengetuk pintu dulu” Tanya Rudi sembari
mengusap matanya dan menjawab dengan terbata-bata, masih tersisa setiap
detik isakan kesedihan didalam hidupnya walaupun ia mencoba
menyembunyikan dengan mencoba untuk tegar dan seolah tidak terjadi
apa-apa, namun aku lebih tau dari orang lain tentang Rudi.
Tak
kulihat lagi sosok Rudi yang ceria dan kritis seperti dulu, dengan
segala pemikiran-pemikiran idialismenya, yang membuat aku sering merasa
kagum kepadanya. fikif Arya.
“maaf bila kedatanganku, mengganggu
kamu Rud”
“Ya…” jawabnya dengan dingin dan dia pun duduk disamping
sahabatnya, kulihat tidak ada lagi semangat hidup diraut wajah seorang
Rudi, seorang mahasiswa, cerdas yang dikenal sangat kritis dan banyak
disenangi oleh para dosen tersebut
”apa kamu ada masalah?”
Tanyanya sejenak untuk meringankan kesedihan Rudi
”Aku tidak punya
masalah” jawabnya masih dengan dingin.
”kamu pasti bohong, aku
sudah mengenal kamu cukup lama, apa aku bisa membantu memecahkan
masalahmu, itulah gunanya sahabat”
“Aku sudah bilang, aku tidak
punya masalah, harus berapakaliku bilang” Jawab Rudi.
Suasana pun
sejenak hening dan merekapun saling menatap. Ya, aku terlalu mencampuri
urusan Rudi.fikir Arya.
Hingga pada akhirnya Arya pun meninggalkan
Rudi seorang diri dan dia pun merasa sangat kecewa, ternyata Rudi lebih
memilih memendam masalahnya seorang diri daripada harus menceritakan
kepadanya. Ditengah kekecewaan itu diapun berjanji untuk tidak mau ikut
campur terhadap masalah Rudi, biarlah dia yakin Rudi bisa memilih apa
yang terbaik untuk hidupnya.
“oh....iya, sudah lama aku mau
mengatakan hal ini pada kamu. Asal kamu tahu, kalo selama ini aku
mencintai Rasty, namun aku hanya seorang pengecut Rud, dan aku minta
kamu untuk tidak menjadi seorang pengecut dalam menghadapi masalahmu
itu, seperti aku yang seorang pengecut ini Rud” berkata Arya sebelum
pergi meninggalkan Rudi seorang diri.
Namun, fikiran Arya untuk
meninggalkan Rudi seorang diri tersebut adalah sebuah hal yang keliru,
hingga suatu ketika Dia melihat Rudi tengah bersama-sama dengan beberapa
orang yang sangat asing baginya, dia tau orang-orang yang bersama Rudi
bukanlah seorang mahasiswa di Universitasnya dan dia dapat mengetahui
bahwa mereka bukanlah orang baik-baik, terlihat dari cara berpakaian
mereka.
Hingga disuatu hari, dia mendapati Rudi tengah menghisap
lintinggan daun ganja didalam kamar kostnya. Ternyata firasatnya
terbukti, ketika dia merasa khawatir bahwa akan ada hal yang buruk akan
terjadi
“Apa ini Rud?” tanya Arya tak percaya dengan apa yang
barusaja dilihatnya
“GANJA” jawabnya masih dengan dingin.
“Mengapa
kamu menghisap ganja?, apakah kamu tidak tau ganja adalah benda
terlarang dan hidup kamu bisa hancur karena itu Rud”
Arya pun
berkata dengan suara keras sembari merebut lintingan ganja yang sedang
di hisapnya dan melemparkan kelantai dan menginjaknya
“Mengapa
kamu sudah berubah? mana Rudi yang dulu”
“Pedui
apa kamu, persetan dengan semuanya, apa kamu tidak tau sudah tidak ada
arti nya hidupku lagi, hidupku sudah hancur, apa kau ingin tau?”
Rudi
pun menghentikan kata-katanya sejenak dan tanpa di sadari ia pun
meneteskan air mata dan pada akhirnya kami pun saling duduk
berhadap-hadapan, suasana menjadi hening, tidak bahkan sangat hening,
bahkan seekor burung yang biasanya berkicau didahan pun kini membisu,
seperti merasakan sebuah keadaan disudut kamar itu, hingga seketika Rudi
memecah keheningan dan menceritakan semuanya.
“perusahaan
ayahku telah bangkrut, ayahku telah ditipu oleh seseorang yang sang
dipercayai keluarga kami dan hampir semua harta keluarga disita
pemerintah,”
Ia pun berhenti sejenak untuk menguasai keadaannya.
”Dan
ibuku tidak bisa menerima semua keadaan ini, dia lebih memilih untuk
gantung diri daripada harus hidup susah. Ibuku seorang pengecut Ar, yang
meninggalkan anaknya seorang diri. Ibu meninggal dunia Ar, sedangkan
ayahku yang tidak kuat mental kini menjadi gila dan harus dimasukan
kerumah sakit jiwa, kini aku sendiri, aku tak mempunyai siapa-siapa
lagi dan aku tidak punya apa-apa lagi”
Dia pun tak kuasa menahan
isakkan kesedihhannya. Ya, aku bisa merasakan kepiluan dihatinya.
”mengapa
semua ini terjadi pada hidupku, masih ingat diingatanku saat kami
bertiga, ayah, ibu dan aku pergi berlibur bersama-sama saling tertawa
dan bercanda sungguh telah berlalu hari-hari yang sangat indah untukku,
sungguh seandainya aku dapat memutar waktu aku tidak ingin melihat massa
depan, biarlah aku terus hidup di dalam masalalu, biarlah waktu terus
terhenti” dia pun memandang Kenat dan melanjutkan ceritanya.
”Pada
saat itu aku merasa kamilah keluarga yang paling bahagia di dunia ini,
tapi kebahagiaan itu kini sirna, mengapa semua terjadi padaku
Ar?,..cepat jawab??”
Arya pun merangkul sahabatnya. Maafkan aku
Rud, sahabat macam apa aku ini yang tidak mengetahui kepiluan dari
sahabatnya sendiri, fikirnya. Ya, hanya inilah yang bisa aku lakukan
untuk meringankan kesedihannya dan pada waktu itu merekapun menangis
bersama entah kapankah terahirkalinya mereka menangis, tetapi kini dia
pun menangis untuk sahabat baiknya. Itulah saat terakhir kalinya Arya
berjumpa dengan Rudi.
Hingga datang sebuah berita pada suatu pagi
yang mengejutkan dirinya. Sebuah berita tentang kepergian Rudi untuk
selama-lamanya untuk menghadap kepada Ilahi, beberapa hari yang lalu
sejak terakhir kalinya dia berjumpa dengannya. Rudi ditemukan oleh teman
satu kosnya tengah melawan maut, saat dia overdosis karena menenggak
puluhan obat penenang dan pada akhirnya nyawanya pun tidak dapat
terselamatkan lagi.
Kembali. Aku pun memandang kembali
langit-langit tempat burung-burung itu bernaung. Ya, sebentar lagi senja
akan datang di atas bukit ini, oh sudah banyak cerita yang terjadi
disini. Aku pun teringat dulu kami selalu bersama-sama memandang
cakrawala langit disini. Aku, Arman, Herman dan Rudi ketika masih
bersama. Kami selalu memandang senja di bukit ini, bahkan dulu kami
selalu bermimpi untuk dapat terbang seperti seekor burung dan melayang
menembus angkasa tanpa beban.
Namun Arman harus terlebih
dulu meninggalkan kami ketika sebuah kecelakaan lalu lintas merenggut
nyawanya dan Herman sejak kepergian orang tuanya dialah yang harus
menghidupi adik-adiknya dan kuliahnya pun harus berhenti ditengah jalan.
Herman pernah suatu saat menyurati Arya. Dia mengatakan bahwa kini ia
telah menjadi seorang yang sukses dan tidak bisa mengunjungi bukit itu
lagi karena kesibukannya. Namun ada seseorang yang mengatakan bertemu
Herman di dalam penjara saat menjemput kerabat yang bekerja didalam
Lapas. Menurut kerabatnya tersebut, Herman telah difitnah membunuh
Bosnya, yang selalu berbuat sewenang-wenang terhadap anak buahnya dan
harus dihukum seumur hidup atas dakwaan pembunuhan berencana.
Ya
aku mengenal Herman, dia adalah seorang yang sangat membenci orang yang
selalu berbuat sewenang-wenang, namun aku sangat yakin kalau Herman
bukanlah seorang pembunuh, mana yang harus aku percaya. Kini Rudi
satu-satunya sahabatnya pun telah meninggalkannya, kini dia sendiri. Ya,
dia harus menatap senja ini sendiri.
”Kehidupan Arman, Herman dan
Rudi, sama seperti burung-burung tersebut, mereka tetap melayang dan
terus melayang menembus cakrawala dunia dengan sayap-sayapnya, walaupun
sayap itu patah dan terluka Walau pun sang burung itu tidak akan pernah
tau apa yang ada di depannya, apakah ada sebuah harapan ataukah seorang
pemburu yang dengan garangnya, datang untuk mencabut nyawanya. Ya, hidup
ini adalah sebuah drama” Arya pun terus memandang senja yang akan
segera berakhir. Sebentar lagi matahari akan terbenam dan malam pun akan
datang menggerogoti langit yang hampir kelabu ini.
”Kematian
bukanlah sebuah akhir, tapi awal kebebasan jiwa. Kematian hanyalah akhir
dari sebuah perjalanan panjang yang melelahkan. Apa kau fikir orang
yang telah meninggal itu pergi untuk selamanya? Tidak...mereka hanya
tertidur dan suatu saat mereka akan terbangun dari tidur panjangnya dan
bertemu kembali dengan orang-orang yang disayanginya” itulah kata-kata
yang dikatakan Rudi, saat diketahuinya Arya menangis saat kepergian
Arman untuk selama-lamanya berapa tahun yang lalu. Namun kini dia harus
menangis. Ya, untuk menangisi orang yang mengatakan kata-kata tersebut.
Sedetik
kemudian mungkin aku tertawa melihat drama ini. namun, sebenarnya aku
menangis, mungkin inilah terakhir kalinya aku menatap senja di bukit
ini. Ya, karna besok bangunan tua ini akan segera dipugar dan pepohonan
tempat burung bernaung pun akan segera diratakan dan tanah di bukit
kecil ini akan dikeruk yang nantinya tempat ini akan di dirikan
Hotel-hotel mewah untuk menunjang tempat pariwisata dan kawasan ini juga
akan dijadikan sebuah kawasan Vila-vila elit.
Ya, aku tertawa
karena bertanya, kemanakah burung-burung ini bernaung?, mungkin inilah
terakhirkalinya burung-burung itu mengunjungi sarangnya, mungkin besok
tak terlihat lagi burung-burung tersebut melayang, mungkin besok tak
terdengar lagi burung-burung bernyanyi dan mungkin besok tak akan ada
lagi senja disini dan hanya akan terdengar suara derum traktor dan
mesin-mesin berat lainnya yang akan memekakkan telinga dan menghancurkan
bangunan tua yang masih kokoh berdiri diatas bukit kecil ini. Bersama
dengan kisah-kisah yang telah terukir bersama sahabat-sahabatnya,
kisah-kisah yang tak akan terlupakan karena sebuah kenangan adalah
Abadi. Ahh,..lagi-lagi ketamakan, gumamnya.
Dan ketika senja telah
hadir di kota tua ini, dia dapat melihat Rudi dengan nyata...Ya, dia
dapat melihat Rudi, ayah dan ibunya tertawa riang dan mereka pun
memandangnya dengan tatapan bahagia. Tatapan dari sebuah keluarga yang
sangat berbahagia,..Herman yang tiba-tiba hadir lalu tersenyum didalam
angannya dan juga Arman yang melambaikan tangan padanya.
”Selamat
jalan semua, hanya sepotong senja inilah yang bisa aku
berikan,..........sebuah senja di Bukit Kaki Langit
Sejak saat itu
Arya pun menghilang bagaikan ditelan bumi, dia tidak pernah kembali
lagi kesana hingga kini. Ada yang mengatakan dia kini telah bekerja
diluar pulau jawa, namun ada yang mengatakan kalau dia telah menghilang
bersama pelangi dihari yang basah oleh hujan pada waktu itu.
Ada
seorang pencari kayu bakar mengatakan, melihat seorang yang berjalan
diatas langit diatas bukit itu. berjalan, berjalan dan naik keangkasa
hingga menghilang bersama pelangi yang mulai memudar.
Namun ada
yang berkata lain,
23-07-1990,
Telah ditemukan mayat seorang pendaki gunung yang disinyalir sebagai
seorang mahasiswa, yang diduga terpeleset karena hujan yang sangat deras
hari itu. Mayat korban diketahui terperosok dan terbentur batu besar di
dasar bukit yang oleh masyarakat sekitar sering disebut BUKIT KAKI
LANGIT.

menarikkk jga..hehe
BalasHapusFollow dong Ri :)
Hapus