Puisi dan Kata-kata Bijak

Rabu, 23 Mei 2012

Tuhan, Aku Ingin Mencintainya Dengan Sederhana



Tuhan, Aku Ingin Mencintainya Dengan Sederhana.

Sahabat yang baik,adalah sahabat yang sering sejalan dengan ku,
Dan menjaga nama baikku,ketika aku hidup,maupun setelah aku mati nanti,

Waktu seakan terasa cepat berlau meninggalkan sejuta kenangan yang terlalu berharga untuk dilupakannya, tak terasa ujian skripsi yang melelahkan dan menguras pikirannya akhirnya datang juga, seandainya ujian ini telah berhasil dilalui, berarti tinggal satu tahap lagi menuju gelar sarjana, ujian penentuan komprehensif. Tak terasa telah banyak beribu-ribu kisah yang telah ia lalui di kampus ini, baik suka maupun duka. Dia merasa tidak rela meninggalkan kampusnya tersebut, kampus yang telah banyak memberikan pengalaman-pengalaman baru yang amat berharga bagi dirinya. Ia tak rela meninggalkan semua ini, namun ia teringat perkataan seseorang sahabatnya yang pernah mengatakan:
 Inilah hidup, kita tidak akan pernah tau apa yang akan terjadi kemudian hari. Namun hidup terus berjalan, dan kita tidak bisa diam dalam satu titik. Bukankah kehidupan adalah sebuah perjalanan panjang yang sangat melelahkan” itulah kata-kata sahabatnya yang masih diingat atau mungkin akan selalu diingat dalam hatinya yang terdalam.
Dimas pun meilhat arloji yang melingkar di tangannya “Huh, sudah jam sebalas siang keluh Dimas seraya memandang-mandang kampusnya yang walau pun bangunannya tidak megah serta dapat dikatakan sederhana, namun di sini penuh dengan kehangatan dan keakraban, serta di sinilah tempat ia dan teman-temannya merajut mimpi. Hari ini Dimas akan menjalani ujian skripsi, atau satu tahap lagi sebelum menyandang gelar sarjana. “Ahhhh,...andai saja dia masih di sini, tentunya hari ini aku akan merasa ada semangat lebih untuk menjalani ujian skripsi ini....Ya, si cerewet. Bagaimanakah kabarnya kini?......Lala, temenku itu bernama Lala dan kami sudah tak bertemu selama satu tahun ini” batin Dimas sembari mengingat-ingat masalalu mereka. Ya, masalalu.
.Dia pun teringat beberapa tahun yang lalu ketika ia pertama kali mengenal Lala saat perkuliahan mata kuliah Fonologi, mata kuliah yang dosennya dikenal sangat disiplin. Setiap mahasiswa yang terlambat datang walau hanya 5 menit dilarang untuk memasuki kelas tanpa ampun, dan ketika itu mereka berdua terambat datang hingga merekapun tidak boleh mengikuti proses perkuliahan Fonologi hari itu. Dimas adalah senior yang baru mengambil mata kuliah tersebut. Dari hal tersebutlah mereka saling mengenal.
“Maaf kakak semester berapa yah? sepertinya buakan angkatan gue yah?” ujar Lala yang merupakan mahasiswa semester 2.
“Hahahaha,...saya senior kamu. Saya mahasiswa semester 4, kebetulan saya baru mengambil mata kuliah ini,...hehe” ujarnya dengan cengar-cengir.
Ohhh iya,....kenalin kak, nama gue Irsa Kumala, tapi lo bias panggil gue Lala aja” ujar Lala memperkenalkan diri pada Dimas.
“Wahhh,....anak Menado kayaknya nih dari logatnya...hehe” ujar Dimas sembari bercanda.
“Hahahahaha,....si kakak bisa aja bercandanya, asli Betawi dong,..” jawab Lala sambil senyum kecut.
Ohhh iya nama saya Dimas Prasetyo, panggi aja aku Dimas” ujar dimas sembari mengulurkan tangannya
Kamu asli mana kak Dimas?” tanya Lala
Aku asli Indonesia,....hahaha” berkata Dimas sambil tertawa.
“Ohhh asli Indonesia, gue kira asli Afrika kak,...hehe” cibir Lala sambil ikut tertawa.
“Iya deh gue asli Pemalang, tapi di sini ikut tante gue, kebetuan rumah tante gue di deket kampus ini jawabnya menirukan logot elo-gue Lala.
“Huhhh,...kok kak Dimas ikut-ikutan pake elo-gue nih, sinih bayar Royalti sama orang Betawi asli, melanggar Hak cipta itu,..haha” tertawa Lala yang merasa aneh mendengar Dimas yang orang Jawa asli menirukan logatnya.
Sebuah perkenalan yang sangat sederhana dan tak di sangka hubungan mereka pun menjadi semakin akrab, apalagi setelah ia tau bahwa Lala kos di dekat rumah tantenya tersebut, hampir setiap hari Lala bermain ke rumah tantenya yang hanya berjarak beberapa meter saja, untuk sekedar ngobrol, membantu tantenya memasak, ataupun untuk meminjam koleksi-koleksi komik Dimas yang kebetulan kolektor Komik Jepang tersebu. Kebetulan Lala pun juga seorang penggila komik sama sepertinya.
Mengenai kos Lala yang terletak di dekat rumah tantenya, Dimas pernah berfikir apakah itu sebuah kebetulankah, takdirkah atau sebuah jodohkah? Eits,..jangan salah mengartikan tentang jodoh dulu, bukankah jodoh tidak hanya soal pernikahan. Sebuah persahabatan, dan perjumpaan juga adalah sebuah jodoh yang diatur oleh Tuhan. Kalau mau dipikirkan, bukankah tempat kos begitu banyak di daerah sini, dan mengapa dia bisa kos di dekat rumah tantenya? Dimas sempat bertanya-tanya.
Hubungan mereka sangat akrab tidak seperti seorang senior dan juniornya, tapi lebih dari sekedar itu. Bahkan bisa dikatakan seperti ikatan persaudaraan. Dimas pun pernah mengunjungi rumah Lala beberapa kali saat libur semester di Jakarta Selatan, hinga keluarga Lala pun sudah menganal Dimas dengan baik. Dan Lala pun pernah mengunjungi rumahnya di Pemalang. Satu hal yang dia kagumi dari Lala dan keluarganya adalah bahwa Lala seorang anak pejabat tinggi, tetapi dia tak pernah memamerkan kekayaannya dan sombong dengan orang lain, begitu juga dengan keluarganya yang sangat hangat dan ramah dengan orang lain.
Bagi yang melihat keakraban dan kemesraan mereka pasti semua akan mengira mereka berpacaran, tapi hingga kini tak pernah ada di antara mereka yang mengatakan Cinta satu-samalainnya. Ya, cinta yang terpendam, mungkin inilah kata yang paling tepat utuk menggambarkan hubungan mereka.
Setelah seribu malam telah berlalu
Seribu mimpi pun musnah terkikis hampa
Mengapa seribu langkah mu menjauhi mimpi-mimpi
Mengapa  engkau telah menjauhi dirimu sendiri ,
wahai harapan
bukankah hidup adalah berharap,dan mengharap

Hay...bangun sudah siang tau, huh dasar kebo, katanya janji mau nemenin aku beli komik di Gramedia?” Gugah Lala sembari membuka horden dan menyipratkan air minum ke mata Dimas yang masih tertutup karna masih tertidur. Lala memang selalu masuk kamar Dimas tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Ya, seperti tadi yang dikatakan di awal cerita bahwa mereka berdua sudah seperti saudara. Tante Dimas pun tidak mempermasalahkan, karna tante Dimas yang tidak memiliki anak sudah menganggap Lala sebagai anaknya sendiri.
Ah elo La, buset pagi-pagi gini lo udah masuk ke kamarku aja. Gue baru bisa tidur nih, soalnya tadi aku nonton sepak bola di tivi “ berkata Dimas.
“Hahh pagi? ini udah siang loh kak Dimas !!”
“Udah siang? bukannya ini masih pagi La?” sambil mengucek-ngucek mata. “Ya ampun, iya udah jam sebelas, mana gue ada janji sama Desi lagi buat lari-lari pagi, hilang deh kesempatan gue buat pendekatan sama Desi anak Pertanian” berkata Dimas sambil mukanya yang masih lecek karna belum mandi, bertambah lebih lecek lagi karena mengingat akan hilangnya kesempatan mendekati cewek incarannya tersebut. Namun tanpa ia sadari, saat Dimas menyebut nama Desi, sejenak Lala pun terdiam.
“Ohhh Desi yang kemarin dikenalkan itu to..??” tanya Lala sambil manyun.
“Iya, kenapa kamu La? kok waktu gue ngomong Desi mukamu ditekuk kaya uang kertas  lecek aja,..haha” sindir Dimas.
“Tidak ada apa-apa kok” jawab Lala dengan gugup.
“Hayoo, jangan-jangan elo cemburu lagi nih,..haha”
“Enggak dong, aku kan udah nganggap kak Dimas sebagai pamanku,...haha” berkata Lala sambil nyengir kuda.
“Hahaha,....sialan gue dikira Paman lo, sinih kepalamu gue jitak” Dimas pun menarik tangan Lala dan siap menjitaknya.
“Bentar-bentar kak, ngomong-nomong kok logat bahasa kita ketukar yah, aku pake logat mbedog Jawa, dan kak Dimas pake logat elo-gue yah?” tanya Lala yang baru menyadarinya.
“Ohhh iya yah,...hahahahahaha” mereka pun menertawakan keanehan tersebut
Sembari tertawa Dimas pun tak sengaja mengarahkan pandangan ke sebuah poster tim Real Madrid yang terpampang begitu besarnya di kamar. Dan seketika itu Dimas ingat hal yang memilukan tentang kekalahan tim kesayangannya Real Madrid tadi pagi. Dia juga ingat kalo dia kemarin siang bertaruh dengan Lala, kalo Real Madrid tim kesayangannya kalah dari Barcelona, ia janji akan mentraktir Lala makan sepuas-puasnya di caffe “Niki Mawon” caffe tempat mereka tongkrong, begitu juga sebaliknya kalo Barcelona yang kalah Lala lah yang harus mentraktir.
“Ahhh jangan sampe Lala inget, mana dompet lagi tipis lagi,..hihihi” batin Dimas.
Walau pun mereka sama-sama mempunyai hobi baca komik, tapi untuk urusan sepak bola mereka mengidolakan tim yang berbeda. Dimas lebih menyukai tim Real Madrid, sedangkan Lala lebih menyukai tim Barcelona. Saking fanatiknya dengan tim masing-masing mereka pun sempat marahan berminggu-minggu karena bola.
Oh iya, gimana tadi pagi menang mana? solanya aku tadi ketiduran” Tanya Lala tak sabar.
Ahhhh sial, akhirnya kamu inget juga dengan taruhan kita,...huhh menang Barcelona 2:0” jawab Dimas dengan lesu.
Oho,..berarti kamu nanti teraktir aku dong, masih ingat kan dengan taruhan kita”  sambil menyikut lengan Dimas yang baru selesai mandi.
 Huh,...nyesel aku tadi bilang baru bisa tidur, gara-gara nonton bola di tivi sampe pagi, kamu jadi inget kita taruhan kemarin” jawab Dimas, seraya merapikan tempat tidurnya yang sudah seperti kapal pecah.
******
Sore ini sebelum ke caffe mereka berdua menuju toko buku tempat Favorit mereka terlebih dahulu, namun harapan Lala untuk di traktir oleh Dimas pun sirna, karna uang Dimas yang sudah tinggal pas-pasan buat ongkos pulang pun habis untuk membeli komik kesayangannya, dan pada akhirnya Lala lah yang malah mentraktir Dimas.
“Sering-sering aja yah La neraktir gue,...hahaha” tawa Dimas sambil senyum melihat Lala yang dari tadi manyun. Dan mereka berdua pun harus pulang jalan kaki setelah uang pas-pasan mereka habis buat beli komik dan makan-makan. Ya, Dimas tahu sebenarnya Lala masih punya banyak uang di ATMnya, kecil baginya untuk mengambil Jutaan rupiah, tapi itulah sifat Lala walaupun anak seorang pejabat tinggi namun dia adalah seorang yang sangat sederhana dan tidak sombong.
“Kak Dimas jalannya jangan cepet-cepet dong, capek nih..” teriak Lala yang lari-lari kecil karena tertinggal Dimas.
“Lari ahhhhh,...dasar Lele lamban” Dimas pun berlari bak pelari maraton.
“Huhhh dasar kak Dimas jahat namaku Lala bukan Lele, emangnya aku ikan apa, udah ditraktir malah ditinggal kabur, ngata-ngatain pula,...awas yah, tunggu pembalasanku” sambil mengajar Dimas yang sudah hampir sampai rumah.
Waktu pun terasa cepat berlalu tak terasa sudah satu tahun lebih mereka saling mengenal, namun entah kenapa akhir-akhir ini Dimas sudah sangat jarang berjumpa dengan Lala. Ya, Lala akhir-akhir ini menghilang bagaikan ditelan bumi. Pada suatu hari Dimas pernah berjumpa dengannya di sebuah jalan sekitar Rumah Sakit dan waktu itu Lala terlihat sangat lelah. Namun ketika ditanya mengapa dia terlihat lelah dan akhir-akhir ini dia jarang melihatnya, Lala dengan bangga mengatakan kalau kini dia sedang menjalankan bisnis pemasaran boneka dan bekerja paruh waktu di salah satu warnet. Lala juga mengatakan karna kesibukannya sekarang, dia meminta maaf kalau belum ada waktu untuk sekedar mampir ke rumah tante Dimas lagi dan dia pun sempat menitipkan salam untuk tante Dimas yang sudah menganggap Lala sebagai anaknya sendiri.
Banyak kesibukan-kesibukan yang telah memisahkan persahabatan mereka, Dimas bertekad akan fokus pada kuliahnya, sedangkan Lala yang memiliki sifat mandiri fokus pada bisnis dan pekerjaannya. Seandainya mereka bertemu di kampus pun mereka hanya sekedar tegur sapa, walaupun entah mengapa Dimas sudah sangat jarang melihat Lala di kampus lagi.
Dimas pernah bertanya pada teman satu angkatan Lala, namun sesuai dengan dugaannya, katanya Lala memang sudah sangat jarang masuk kuliah, apa yang sebenarnya terjadi? walau pun jarak rumah mereka berdekatan namun Dimas merasa segan untuk bermain ke kos Lala, apalagi kini Dimas tak lagi sendiri, kini ia telah berpacaran dengan Desi. Dan tentu hubungannya dengan Lala pun tak bisa seperti dulu lagi. Kini ada sebuah sekat yang memisahkan mereka, dan keakraban dengan Lala ditakutkan akan membuat Desi pacarnya menjadi terluka dan salah mengartikan.
Seseorang tidak akan tau apa yang dimilikinya,
Hingga,saat ia merasa sangat kehilangan nya

Di hati kecinya, Dimas sedang merasakan kebimbangan. Dia tak bisa membohongi hatinya. Dia memang tengah berpacaran dengan Desi, namun tak bisa dipungkiri ia sangat merindukan Lala. Ia merindukan canda-tawa, merindukan senyumnya, meridukan saat ia membaca komik bersama, dan segala hal tentang Lala memang selalu bisa membuatnya merasa senang dan bahagia. Dan tak beberapa lama melamun, ia di kejutkan oleh seseorang yang mengetuk pintu kamarnya hingga menyadarkan dari lamunan atas kebimbangannya.
Tok-tok-tok” suara pintu kamarnya terketuk dengan cukup keras dan ia pun menerka kira-kira siapakah yang mengetuk pintunya tersebut?, andaikan tantenya mengapa tidak langsung masuk saja, apakah Lala? Ahhh pasti tidak mungkin,...pikirnya
Iya sebentar yah jawab Dimas, dan ia pun membuka pintu kamar dengan perlahan-lahan. Dia tak tau harus terkejut, senang, atau terharu melihat seorang yang ada di hadapannya itu. Ia pun tidak dapat menggambarkan bagaimanakah perasaannya sekarang, ternyata Lala seorang yang selama ini di rindukan.
Hay,,,bolehkah saya masuk?” tanya Lala berlaga sopan.
“Ohhh,..silahkan masuk nona cantik pengusaha muda kita” jawab Dimas sembari tersenyum.
Oh,,,terima kasih tuan” mereka berdua pun tertawa bersama,
Hmmm yang sibuk bisnis sambil kerja dan yang sibuk fokus kuliah nih, jadi lupa sama sejarah,..haha” sindir tante Dimas yang muncul dari balik pintu.
“Ehhh tante, iya nih ponakan tante sombong banget kalo di kampus,..hehe” berkata Lala.
“Sembarangan, kamu juga,...huuuhhh dasar Lele” jawab Dimas.
“Namaku Lala, awas yah kalo ngomong Lele lagi,...hahaha”  dia pun melanjutkan kata-katanya “Ngak terasa sudah lama yah kita ngak tertawa berdua gini?” berkata Lala dengan mata sebam. Ya, memang sudah lama mereka tidak merasakan sebuah kebahagiaan seperti ini. Kebahagiaan yang dulu selalu diasakannya dan akhir-akhir ini hilang. Lala pun melihat sekelilng kamar Dimas yang penuh berserakan buku pelajaran, dan ia pun dapat menerka bahwa si pemilik kamar sedang belajar.
Kita keluar yuk Dimas, masa malam yang indah kaya gini dilewatkan dengan Cuma belajar terus di kamar sih, hitung-hitung refresing” ajak Lala.
“Kemana La?”
“Ada deh, yang pasti malam ini kita harus keluar dan menikmati malam yang indah ini dengan suka-cita, dan inget jangan ada duka yah?,...hehe”
“Kamu ngomong apa sih la?” jawab Dimas yang ngak paham dengan arah pembicaraan ini.
*****
Sesuai rencana awal Lala, malam ini Dimas pun bersedia meninggalkan kamarnya yang hangat untuk berinteraksi dengan dinginnya malam hari itu, mereka pergi bersama mencari hiburan, menonton bioskop, ke taman kota, dan makan di caffe favorit mereka. Namun kali ini Lala lah yang mendapat bagian mentraktir Dimas. Bercanda tawa bersama Lala memang membuat waktu berputar lebih cepat dari biasanya dan tak terasa saat ini sudah larut malam.
Sangat menyenangkan saling bercerita pengalaman-pengalaman unik mereka selama mereka tak bertemu, selama Dimas aktif di organisasi dan selama Lala menjalankan bisnis dan kerja di sebuah Warnet. Selalu ada hal lucu yang mereka ceritakan dari pengalaman mereka. Satu yang pasti ada dalam pikiran mereka, mereka sangat bahagia, dan ingin rasanya malam itu tidak pernah berakhir.
“Wahhh gak kerasa sudah sampai rumah, aku masuk dulu yah La..slamat malam Lala.” berkata Dimas ketika akan membuka pintu. Namun sebelum ia masuk pintu, suara Lala yang bercampur isakan air mata menghentikan langkahnya.
“Tunggu kak Dimas” berkata Lala lalu keheningan pun melanda malam itu.
“Ada apa La?” tanya Dimas.
“Mungkin ini terakhir kalinya aku berada di kota ini kak, karna besok pagi aku akan pulang ke Jakarta buat transit dan langsung terbang Singapura kak....aku ragu apakah suatu saat nanti kita bisa bertemu lagi”
“Singapura? berapa hari disana? terus kapan pulang kesini lagi La?” tanya Dimas yang terlihat mulai gusar.
Lala pun sejenak terdiam, ia terpaku menatap Dimas,....semilir angin yang melambai lembut malam itu pun serasa menusuk pori-pori malam itu, Ya, malam itu sangat hening....malam yang tidak ingin dijumpai mereka.
“Sudah lama aku menyimpan rahasia ini” berkata Lala yang di sambut oleh keheningan malam dan suara alunan jangkrik. “Aku mengidap kelainan jantung dan harus menjalani cangkok jantung di Sana, karna kemampuan medis di sini belum mampu” lanjut Lala berkata dengan mata yang berkaca-kaca.
“Kelainan Jantung? sejak kapan La” tanya Dimas dengan air mata yang mulai menetes di antara sela kedua pipinya.
“Sejak beberapa bulan ini” sejenak ia pun terdiam dan melanjutkan kata-katanya. “Sebenarnya aku berbohong waktu berkata bekerja paruh waktu dan bisnis boneka, yang sebenarnya terjadi, selama beberapa bulan ini aku terus-terusan berobat dan berkali-kali diopname di Rumah Sakit. Maaf bila selama ini aku telah membohongi banyak orang termasuk kamu dan tantemu”.berkata Lala sambil mengusap air matanya “Dan menurut dokter yang menanganiku, kesempatanku untuk hidup sudah sangat tipis kak, walau kemungkinan itu masih ada”.
“Kenapa selama ini kamu merahasiakan dariku? walaupun aku tak bisa membantumu, tapi setidaknya aku bisa membuatmu merasa tak sendiri, menemanimu dan menangis bersamamu” berkata Dika dengan nada tinggi.
“Jawabannya sederhana,...aku ngak mau membuat kak Dika sedih” jawab Lala, dan sejak kata-kata itu, mereka terdiam cukup lama sebelum Dika memecahkan keheningan
“Lalu bagaimana dengan kuliahmu?” tanya Dimas tak percaya.
“Entahlah kak,....saat ini aku sudah tidak memiliki impian lagi, seandainya ini pertemuan terakhir kita....”
“Tolong jangan katakan itu lagi, aku tak mau mendengarnya La, terima kasih untuk malam ini,....selamat malam Lala” Dika pun memotong perkataan Lala “Aku masuk rumah dulu” imbuh Dimas berkata dengan lesu dan tapapan kosong.
“Tunggu kak” ujarnya menghentikan langkah Dimas yang tinggal selangkah lagi memasuki rumah, “Aku ingin mengucapkan kata-kata yang mungkin ini merupakan kata-kata terakhir untukmu, semoga dengan kata-kataku ini bisa membuat kak Dimas tak sedih dan bisa melupakanku” berkata Lala dengan sebuah senyuman yang menggambarkan akan ketegarannya. Lanjutnya Semua ini adalah bagian dari kehidupan. Aku, kamu, kita dan mereka. Kita tidak akan pernah tau apa yang akan terjadi kemudian hari. Namun hidup terus berjalan, dan kita tidak bisa diam dalam satu titik. Bukankah kehidupan adalah sebuah perjalanan panjang yang sangat melelahkan”
Malam yang dipikirnya beberapa menit yang lalu sebagai malam terindah, kini menjadi malam paling suram dalam hidupnya. Ia pun menutup pintu dengan sisa tenaga dan memandang Lala yang berlalu melalui kaca jendela dengan setumpuk kesedihan.
“Semoga ini hanya mimpi,....semoga ini hanya mimpi,.....semoga ini hanya mimpi,.....semoga ini hanya mimpi” berkata Dimas berulang-ulang hingga terlelap. Namun saat dia terbangun hanyalah kenyataan pahit yang ada bahwa Lala memang telah pergi dari kota ini dan ini bukanlah mimpi, tapi kenyataan.
*****
Satu tahun berlalu,
Dimas pun tersadar dari lamunannya, tentang kenangannya beberapa tahun yang lalu. Ya, pagi ini ia telah menjalankan ujian skripsi, satu tahap untuk mendapatkan gelar sarjana. Jabatan tangan teman-teman Dimas hadir yang menyaksikan dari luar ruangan menyudahi ujian tersebut. Ujian skripsi addalah ujian yang tertutup dan hanya Dosen pembimbing dan Dosen penguji yang berada dalam ruangan dan Dimas pun dapat tersenyum lebar karena dia mendapatkan nilai A.
       “Dimas Prasetyo Adi, selamat yah” berkata Desi yang hadir di ujian skripsinya dan dari tadi menyaksikan dari luar.
         “Makasih Des... jawabnya sembari tersenyum. 
        “Oh iya ini ada titipan buat kamu dari seseorang” berkata Desi sambil mengulurkan tangannya yang membawa sobekan kertas yang terlipat.
        “Dari siapa ini?” tanya dimas yang terheran-heran.
        “Buka saja kamu pasti tau,..” jawab Desi sembari tersenyum-senyum.
Dan dia pun membuka sobekan kertas tersebut dan mambacanya:
        Buat kak Dimas.
       Selamat yah atas ujian skripsinya, satu rintangan telah terlewati, dan satu tahap lagi menuju gelar sarjana, Semangat !
        Dan lebih kaget lagi saat tau siapa pengirimnya. Dari sobekan kertas itu tertulis bahwa pengirimnya adalah Lala, seorang yang sangat dirindukannya, pandangan matanya pun sekilas tertuju pada jendela di ruangan itu dan melihat samar-samar Lala berdiri di depan tempat itu dengan senyum penuh kerahaman khasnya, namun ketika ia lari-lari kecil menuju tempat Lala tadi berada, ia sudah tidak ada di sana, apakah apa yang dilihatnya tadi hanyalah sebuah ilusi. Apakah sobekan kertas itu hanyalah kebohongan Desi?, dan Desi berniat mengerjai dirinya, karena dendam setelah diputuskan cintanya setahun yang lalu? entahlah.
Ia pun berjalan lesu meninggalkan ruangan tempat ujian skripsinya, dan tanpa ia sadari kini ia berjalan menuju kelas tempat pertama kali ia menganal Lala. Tiba-tiba ia pun berhenti dan perlahan-lahan memuka pintu kelas itu.
        “Ahhh,....sebuah kenangan lama. Ya, pasti apa yang dilihatnya tadi hanyalah ilusi, bukankah Lala sendiri yang mengatakan bahwa harapannya untuk hidup sudah tipis” Dika pun meninggalkan kampusnya dengan senyum karna mengingat kenangan indahnya bersama Lala.
*****
         "Aku ingin mencintaimu dengan sederhana...
Seperti kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu...
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana...
Seperti isyarat yang tak sempat dikirimkan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada..."
Itu adalah kata-kata cinta seorang Sapardi Djoko Damono dan aku tak ingin seperti Kahlil Gibran yang sampai akhir hidupnya ia tak mempunyai keberanian untuk mengutarakan perasaan kepada wanita yang sangat dicintainya, dan meninggal dengan rasa kecewa,..
“Dan aku pun seperti itu. Ya, namaku adalah Dimas, seorang yang tidak mempunyai keberanian untuk mengungkapkan perasaan dan kini menyesalinya”. pikir Dimas.
Hari ini Dimas tengah duduk menyendiri membaca dan memilih-milih buku di sebuah toko buku tempat dia dan Lala biasa membeli ataupun untuk melihat-lihat komik Jepang favoritnya. Namun akhir-akhir ini dia lebih senang membeli buku-buku novel dan motivasi. Baginya komik-komik Jepang hanya akan mengingatkan ia dengan Lala, bukankah dia harus berusaha melupakannya, walau kenangan-kenangan indah bersamanya tidak akan pernah terlupakan.
Entah kenapa menurutnya toko buku selalu bisa membuatnya melupakan sedikit kesedihan, masalah dan kepenatan. Menurutnya mengunjungi toko buku lebih menyenangkan dari pada menonton filem di gedung bioskop. Baginya toko buku selalu menghadirkan ketenangan walaupun banyak orang-orang yang berlalu-lalang di sini.
         “Maaf mau tanya, kalau mau nyari komik Zengki edisi terbaru di mana yah?” ujar seseorang yang berdiri di depannya dan membangunkan dari lamunannya.
         “Kalo Komik cari saja di belakang tempat ini...” jawab Dimas dengan pandangan mata yang masih tertuju pada buku yang sedang dibacanya. Namun dia merasa tak asing dengan suara itu dan perlahan-lahan menengadahkan kepala untuk melihat siapa lawan bicaranya tersebut, dan dia pun tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
         “Lala kamu sudah sembuh? kapan datang? dan bagaimana kabarmu? ahhh tidak ini pasti mimpi dan lagi-lagi aku pasti berhalusinasi” berkata Dimas dengan nada memburu.
         “Iya kak, ini aku, dan aku nyata bukan ilusi. Dokter telah berhasil melakukan pencakokan jantung, dan saya sudah dinyatakan sembuh oleh dokter...” berkata Lala dengan mata yang berkaca-kaca dan senyumnya yang khas.
         “Jadi apa yang aku lihat di ujian skripsiku..??” tanya Dimas tak kuasa menahan kegembiraannya.
         “Iya itu aku. Aku sudah  di kota ini sejak seminggu yang lalu” sejenak terdiam “Mulai semester depan aku akan kembali mulai kuliah dan kos di tempat yang dulu, rencananya aku pengim membuat kejutan buat kak Dimas” ujarnya dengan senyum yang mengembang.
         “Ahhh,..kamu La, ada-ada saja..” jawab Dimas yang sangat senang dapat melihat Lala kembali.
         “Kak Dimas, apa kamu pernah membaca sebuah syair dari sebuah buku Kumpulan Kata-Kata Bijak literatur penulis besar Indonesia??..Di situ ada sebuah syair yang sangat aku sukai”. Lala pun berkata dan kata-kata tersebut telah memecah rasa canggung yang hadir, karena mereka sudah lama tak saling bertemu.
         “Cintai aku dengan sederhana, maka aku akan mencintaimu penuh semesta” jawab Dimas dan Lala pun melanjutkan kata-kata tersebut.
         “Dan aku berharap orang yang mencintai aku dengan sederhana adalah kamu Dimas Presetyo Adi” berkata Lala dengan rasa malu-malu.
         “Jadi selama ini kita saling mencintai dan memendam perasaan kita?” tanya Dimas dengan langsung memeluk erat Lala.
         “Kak Dimas,...lepasin ahh, kan malu dilihatin orang-orang” berkata Lala.
         “Aku gak peduli, aku ngak mau kehilangan kamu lagi” setelah beberapa lama memeluk, perlahan-lahan Dimas melepaskan pelukannya dan berkata dengan berteriak
         “Lala aku sangat mencintaimu...!!!” sontak orang-orang yang berada di dalam toko buku itu pun terdiam dan mengarahkan pandangan ke arah mereka, dan mereka berdua pun tersenyum dan tertawa kecil setelah meninggalkan toko buku itu dengan bergandengan tangan.
-TAMAT-
Janganah sudah merasa berpuas diri terhadap sebuah keberhasilan,
Karna ujian yang sebenar nya akan hadir setelah itu  

Porwokerto,23 Mei 2012

1 komentar: