Puisi dan Kata-kata Bijak

Kamis, 10 Mei 2012

Senja di Bukit Langit

SEBUAH SENJA, DI BUKIT LANGIT 


Purwokerto, tahun 1990.
     Hari ini kota Purwokerto lagi-lagi diguyur hujan lebat, entah apa yang tengah terjadi. Mungkin sebuah rencana alam tengah mnggerakan takdir seorang hamba untuk masuk kedalam sebuah sekenrio sang pencipta, bahkan seekor lalat yang terlahir pun tak luput dari rencananya. Huh,...lagi-lagi hujan, padahal bulan ini terhitung memasuki bulan kemarau dan seharusnya sang burung-burung dapat berkicau merdu. Namun karena hujan ini, mereka harus berlindung dibalik sarangnya untuk menghindari hujan yang sangat lebat.
     Sebuah gejala alam yang sudah sepantasnya terjadi dan bagaikan terencana sebagai untaian takdir. Tak jauh dari tempat yang penuh hilir-mudik ketamakan tersebut atau seorang selalu menyebut dengan nama kota. Arya tengah menyendiri, ya dia tengah berada didasar bumi memandang cakrawala lagit disebuah hutan kecil yang berada dibukit yang bernama bukit Kaki Langit.
“Huh, lagi-lagi sebuah ketamakan” dia pun merenung, mungkin inilah terakhir kalinya dia menginjakkan kaki didasar bukit Kaki Langit
“Harus kemanakah burung-burung bernaung seandainnya semuanya tergerus pembangunan kota, mungkin aku tak pernah lagi memandang hutan cemara, Pinus, dan akan tergantikan hotel-hotel dan perumahan mewah, serta mungkin aku tak akan pernah mendengar nyanyian merdu burung-burung dan akan tergantikan deru mesin-mesin berat,  yang seakan saling berlomba merubah wajah hutan menjadi kota yang tidakakan pernah  tertidur memanjakan para sosialita menghamburkan uang. Dia pun merenung mengingat saat dia dan teman-temannya bertemu dalam tautan takdir Lima tahun yang lalu.
     Dia semakin terhanyut..terhanyut..terhanyut..terhanyut dan pada akhirnya dia telah tenggelam kedalam pusara masa lalu, dan tidak ingin kembali kemasa depan yang penuh ketamakan ini. Ya..dia semakin tenggelam kedalam masa Lima tahun yang lalu..terhanyut dan terlelap, selamat datang massa lalu.
Kegiatan Ospek ya inilah awal perkenalan mereka.
“Kenalin nama saya Arman” berkata anak yang duduk disebelah Arya.
“Nama saya Arya” dia pun menjulurkan tangannya untuk menerima jabatan tangan
”Kamu asli mana Arman?”Tanya Arya
“Rumah saya di daerah pemalang, disini aku ikut saudaraku, kalo kamu Arya?”
Sebelum Arya menjawab pertanyaan Arman datanglah dua orang yang dirasa sama seperti dirinya, para mahasiswa baru yang sedang mengikuti Ospek.
“Hey boleh gabung?”Tanya kedua orang tersebut
“Oh iya, siahkan”jawab Arya dan Arman.
     Dan kemudian kami tau nama orang yang datang tersebut adalah Rudi dan Herman. Tepat seperti tebakan Arya, mereka berdua adalah mahasiswa baru yang sedang menjalani ospek, hal tersebut tampak pada pakaian dan atribut-atribut yang digunakan.
”huh senior-senior kita memang tidak punya perasaan, masa aku dikerjainya habis-habisan, sudah dijemur ditengah matahari, disuruh menyanyi pula lah aku, padahal aku tak bakat menyanyi” berkata Herman.
     Dia dapat menangkap bahwa Herman adalah anak dari luar puau jawa, selain dapat dilihat dari fisik Herman yang berkulit sedikit kecokatan, badan yang tegap serta rambut yang sedikit ikal.
”Sama dengan kamu Her, aku juga dikerjai habis-habisan apalagi senior kita yang bernama kak Seno, bahkan aku didampratnya habis-habisan” berkata Arman yang dari tadi serius mendengarkan perkataan Herman.
”Tapi, sebenarnya ospek kegiatan yang cukup baik untuk melatih mental kita. Selain itu, kegiatan ini juga dapat meningkatkan rasa persaudaraan diantara satu sama lain, dengan kegiatan ini juga dapat membuat kita mengenal satu sama lainnya” berkata Rudi dengan sok kritis.
”Eh..,ngomong-ngmong kalian semua anak-anak fakultas Sosiologi kan?, kelas kalian kelas ganjil atau kelas genap?”tanya Rudi.
”Kalau aku dapat kelas ganjil, iya aku anak fakultas Sosiologi”jawab Arya.
”Samalah dengan kau aku juga anak Sosiologi, aku juga kelas ganjil, kalau kamu sendiri Rud?” tanya Herman.
”Sama aku juga kelas ganjil” berkata Rudi dengan senyumannya yang khas.
”Wah-wah ternyata kita memang ditakdirkan, untuk menjadi seorang sahabat ya, karena kelasku juga kelas ganji” berkata Arman.
”Ternyata kita semua satu kelas ya!!”jawab Arya ”Mohon kerjasamanya ya”.
”Kerjasama gimana nih?”tanya Arman,menimpali
”Ya, kerjasama dalam saling titp-menitip absensilah, hehe..” jawab Herman dengan senyumannya yang sangat khas, senyuman seorang anak Nusa Tenggara.
”Huh, eh.....untuk merayakan persahabatan kita, gimana kalau kita makan di kantin. Aku yang teraktir deh, kalian bisa makan sepuas-puasnya” berkata Rudi.
     Sebuah perkenalan yang sangat sederhana namun cukup meninggalkan kesan diantara mereka, karena sebuah perkenalan sederhana inilah yang membuat persahabatan diantra mereka seakan tak terbatas status sosial, agama dan suku bangsa, sungguh semua ini bagaikan sebuah rencana yang menggerakkan mereka untuk menjalani skenario takdir yang sangat sempurna.
”Gimana, mau apa ngak nih?”tanya Rudi kepada ketiga kawan-kawan barunya.
”Ya mau dong” jawab mereka hampir bersamaan.
”Cihuy, Rudi memang kawan kita yang baik hati, hehe..” jawab Herman dengan logat Nusa Tenggara.
     Mereka pun pergi bersama-sama bercanda tawa dan lama-lama persahabatan mereka pun semakin erat, satu hal yang membuat hubungan mereka semakin erat, yaitu mereka sama-sama mempunyai hobi yang sama. Yaitu mereka sangat senang menjelajahi pegunungan dan menaklukanya. Mereka pernah mendaki hingga puncak Mahameru yang merupakan puncak tertinggi dari gunung tertinggi di pulau Jawa yaitu Gunung Semeru.
     Mereka berempat sama-sama mengambil ekstra kulikuler MAPALA, kalau Rudi dan Arya mengikuti ekstra kulikuler ini karena dari dulu mereka sangat senang mendaki gunung. Saat mereka SMA mereka berdua ternyata pernah mengikuti kegiatan Pecinta Alam di SMA masing-masing, jadi sudah mengetahui dasar-dasarnya. Sedangkan Arman padamulanya  mengikuti Mapala, karena dia sedang mendekati wanita incarannya, anak fak Biologi yang kebetulan mengikuti ekstra kulikuler itu. sedangkan Herman ikut-ikutan mengambi ekstra kuikuler ini, karena di daerah asalnya di Nusa Tenggara dia juga senang menjelajah alam.
Ya, jadinya mereka memutuskan untuk mengikuti kedua temannya. Walau pada dasarnya mereka berempat sangat senang mendaki gunung dan menaklukan puncak tertinggi, karena disitulah ketika mereka berada di puncak gunung tersebut mereka merasa kecil dihadapan Sang Pencipta dan merasa seperti debu di jagad raya yang maha luas ini.
     Namun, yang paling berkesan diantara bukit, tebing dan gunung yang pernah didakinya, adalah saat mereka menemukan sebuah bukit kecil lebih tepatnya gundukkan tanah yang menjulang, warga sekitar menyebutnya bukit Kaki Langit, karena terletak di kaki Gunung Slamet dan disana mereka dapat melihat langit dengan jelas, disana terdapat sebuah bangunan tua peninggalan penjajah belanda yang berlantai dua yang dahulu tempat tersebut digunakan tentara Belanda untuk bersembunyi dari para pejuang.
     Disini mereka selalu mendapatkan kedamaian dan melupakan semua masalah yang dihadapinya, di bangunan tua tersebut mereka dapat melihat burung-burung yang hinggap dan bernyanyi dengan merdunya, kumbang-kumbang yang menari-nari, mungkin disinilah satu-satunya tempat yang belum terjamah keserakahan manusia. Dilantai dua bangunan tersebut yang tanpa atap inilah mereka dapat memandang kota Purwokerto walau pun terlihat samar karena jarak yang jauh tersebut, namun yang paling berkesan di bukit kecil tersebut mereka dapat melihat senja. Ya,...senja di bukit itu selalu terlihat sangat indah. Oleh karena itu mereka selalu kembali dan kembali ketempat tersebut seandainya ada waktu luang.

* * * * *
     Saat ini hati Arya sedang berbunga-bunga, dia selalu memikirkan Rasty, seorang wanita yang dicintainya secara diam-diam, awal mulanya Arya terkesan saat melihat Rasty membantu menyeberangkan seorang anak kecil yang dilihatnya kesulitan untuk menyeberang di jalan, namun yang paling dikaguminya adalah senyuman Rasty yang terlihat sangat tulus dan sorot matanya yang walaupun tajam tetapi menggambarkan sebuah kelembutan. Saat itulah Arya sangat mengagumi sosok Rasty, karena selain cantik, seorang aktifis dia juga ternyata seorang yang baik hati. Namun sayangnya Rasty tidak pernah mengenal siapa itu Arya.
Hampir setiap hari setelah itu, Arya selalu menyempatkan diri mengunjungi Fak.Hukum yang terletak cukup jauh dari Fak.Fisip tempat kampus Arya, untuk sekedar melihat Rasty dari jauh. Ya, hanya sebatas itu. karena Arya tidak punya sedikit pun keberanian untuk sekedar mengajaknya berkenalan. Karena baginya memandang Rasty dari jauh menurutnya sudah lebih dari cukup, dan dia menganggap dirinya tak pantas untuk mendapatkannya. Arya adalah orang yang tidak memiliki sikap percaya diri dibandingkan teman-temannya.

     Arya tak punya sedikit pun keberanian untuk mengungkapkan perasaannya kepada Rasty, bahkan untuk menceritakan kepada teman-temannya pun Arya enggan, hanya Hermanlah yang tau, namun dia memintanya untuk tidak menceritakan kepada orang lain, termasuk kepada Arman dan Rudi.
     Hari ini hari lagi-lagi hujan membasahi langit kota purwokerto, awan terlihat sangat pekat dan halilintar menggelegar seakan berlomba-lomba menunjukkan betapa besar kuasa Tuhan. Saat itu Arya dan Herman memutuskan untuk berteduh di caffe yang terletak dibelakang kampus mereka. Saat itu dilihatnya Rasty tengah duduk sendiri menikmati Coklat Susu ditangannya untuk mengusir rasa dingin yang memang saat itu dirasa sangat menyengat.
”Arya, lihat itu Rasty” berkata Herman memecah keheningan hari itu
”iya,aku sudah tau” jawab Arya.
”Tumben, seorang Rasty Anggraeni sang ketua BEM mengunjungi kampus kita” tanya Herman
”Iya, tidak biasanya dia berkunjung ke Fisip” hati Arya tidak menentu dia merasakan hal yang buruk akan terjadi tetapi dia tidak tau apa.
”Arya..” berkata Herman sejenak ”Hari ini kamu harus berani berkenalan dengan wanita pujaanmu itu, ini kesempatan buatmu, aku tau kamu sudah lama memendam perasaanmu, apa kau mau aku temani?” tanya Herman yang sebenarnya kasihan terhadap Arya yang hanya bisa memendam perasaannya itu.
”Tidak usah repot-repot Her, omonganmu ada benarnya, bila tidak hari ini harus kapankah lagi aku bisa dekat dengan Rasty”. Arya pun bangkit dari tempat duduknya lalu menuju tempat dimana pujaan hatinya tengah menyendiri, perkataan Herman sahabatnya telah membangkitkan semangat dan rasa percaya dirinya.
     Sejenak dia pun berhenti dan memikirkan kata-kata yang pas untuk perkenalan tersebut, diapun terus berfikir didalam hati dan terus melangkah mendekat hingga akhirnya dia berdiri tepat didepan mata Rasty.
”Hay, kenalin nama saya Arya, anak Sosiologi” dia pun mengulurkan tangannya dan dengan suaranya yang tergagap-gagap, Herman mengawasinya dari jauh sahabatnya itu. namun, perkenalan Arya tersebut tidak ada tanggapan dari lawan bicaranya, “Maaf,..bolehkah saya berkenalan dengan anda?” tanya Arya mengulangi perkataannya.
     Namun apa yang terjadi diluar dugaan Arya, Rasty menampik uluran tangannya, pupus sudah penantiannya selama ini,  baginya Rasty yang dilihatnya kini bukanlah Rasty Anggraeni yang dilihatnya dulu yang dengan tulus membantu orang lain dan senyuman yang penuh keramahan dan kelembutan yang selalu dipandangnya dari jauh, hingga dia sangat mengagumi sosok Rasty. Namun kini yang dilihatnya sungguh berbeda seratus delapan puluh derajat dari apa yang selalu dibayangkannya. Ya, kita memang tidak selalu bisa mendapatkan apa yang selalu kita inginkan.
     Rasty memang hanya diam seribu bahasa dan menampik uluran tangan Arya, namun hal tersebut sudah menandakan bahwa dia telah menolak perkenalannya. Rasty dengan membuang muka mengalihkan pandangannya, dia tidak peduli bahwa sosok yang ada dihadapannya telah menunggu cukup lama untuk hari ini, namun dia telah mematahkan harapan dan membuat penantiannya selama ini sirna...ya sirna,..dunia memang kadang tidak brsahabat dengan seorang pemalu semacam Arya.
     Dia pun berjalan menjauhi tempat Rasty yang sedang menyendiri dengan lesu, pandangan matanya menunduk, Herman sudah mengetahui apa yang terjadi dari perubahan raut wajah sahabatnya tersebut, yang sangat berbeda dengan yang dilihatnya beberapa menit yang lalu. Dia pun terus mengikuti sahabatnya tersebut yang meninggalkan caffe dan terus melawan rinai hujan yang sangat lebat sore itu, matanya basah, air matanya bercampur tetesan hujan yang mengguyur lebat kota ini, hingga dia tidak peduli lagi dengan hujan dan kilat yang menyambar-nyambar diatas langit purwokerto. Seakan-akan merasakan kepedihan yang sedang dialami Arya, Herman tak henti-hentinya memberikan semangat sahabatnya tersebut...walau pun dorongan semangat itu tidak bisa mengubah segalanya
”apa,kamu tidak apa-apa Ar” tanya Herman dengan penuh rasa bersalah, karena dialah yang mengusulkan untuk berkenaan dengan Rasty di caffe tersebut.
”ya, aku tidak apa-apa kok tenang saja” jawabnya, namun hari itu Herman dapat mengerti bahwa sebenarnya hari ini Arya sangat terpukul dan apa yang dikatakannya kalau dia tidak apa-apa adalah suatu kebohongan.
”Her, apa kamu mau menemani aku kembali ke caffe, soalnya bukuku tertinggal dimeja caffe tadi” berkata Arya.
”Ya” jawab Herman dengan gusar.
     Namun apa yang dilihatnya setelah itu diluar dugaan, saat dia kembali ke caffe tersebut dilihatnya sesekali kearah meja Rasty, ternyata dimejanya tersebut Rasty tidak lagi sendiri. Ada laki-laki yang duduk dengannya dan laki-laki yang bersamanya itu ternyata adalah seorang yang tidak asing lagi bagi mereka, dia adalah Rudi. Mereka berdua bercanda tawa dengan sangat mesra dan tidak peduli kalau jarak berapa meter dari tempat mereka tertawa ada seseorang yang sedang terluka dan hancur hatinya.
“Bangsat Rudi, bukankah dia sudah punya pacar, mengapa dia masih merebut pujaan hati sahabatnya sendiri” berkata Herman dengan nada penuh emosi
“Sudahlah Her, semua ini bukan salah Rudi tapi salahku sendiri”
“apa kamu mau aku menghajar Rudi?”
     Arya pun segera menarik Herman yang terlihat sangat emosi dan Mereka pun segera pergi karena tak ingin Rudi melihat kearahnya, Herman hanya dapat menepuk bahu Arya untuk menegarkan sahabatnya tersebut dan dia pun meminta Herman untuk tidak menceritakan apa yang diketahuinya kepada Rudi dan Arman.

*********
     Hari ini Arya sudah dapat menerima semuanya dan mulai dapat melupakan Rasty. Hari ini mereka berempat mengunjungi kembali Bukit Kaki Langit, entah telah berapa kali mereka telah pergi ketempat itu. Ditempat iniah jika mereka memiliki masalah, mereka dapat berteriak sekencang-kencangnya karena tidak ada orang yang mendengarkannya, karena tempat ini sangat jauh dari pemukiman penduduk. Selain itu juga pemandangan yang asri dapat menenangkan fikiran mereka yang telah jenuh menghadapi segala rutinitas selama ini.
     Sore itu senja kembali hadir di bukit kecil tersebut, mereka berempat berdiri di lantai dua bangunan tua yang memang tidak memiliki atap tersebut. Semuanya terpesona menatap senja, sungguh sangat indah langit hari itu berwarna merah keemasan, merekapun terus menatap langit hingga saat matahari hari itu telah terbenam dan senja telah digerogoti pekat malam.
”Teman-teman apa kalian mau berjanji !” diapun menghentikan kata-katanya sejenak. ”Apa pun yang akan terjadi nanti, kita harus selalu bersama-sama bila ada waktu luang untuk mengunjungi bukit ini, hingga kita tua nanti dan hingga kita mati” tanya Rudi kepada teman-temannya...semuanya terkejut dengan kata-kata tersebut.
”Ya, kami berjanji” jawab Arya diikuti Arman dan Herman secara serempak, entah kenapa ada sedikit keharuan dihati keempat sahabat tersebut.

* * * *
      Lima tahun telah berlalu,    
     Angin tetap mendesah diantara pelita angkasa, disanalah tempat seribu burung-burung mengepakkan sayap-sayapnya, mereka terus terbang untuk mencari rizki apa yang bisa dia dapatkan untuk hari ini dan berpacu melawan waktu. Mereka terus terbang dan terus terbang, meskipun mereka tidak akan pernah tau kapankah semua ini berakhir dan terhenti. Ataukah besok, hari ini, ataukah nanti, ketika desir peluru seorang pemburu menembus tubuh kecilnya dan mengakhiri sebuah sekenario panjang dari sang pencipta.
     Arya masih terjaga dari lamunannya, dia memandang senja di bukit ini, mungkin untuk terakhir kalinya, diatas bukit kecil ini terdapat sebuah bangunan tua yang mungkin telah termakan zaman dan terabaikan, namun tetap berdiri kokoh bagai sebuah pusara disudut bumi. Diatas lantai dua bangunan ini, dia dapat melihat burung-burung yang berterbangan, lepas tanpa beban dan dari atas bangunan ini dia pun dapat melihat sudut kota yang bising dan penuh ketamakkan, semua tampak kecil dan tenang. Namun, di sini lah dia dapat merasakan tak berarti dihadapan tuhan Yang Maha Esa.
    Dulu dia selalu menyempatkan dirinya untuk mengunjungi tempat ini bersama teman-temannya di tengah rutinitas kehidupan, namun kini aku harus sendiri. Ya, harus sendiri mungkin inilah jalan terbaik yang harus aku jalani, fikirnya. Dia pun kembali teringat tentang kisahnya dengan tiga sahabatnya yang mukin tak akan termakan zaman dan ketamakan, fikir Arya.
* * * *
     Sudah lebih beberapa hari ini Arya tidak melihatnya, ya akhir-akhir ini Rudi menghilang bagai kan ditelan bumi
“Asalammu alaikum” berkata Arya, namun tetap saja tidak ada jawaban dari Rudi. Diapun memberanikan diri untuk membuka pintu kamar kos sahabatnya tersebut yang kebetulan tidak terkunci.
ohh…eeh”
     Jawab Rudi tergagap ketika didapati Arya ada di depannya, diapun merasa kedatangannya tidak di harapkan oleh Rudi, namun sekilas Arya dapat menangkap kesedihan tergambar di sudut matanya. Ya, aku dapat memastikan dari matanya yang basah karena air mata.
“Rud, mengapa akhir-akhir ini kamu tidak pernah lagi berangkat ke kampus” tanya Arya memberanikan diri memulai percakapan. Sejenak Arya pun berhenti dan akhirnya melanjutkan percakapannya ”Dan sekarang aku dapati kamu sedang menangis, sebenarnya apa yang sedang terjadi ”Tanyanya, ketika didapatinya Rudi yang biasanya selalu ceria, tengah bersedih hati dan dia sangat kecewa karena Rudi lebih memilih menyendiri seorang diri daripada menceritakan apa yang terjadi kepadanya.
“oh kamu Ar, mengapa kamu tidak mengetuk pintu dulu” Tanya Rudi sembari mengusap matanya dan menjawab dengan terbata-bata, masih tersisa setiap detik isakan kesedihan didalam hidupnya walaupun ia mencoba menyembunyikan dengan mencoba untuk tegar dan seolah tidak terjadi apa-apa, namun aku lebih tau dari orang lain tentang Rudi.
     Tak kulihat lagi sosok Rudi yang ceria dan kritis seperti dulu, dengan segala pemikiran-pemikiran idialismenya, yang membuat aku sering merasa kagum kepadanya. fikif Arya.
“maaf  bila kedatanganku, mengganggu kamu Rud”
“Ya…” jawabnya dengan dingin dan dia pun duduk disamping sahabatnya, kulihat tidak ada lagi semangat hidup diraut wajah seorang Rudi, seorang mahasiswa, cerdas yang dikenal sangat kritis dan banyak disenangi oleh para dosen tersebut
”apa kamu ada masalah?” Tanyanya sejenak untuk meringankan kesedihan Rudi
”Aku tidak punya masalah” jawabnya masih dengan dingin.
”kamu pasti bohong, aku sudah mengenal kamu cukup lama, apa aku bisa membantu memecahkan masalahmu, itulah gunanya sahabat”
“Aku sudah bilang, aku tidak punya masalah, harus berapakaliku bilang” Jawab Rudi.
Suasana pun sejenak hening dan merekapun saling menatap. Ya, aku terlalu mencampuri urusan Rudi.fikir Arya.
     Hingga pada akhirnya Arya pun meninggalkan Rudi seorang diri dan dia pun merasa sangat kecewa, ternyata Rudi lebih memilih memendam masalahnya seorang diri daripada harus menceritakan kepadanya. Ditengah kekecewaan itu diapun berjanji untuk tidak mau ikut campur terhadap masalah Rudi, biarlah dia yakin Rudi bisa memilih apa yang terbaik untuk hidupnya.
“oh....iya, sudah lama aku mau mengatakan hal ini pada kamu. Asal kamu tahu, kalo selama ini aku mencintai Rasty, namun aku hanya seorang pengecut Rud, dan aku minta kamu untuk tidak menjadi seorang pengecut dalam menghadapi masalahmu itu, seperti aku yang seorang pengecut ini Rud” berkata Arya sebelum pergi meninggalkan Rudi seorang diri.
     Namun, fikiran Arya untuk meninggalkan Rudi seorang diri tersebut adalah sebuah hal yang keliru, hingga suatu ketika Dia melihat Rudi tengah bersama-sama dengan beberapa orang yang sangat asing baginya, dia tau orang-orang yang bersama Rudi bukanlah seorang mahasiswa di Universitasnya dan dia dapat mengetahui bahwa mereka bukanlah orang baik-baik, terlihat dari cara berpakaian mereka.
Hingga disuatu hari, dia mendapati Rudi tengah menghisap lintinggan daun ganja didalam kamar kostnya. Ternyata firasatnya terbukti, ketika dia merasa khawatir bahwa akan ada hal yang buruk akan terjadi
“Apa ini Rud?” tanya Arya tak percaya dengan apa yang barusaja dilihatnya
“GANJA” jawabnya masih dengan dingin.
Mengapa kamu menghisap ganja?, apakah kamu tidak tau ganja adalah benda terlarang dan hidup kamu bisa hancur karena itu Rud”
     Arya pun berkata dengan suara keras sembari merebut lintingan ganja yang sedang di hisapnya dan melemparkan kelantai dan menginjaknya
“Mengapa kamu sudah berubah? mana Rudi yang dulu”
 “Pedui apa kamu, persetan dengan semuanya, apa kamu tidak tau sudah tidak ada arti nya hidupku lagi, hidupku sudah hancur, apa kau ingin tau?”
Rudi pun menghentikan kata-katanya sejenak dan tanpa di sadari ia pun meneteskan air mata dan pada akhirnya kami pun saling duduk berhadap-hadapan, suasana menjadi hening, tidak bahkan sangat hening, bahkan seekor burung yang biasanya berkicau didahan pun kini membisu, seperti merasakan sebuah keadaan disudut kamar itu, hingga seketika Rudi memecah keheningan dan menceritakan semuanya.
perusahaan ayahku telah bangkrut, ayahku telah ditipu oleh seseorang yang sang dipercayai keluarga kami dan hampir semua harta keluarga disita pemerintah,”
     Ia pun berhenti sejenak untuk menguasai keadaannya.
”Dan ibuku tidak bisa menerima semua keadaan ini, dia lebih memilih untuk gantung diri daripada harus hidup susah. Ibuku seorang pengecut Ar, yang meninggalkan anaknya seorang diri. Ibu meninggal dunia Ar, sedangkan ayahku yang tidak kuat mental kini menjadi gila dan harus dimasukan kerumah sakit jiwa, kini aku sendiri, aku tak mempunyai  siapa-siapa lagi dan aku tidak punya apa-apa lagi”
     Dia pun tak kuasa menahan isakkan kesedihhannya. Ya, aku bisa merasakan kepiluan dihatinya.
”mengapa semua ini terjadi pada hidupku, masih ingat diingatanku saat kami bertiga, ayah, ibu dan aku pergi berlibur bersama-sama saling tertawa dan bercanda sungguh telah berlalu hari-hari yang sangat indah untukku, sungguh seandainya aku dapat memutar waktu aku tidak ingin melihat massa depan, biarlah aku terus hidup di dalam masalalu, biarlah waktu terus terhenti” dia pun memandang Kenat dan melanjutkan ceritanya.
”Pada saat itu aku merasa kamilah keluarga yang paling bahagia di dunia ini, tapi kebahagiaan itu kini sirna, mengapa semua terjadi padaku Ar?,..cepat jawab??”
Arya pun merangkul sahabatnya. Maafkan aku Rud, sahabat macam apa aku ini yang tidak mengetahui kepiluan dari sahabatnya sendiri, fikirnya. Ya, hanya inilah yang bisa aku lakukan untuk meringankan kesedihannya dan pada waktu itu merekapun menangis bersama entah kapankah terahirkalinya mereka menangis, tetapi kini dia pun menangis untuk sahabat baiknya. Itulah saat terakhir kalinya Arya berjumpa dengan Rudi.
     Hingga datang sebuah berita pada suatu pagi yang mengejutkan dirinya. Sebuah berita tentang kepergian Rudi untuk selama-lamanya untuk menghadap kepada Ilahi, beberapa hari yang lalu sejak terakhir kalinya dia berjumpa dengannya. Rudi ditemukan oleh teman satu kosnya tengah melawan maut, saat dia overdosis karena menenggak puluhan obat penenang dan pada akhirnya nyawanya pun tidak dapat terselamatkan lagi.
Kembali. Aku pun memandang kembali langit-langit tempat burung-burung itu bernaung. Ya, sebentar lagi senja akan datang di atas bukit ini, oh sudah banyak cerita yang terjadi disini. Aku pun teringat dulu kami selalu bersama-sama memandang cakrawala langit disini. Aku, Arman, Herman dan Rudi ketika masih bersama. Kami selalu memandang senja di bukit ini, bahkan dulu kami selalu bermimpi untuk dapat terbang seperti seekor burung dan melayang menembus angkasa tanpa beban.
     Namun Arman harus terlebih dulu meninggalkan kami ketika sebuah kecelakaan lalu lintas merenggut nyawanya dan Herman sejak kepergian orang tuanya dialah yang harus menghidupi adik-adiknya dan kuliahnya pun harus berhenti ditengah jalan. Herman pernah suatu saat menyurati Arya. Dia mengatakan bahwa kini ia telah menjadi seorang yang sukses dan tidak bisa mengunjungi bukit itu lagi karena kesibukannya. Namun ada seseorang yang mengatakan bertemu Herman di dalam penjara saat menjemput kerabat yang bekerja didalam Lapas. Menurut kerabatnya tersebut, Herman telah difitnah membunuh Bosnya, yang selalu berbuat sewenang-wenang terhadap anak buahnya dan harus dihukum seumur hidup atas dakwaan pembunuhan berencana.
     Ya aku mengenal Herman, dia adalah seorang yang sangat membenci orang yang selalu berbuat sewenang-wenang, namun aku sangat yakin kalau Herman bukanlah seorang pembunuh, mana yang harus aku percaya. Kini Rudi satu-satunya sahabatnya pun telah meninggalkannya, kini dia sendiri. Ya, dia harus menatap senja ini sendiri.
”Kehidupan Arman, Herman dan Rudi, sama seperti burung-burung tersebut, mereka tetap melayang dan terus melayang menembus cakrawala dunia dengan sayap-sayapnya, walaupun sayap itu patah dan terluka Walau pun sang burung itu tidak akan pernah tau apa yang ada di depannya, apakah ada sebuah harapan ataukah seorang pemburu yang dengan garangnya, datang untuk mencabut nyawanya. Ya, hidup ini adalah sebuah drama” Arya pun terus memandang senja yang akan segera berakhir. Sebentar lagi matahari akan terbenam dan malam pun akan datang menggerogoti langit yang hampir kelabu ini.
”Kematian bukanlah sebuah akhir, tapi awal kebebasan jiwa. Kematian hanyalah akhir dari sebuah perjalanan panjang yang melelahkan. Apa kau fikir orang yang telah meninggal itu pergi untuk selamanya? Tidak...mereka hanya tertidur dan suatu saat mereka akan terbangun dari tidur panjangnya dan bertemu kembali dengan orang-orang yang disayanginya” itulah kata-kata yang dikatakan Rudi, saat diketahuinya Arya menangis saat kepergian Arman untuk selama-lamanya berapa tahun yang lalu. Namun kini dia harus menangis. Ya, untuk menangisi orang yang mengatakan kata-kata tersebut.
     Sedetik kemudian mungkin aku tertawa melihat drama ini. namun, sebenarnya aku menangis, mungkin inilah terakhir kalinya aku menatap senja di bukit ini. Ya, karna besok bangunan tua ini akan segera dipugar dan pepohonan tempat burung bernaung pun akan segera diratakan dan tanah di bukit kecil ini akan dikeruk yang nantinya tempat ini akan di dirikan Hotel-hotel mewah untuk menunjang tempat pariwisata dan kawasan ini juga akan dijadikan sebuah kawasan Vila-vila elit.
     Ya, aku tertawa karena bertanya, kemanakah burung-burung ini bernaung?, mungkin inilah terakhirkalinya burung-burung itu mengunjungi sarangnya, mungkin besok tak terlihat lagi burung-burung tersebut melayang, mungkin besok tak terdengar lagi burung-burung bernyanyi dan mungkin besok tak akan ada lagi senja disini dan hanya akan terdengar suara derum traktor dan mesin-mesin berat lainnya yang akan memekakkan telinga dan menghancurkan bangunan tua yang masih kokoh berdiri diatas bukit kecil ini. Bersama dengan kisah-kisah yang telah terukir bersama sahabat-sahabatnya, kisah-kisah yang tak akan terlupakan karena sebuah kenangan adalah Abadi. Ahh,..lagi-lagi ketamakan, gumamnya.
     Dan ketika senja telah hadir di kota tua ini, dia dapat melihat Rudi dengan nyata...Ya, dia dapat melihat Rudi, ayah dan ibunya tertawa riang dan mereka pun memandangnya dengan tatapan bahagia. Tatapan dari sebuah keluarga yang sangat berbahagia,..Herman yang tiba-tiba hadir lalu tersenyum didalam angannya dan juga Arman yang melambaikan tangan padanya.

Selamat jalan semua, hanya sepotong senja inilah yang bisa aku berikan,..........sebuah senja di Bukit Kaki Langit
     Sejak saat itu Arya pun menghilang bagaikan ditelan bumi, dia tidak pernah kembali lagi kesana hingga kini. Ada yang mengatakan dia kini telah bekerja diluar pulau jawa, namun ada yang mengatakan kalau dia telah menghilang bersama pelangi dihari yang basah oleh hujan pada waktu itu.
     Ada seorang pencari kayu bakar mengatakan, melihat seorang yang berjalan diatas langit diatas bukit itu. berjalan, berjalan dan naik keangkasa hingga menghilang bersama pelangi yang mulai memudar.
Namun ada yang berkata lain,

23-07-1990, Telah ditemukan mayat seorang pendaki gunung yang disinyalir sebagai seorang mahasiswa, yang diduga terpeleset karena hujan yang sangat deras hari itu. Mayat korban diketahui terperosok dan terbentur batu besar di dasar bukit yang oleh masyarakat sekitar sering disebut BUKIT KAKI LANGIT.

2 komentar: